Setelah hampir 3 jam menempuh perjalanan, mereka pun akhirnya tiba. Frischa begitu takjub melihat suasana di desa yang begitu menyejukkan hati dan mata.
"Ayo semuanya, kita masuk." Ajak Bastian sambil membawa tas ransel milik Frischa.
Bastian menuntun mereka memasuki halaman sebuah rumah yang sederhana.
Tokk..
Tokk..
Tidak menunggu lama pintu itu terbuka menampakkan seorang gadis remaja yang manis.
"Kak Bastian." Ucap gadis itu kegirangan sambil berlari memeluk Bastian.
"Bunda, ada kak Bastian." Teriak gadis itu lagi memanggil bundanya.
Dari dalam rumah muncullah seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun.
"Hai sayang, ayo masuk nak." Ajak wanita itu.
Setelah masuk kedalam rumah itu, mereka pun di persilahkan untuk duduk.
"Delia, buatkan minuman untuk kakak-kakakmu ini yah." Ucap wanita itu meminta anaknya menyiapkan minuman.
"Siap bunda".
"Tante, maksud kedatanganku bersama teman-temanku ini ingin mengantar Frischa yang akan bekerja di sekolah tante nanti." Ucap Bastian pada Tantenya.
"Oh iya, selamat datang yah nak. Kenalkan Tante namanya Ratna. Tante ini adik dari mamanya Bastian." Ucap Tante Ratna memperkenalkan namanya.
"Hai Tante, aku Frischa. Dan ini sahabatku Willy dan Meta." Ucap Frischa memperkenalkan dirinya dan sahabatnya. Frischa, Willy dan Meta pun mencium tangan tante Ratna.
"Cantik yah, Bas." Ucap Tante Ratna tiba-tiba membuat Bastian salah tingkah. Frischa hanya menatap Bastian dan tante Ratna dengan bingung sedangkan Willy menatap curiga pada Bastian.
"Oh iya Tante. Kalau bisa Frischa nanti tinggal di sini dulu yah." Ucap Bastian pada Tante Ratna.
"Boleh-boleh saja. Tapi kalau Frischa tidak mau, nanti Frischa boleh tinggal di mes guru saja. Di sanapun ada 4 guru yang tinggal." Ucap tante Ratna.
"Aku sih dari tante saja. Yang penting aku bisa kerja Tante." ucap Frischa.
Setelah berbincang-bincang begitu lama, waktu pun menunjukkan pukul 1 siang. Tante Ratna pun mengajak mereka untuk makan siang bersama.
"Jadi bagaimana kalian bertiga. Mau menginap dulu atau langsung pulang?" Tanya tante Ratna ketika mereka sedang makan bersama.
"Kayaknya kita pulang dulu tante. Setiap hari Sabtu nanti kita ke sini. Biar bisa nginap." Ucap Bastian.
"Kalau aku nginap boleh tidak tante?" Tanya Willy tiba-tiba. Yah, pria itu merasa ia tidak bisa meninggalkan sahabatnya itu sendiri di desa orang.
"Tante sih dari kalian saja. Rumah tante selalu terbuka. Kalau kalian mau nginap, nanti kalian boleh tidur di kamar tamu. Biar Meta tidur bareng Delia dan Frischa." Ucap Tante Ratna dengan senyum.
"Makasih Tante." Jawab Willy.
Bastian hanya diam mendengar ucapan Willy pada Tante Ratna. Dalam hati ia merasa senang karena masih memiliki waktu semalam untuk bersama Frischa.
"Jadi kamu akan mencari pekerjaan di kota, sayang?" Tanya Tante Ratna pada Bastian.
"Iya Tante. Aku juga tidak tega meninggalkan mama sendiri di sini. Apalagi mama sekarang kesehatannya tidak baik, tan." Ucap Bastian.
"Syukurlah kalau begitu, nak. Tante senang mendengarnya."Ucap Tante Ratna pada keponakannya itu.
Waktu pun terus berjalan. Dan sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Jalan-jalan keliling desa, yuk Cha." Ajak Bastian pada Frischa ketika melihat Frischa berada di halaman depan rumah.
"Boleh. Kita ajak Willy sama Meta yah." Ucap Frischa.
"Will, ayo kita keliling-keliling desa ini." Ajak Frischa pada Willy ketika melihat sahabatnya itu sedang duduk bersama Meta dan Delia.
"Boleh. Meta, kamu mau ikut atau mau di sini?" Tanya Willy pada Meta.
"Aku ikut saja, Will." Jawab Meta.
Mereka pun akhirnya berjalan santai sambil menikmati keindahan di desa itu. Willy dan Meta sibuk berfoto ria bersama. Sedangkan Bastian dan Frischa terus berjalan menikmati keindahan alam di desa itu.
"Kayaknya aku bakalan betah tinggal di sini, Bas." Ucap Frischa tiba-tiba.
"Yakin?" Tanya Bastian dengan senyum.
"Yakin banget. Di sini aku pasti bisa sedikit melupakan masalah-masalah itu sejenak. Dan biar aku bisa cepat melupakan Evan, Bas." Ucap Frischa lirih.
"Kamu yang sabar, Cha. Aku tahu kamu wanita yang kuat. Aku akan selalu membantu ketika kamu membutuhkanku." Ucap Bastian sambil memegang tangan Frischa.
"Bas, boleh aku minta tolong?" Tanya Frischa.
"Boleh Cha. Apa?" Tanya Bastian.
"Kamu bantu aku menyelediki Evan. Dari kegiatannya di kampus sampai di luar kampus. Bisa?" Ucap Frischa dengan wajah penuh harap pada Bastian.
"Tanpa meminta pun aku akan melakukannya, Cha. Kamu terlalu berharga untuk di sakiti oleh pria bajingan seperti dia." Ucap Bastian dengan memendam emosi.
"Terima kasih, Bas." Ucap Frischa dengan tiba-tiba memeluk Bastian.
Bastian hanya terpaku di tempatnya ketika Frischa memeluknya secara tiba-tiba. Jantungnya berdetak lebih kencang, tetapi senyuman mulai terpancar dari bibirnya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat peristiwa itu merasa kecewa. Yah, yang sedang melihat mereka berpelukan adalah Willy.
"Ya Tuhan. Perasaan apa ini, kenapa aku begitu sakit melihat Frischa memeluk laki-laki itu. Kenapa harus Frischa? Hilangkan perasaan ini Tuhan. Aku tidak mau kehilangan Frischa." Lirih Willy dalam hatinya.
"Ehh...ma-maaf, Bas. Aku reflek saja." Ucap Frischa ketika melepaskan pelukannya dari Bastian. Frischa begitu kesal pada dirinya, kenapa dia bisa memeluk Bastian.
"Tidak perlu meminta maaf, Cha. Aku bahagia dipeluk oleh wanita yang aku cintai." Ucap Bastian.
"Ci-cinta?" Tanya Frischa tidak percaya mendengar ucapan Bastian.
"Iya, Cha. Aku mencintaimu." Ucap Bastian tegas.
Frischa hanya diam terpaku pada tempatnya. Ia begitu terkejut ketika Bastian mengatakan bahwa kalau dia mencintai Frischa.
*Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments