"Will, itu kan...? " Ucap Frischa sambil menunjuk ke arah depan sebuah toko perhiasan. Willy pun melihat ke arah yang di tunjuk Frischa.
Dengan sedikit emosi Willy pun turun dari mobilnya, diikuti Frischa.
Buuughhh ... Sebuah pukulan keras dari Willy untuk kekasih Frischa. Bagaimana Willy tidak emosi, Evan tengah terlihat menggandeng seorang perempuan **** dengan begitu mesranya.
"Dia siapa, Van?" Tanya Frischa dengan lirih pada Evan.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat sayang. Aku bisa menjelaskannya." Ucap Evan sambil meraih tangan Frischa.
"Tidak seperti yang aku lihat? Terus apa yang aku lihat sekarang ini? Kamu menghilang sudah lebih dari sebulan. Kamu tidak pernah memberikan kabar, bahkan membalas pesanku saja tidak. Van, tidakkah kamu tahu aku terpuruk sekarang. Papa dan Mama sudah mengusirku dari rumah. Sahabat-sahabat yang begitu aku cintai tega mengkhianati aku. Dan sekarang kamu pun ingin mengkhianatiku? Aku pikir kamu adalah lelaki yang baik, Van. Lelaki baik yang terus aku bela di hadapan semua orang termasuk orang tuaku dan keluargaku ketika mereka semua memandang rendah dirimu," Ucap Frischa dengan menahan tangisannya.
"Bahkan di saat Mbak dan mas mu melepaskan tanggungjawabnya untuk membiayai kuliah kamu, aku yang mati-matian meminta Papa untuk membantumu. Dan bahkan aku hampir memenuhi janjiku pada ibumu. Tapi apa yang aku dapatkan? Kamu tega, Van. Kamu jahat," Ucap Frischa lagi. Ia kemudian membalikkan badannya untuk berlari. Yah, Frischa benar-benar tidak menyangka. Orang yang begitu dia cintai dan dia harapkan untuk membantunya dalam masalahnya tega mengkhianati kepercayaannya.
Melihat Frischa berlari dengan menangis, Willy mengejarnya. Ia meraih tangan sahabatnya dan memeluknya. Ia membiarkan Frischa menangis dalam pelukannya.
"Menangislah Frischa. Aku akan ada buatmu. Setelah ini jangan pernah lagi kau menangis untuk lelaki bia**p itu," Ucap Willy sembari mengusap kepala sang sahabat.
Setelah menyelesaikan tangisannya, Frischa mengusap airmata. Ia kemudian memandangi sahabat lelakinya itu.
"Will, bantu aku untuk membalaskan perbuatan mereka dan bantu aku agar bisa membuktikan ke papa dan mama kalau semua tuduhan itu tidak benar," Ucap Frischa kepada Willy.
"Baiklah, ayo kita segera ke kos barumu. Setelah itu kita pikirkan langkah selanjutnya. Aku akan selalu ada untukmu." Ucap Willy dengan senyuman.
Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke kos baru Frischa.
Frischa dan Willy sudah tiba di kos yang akan ditinggali Frischa. Mereka pun segera bertemu dengan temannya Willy untuk bertemu dengan pemilik kos. Setelah bertemu dengan pemilik kos, mereka pun menuju ke kamar kos yang akan ditempati Frischa.
"Will, makasih banyak yah kamu udah mau bantuin aku. Aku tidak tahu lagi harus kemana kalau kamu tidak ada. Maaf sudah merepotkanmu," Ucap Frischa pada Willy.
"Frischa, kita berdua udah sahabatan dari kecil. Dan tidak mungkin aku membiarkan kamu sendirian seperti ini. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Tetap berdoa, selalu andalkan Tuhan," Ucap Willy sembari tersenyum lembut ke arah Frischa.
"Sekali lagi makasih Will. Yah, sekarang aku akan memulai semuanya dari awal lagi. Yang harus aku lakukan pertama adalah mencari tahu kebenaran tentang semua ini. Bantu aku Will," Ucap Frischa dengan tersenyum kecut.
"Aku akan selalu siap membantumu."
Willy pun pamit untuk pulang. Ia sudah berjanji untuk membantu Frischa menyelesaikan semua permasalahan itu.
* Keesokan harinya ....
"Lena, untuk saat ini kita jangan dulu bertemu yah. Aku masih membutuhkan Frischa untuk menyelesaikan kuliahku. Minimal kamu bersabar sampai aku wisuda. Aku masih membutuhkan tenaga dan uang dari Frischa," Ucap Evan pada kekasih gelapnya dengan senyuman sinis.
Yah, ternyata 3 tahun bersama Frischa itu hanyalah sebuah trik Evan untuk bisa kembali berkuliah.
Evan adalah mahasiswa teknik yang hampir di DO hanya karena tidak pernah mengikuti perkuliahan dengan baik dan tidak pernah membayar uang kuliah. Karena Evan masuk dalam Organisasi Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) di kampus mereka. Sebenarnya Evan adalah seorang mahasiswa yang memiliki bakat dan juga cukup pintar. Tetapi karena ia banyak menghabiskan waktu di organisasinya sehingga perkuliahannya pun terbengkalai.
Evan dan Frischa pertama kali bertemu karena di kenalkan oleh teman kampus. Awalnya Frischa tidak terlalu menanggapi semua pesan dari Evan. Kedekatan mereka mulai terlihat ketika Frischa mendapat tugas dari dosennya untuk mengedit video mengajarnya. Dan akhirnya Frischa meminta bantuan Evan. Dari sinilah awal kedekatan mereka.
"Kak, kapan sih kakak akan memutuskan perempuan itu? Aku tidak mau sembunyi-sembunyi seperti ini. Kakak butuh uang, aku bisa memberikannya. Kakak bilang tidak mencintai perempuan itu, tapi mengapa kakak tidak pernah mau memutuskannya?" Tanya Lena pada Evan dengan sedikit kesal.
"Tidak sayang. Aku tidak bisa memutuskan Frischa. Pertama, dia itu kesayangan ibu. Aku akan memutuskannya tepat di saat aku sudah wisuda. Kan aku cuman cintanya sama kamu," Ucap Evan dengan mencium pipi Lena.
"Janji yah kak."
Evan hanya tersenyum pada Lena.
*..........
"Hallo Will, kamu di mana? Bisa tidak kami ke kos dulu. Ada yang mau aku sampaikan," Ucap Frischa pada Willy melalui telepon.
"Iya Frischa. Aku segera kesana."
Setibanya di kos Frischa, Willy langsung menuju ke kamar kos Frischa dan mengetuk pintu.
Tokk!!
Tokkk!!
"Eh Will, ayo masuk." Sapa Frischa sembari membukakan pintu untuk sahabatnya.
"Apa yang mau kamu katakan?" Tanya Willy ketika sudah berada di dalam kosnya Frischa.
"Semalam aku mendapat WA dari Reni dan yang lainnya lagi. Mereka tetap menuduhku mengambil uangnya Mbak Icha." Ucap Frischa sembari memberikan bukti chat Reni kepada Willy.
"Reni bilang katanya mereka sudah ke orang pintar. Dan kata orang pintar itu, aku yang ngambil Will. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Frischa lagi.
"Balaslah kepada Reni. Katakan kita akan melakukan sidik jari di tas milik mbak Icha. Kalau tidak ada sidik jari kamu, kita bisa melaporkan mereka ka kantor polisi." Ucap Willy dengan geramnya.
"Will, aku ingat. Waktu acara lamaran Reni. Yang berada di dalam kamarnya Reni bukan hanya aku. Ada Anjela, teman kerja Reni dan sepupunya Reni. Bahkan selama di rumahnya Reni aku sama sekali tidak pernah memegang ataupun melihat uang yang mereka katakan itu," Ungkap Frischa dengan nada yang lirih.
"Kamu tenang saja Frischa. Aku akan membantumu mencari buktinya."
"Kamu sudah makan?" Tanya Willy pada Frischa. Tetapi ia hanya mendapat gelengan kepala dari Frischa.
"Kamu harus makan. Kalau kamu begini terus, kamu tidak akan mendapatkan jalan keluarnya. Ayolah, kemana Frischa yang aku kenal. Jangan biarkan mereka melihatmu terpuruk seperti ini. Kamu harus bisa buktikan ke semuanya, bahwa apa yang mereka tuduhankan itu tidak benar," Ucap Willy penuh harap.
"Baiklah. Aku akan makan, Will." Ucap Frischa dengan senyuman manis.
Setelah urusannya dengan Willy selesai, Frischa keluar dari kos untuk membeli beberapa peralatan masak dan bahan makanan. Ia berjalan kaki karena jarak antara kos dan supermarket tidak terlalu jauh.
Setelah berkeliling mencari peralatan masak, Frischa pun mendorong troli ke arah bahan makanan. Tiba-tiba tanpa sengaja Frischa menabrak seseorang...
"Ka- kamu ....," Ucap Frischa kaget.
*Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
anselmus damares
mantap athor❤❤
2023-10-31
0
paulina
Inilah kenapa saya suka baca, karena ada novel seperti ini!
2023-10-13
1