Pagi menyambut hari, seperti biasanya.
" Nduk, bangun. "Mbok Yem, kembali mengetuk pintu.
Ketukan itu, membuat aku bangun. Meregangkan tanganku. Bergegas menuju kamar mandi di lantai dua. Membuka plastik besar, berisi seragam yang kemarin diberi dari Rio. Mengambil buku kosong diatas meja, dan bergegas turun. Membawa tas yang ditaruh diatas pundak.
" Pagi, mbok. " Aku menyapa mbok, sedang meletakkan bakul dengan isi nasi goreng.
"Iya, nduk." Mbok Yem mengangguk. Kemudian berbalik badan, melanjutkan aktifitas di dapur.
" Wah, nasi goreng. " Aku menarik kursi, setelah melihat hidangan di meja ini. Aku ikut tersenyum. Meletakkan tas di bawah, langsung menyerobot makan.
Rio ikut menuruni anak tangga.
Ikut mendatangi meja makan. Menarik kursi, kemudian mendudukinya.
" Cocok juga bajunya. " Gumam Rio Dewantoro, memperhatikan Abimana, asyik mengunyah sesuap nasi.
Aku menoleh, " Ha? Kenapa? "
Rio menoleh ke pandangan lain. "Tidak."
" Oh, yasudah. " Angguk Abimana, melanjutkan sarapan hari ini.
Sepuluh menit, setelah kami berdua menyelesaikan sarapan hari ini, aku dan Rio segera berangkat. Meninggalkan Mbok Yem, di rumah.
Seperti biasa, Rio dengan motor miliknya mulai dikeluarkan. Aku ikut menaiki, duduk di belakang dirinya. Mengenakkan helm keselamatan. Mesin kembali dinyalakan, dan kami segera pergi.
Angin kencang menerpa wajahku, saat kami melanjutkan cepat dengan kecepatan tinggi. Melesat, menghindari mobil-mobil di depan juga disamping kami. Satu per satu mulai terlewatkan.
" Pegangan. " Rio berteriak, dari balik helm. Saat jalanan didepan tak begitu ramai, motor mengebut cepat.
" PELAN-PELAN! " Aku tertatih menyebut.
Motor tak berhenti mengebut. Kecepatan semakin bertambah. Aku membungkuk badanku, memegang pinggang dirinya. Menutup mata, erat. " Semoga ini hanya mimpi. "
Hanya beberapa menit, motor yang dinaiki olehku kembali normal. Kecepatan dikurangi.
Kami sampai pada gerbang masuk Sma Negeri Garuda 113.
Aku menuruni dari motor itu, mengikuti Rio, yang menuntun menuju tempat parkir. Dengan penutup atap yang disediakan. Tempatnya tak jauh dari gerbang utama tadi.
" Ayo masuk. " Ajak Rio.
Kami melewati lapangan sekolah. Gersang, itu kalimat pertama yang dilihat oleh Abimana, sewaktu melintasi. Hanya tanah kering, tidak ada penyiraman. Juga, patung kepala sekolah, masih terpampang disana.
" Ayo pergi. Aku akan membantumu menemui Guru disana. Akan ada Pak Aleks yang nantinya memberitahumu sesuatu. "
" Oke. "
Kami segera menuju gedung yang terpisah. Bangunan dua lantai, berada di dekat gedung A.
Kami, berjalan masuk. Mendorong pintu kaca dihadapan. Lalu, menutup lagi.
" Selamat Pagi. Ada yang bisa dibantu? . " Ucap dua perempuan, bersikap ramah, kepada kami.
Rio menghampiri, " Kami ingin bertemu Pak Aleks. " Aku turut mendatangi meja lobby, disamping Rio.
" Oke, mohon ditunggu. " Perempuan tadi mulai membuka telepon, menekan nomor yang dituju. Mendekati ke kupingnya.
Aku mendengarkan obrolan yang tersambung.
" Silahkan masuk. Pak Aleks ada didalam ruangan. Tempatnya ada di lantai bawah. "
" Terimakasih. " Rio mengangguk, kemudian meninggalkan tempat. Aku mengikuti langkah temanku.
Rio segera mendorong pintu kembali.
Ruangan di dalam sangat ramai. Guru-guru berlalu lalang, sibuk mengerjakan pekerjaan. Merangkul dokumen tebal. Ada yang mulai mengetik-ngetik di depan laptop. Yang lain membaca file ataupun kertas-kertas yang menumpuk di sisi meja.
" Itu dia. "
Aku ikut menatap yang dilihat di depan.
" Selamat pagi, Pak. " Sapa Rio, baru sampai di meja.
" Oh, ya, ya. Kamu yang kemaren itu. Mana muridnya? "
Rio menunjuk kepadaku, "Ini pak, yang hari ini akan bergabung."
Pak Aleks, menoleh. Alisnya ikut mengerut. Wajahnya memajukan, sedikit. "Dia, yang mau gabung ke kelas?"
" Iya Pak. " Jawab Rio, keheranan.
" Hmmm... "
" Kenapa Pak? " Aku bertanya. Keringat mulai mengucur dari dalam keningku.
" Eng-gak. Gapapa. " Sangkal Pak Aleks.
" Jadi... Sekarang bisa kan, ya pak? "
" Iya. Nanti bapak antar.
Bel berbunyi. Pertanda pelajaran pertama segera dimulai.
" Sudah. Sana kembali ke kelas. Biar bapak urus temanmu. "
" Ya pak. "
" Sampai bertemu nanti, Bim. "
Rio berbalik arah, meninggalkanku sendirian bersama para guru di dalam ruangan. Kami harus berpisah sementara disini.
Rio melangkah memasuki gedung A. Menaiki tangga, masuk kedalam kelas Ipa.
Kembali lagi.
" Namamu Abimana Dwisasana? . " Pak Aleks bertanya, dengan posisi duduk sambil membaca berkas.
" Iya Pak."
" Oke lah. " Angguk Pak Aleks, mengerti.
" Jadi... saya akan masuk kelas mana Pak? "
" Kemarin, bapak sudah berdiskusi sama temanmu, dan hari ini kamu akan masuk kelas XI IPA. Jadi ya, persiapkan dirimu disana."
" Baik Pak."
" Oke, itu saja. Ayo berangkat. " Pak Aleks berdiri, meninggalkan meja nya. Aku ikut berdiri, di samping.
Kami berjalan memasuki Gedung A. Tempat dimana Abimana sewaktu itu dirawat disini.
Memandangi kedua penjaga disana. Sama seperti waktu pertama Abimana menjejakkan kaki disini.
" Selamat Pagi, Pak Aleks. "Kompak kedua petugas, menyapa.
" Pagi, juga."
" Eh? Bukannya dia murid yang pernah dirawat disini? Sekarang bersama Pak Aleks. " Salah satu petugas itu, asyik mengobrol kecil, saat setelah kami melintasi mereka.
Rasa penasaran muncul di pikiranku. Dengan langkah kaki, yang menaiki anak tangga. Perasaan aneh muncul begitu saja.
Kami berdiri di dekat pintu.
" Kamu tunggu sini. Nanti jika saya panggil, kamu segera masuk. "
" Baik, Pak."
" Bapak masuk dulu. " Pak Aleks membuka pintu, lalu menutup pintu lagi.
Aku berjalan kecil, mondar-mandir.
Dari dalam kelas.
" Selamat Pagi, semuanya. " Pak Aleks mendatangi meja didepan. Berdiri, di- hadapan puluhan manusia yang mendengarkan dirinya.
" Pagi, pak." Sahut beberapa murid, menjawab.
" Oke. Semuanya tenang. "
Puluhan murid yang tadinya berisik, saling sibuk sendiri, mulai tenang. Kembali ke tempat masing-masing. Kecuali bangku kosong di belakang Rio.
" Hari ini, kita ada kedatangan murid baru. "
" Murid, baru? " Tanya Tristan, berbicara sendiri.
" Ayo, masuk. " Suruh Pak Aleks.
Aku yang mendengar perintah Pak Aleks, dari dalam, mulai membuka pintu. Berjalan pelan, sambil memegang tas yang kubawa.
Tristan melihatku, ikut terkejut. Pupil matanya ikut membesar.
"SELAMAT PAGI, SEMUANYA."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments