Suster Rayna

Angin bertiup tak besar, dari tempat kami bertemu.

Rio Dewantoro menatap datar, dengan senyuman kecil ter-ukir di wajahnya yang tampan. Melepas Anjani Lesmana Dewi untuk menemui seseorang dihadapan. Ekspresi wajahnya mulai disembunyikan lagi. Dia, sekali lagi mengamati kedua murid itu, saling berpelukan.

" Maafkan aku, yang telah meninggalkanmu waktu itu."

Aku mendengar kebingungan. " Tunggu, bagaimana aku bisa mengenalmu?" aku memegang kuat, tubuh Anjani yang ikut kaget. Setelah kami selesai berpelukan.

" Kamu kenapa?" Anjani terkejut. " Mengapa jadi begini, sikapmu?" Matanya ikut melotot, berkaca-kaca.

Abimana semakin menggoyangkan tubuh Anjani, ke depan-belakang dengan cepat. "Darimana kau tau namaku? Siapa sebenarnya kamu itu? jawab pertanyaanku ini." Abimana terus menerus memaksa gadis itu.

Anjani terus menangis.

Rio Dewantoro yang melihat kami berdua, mulai berlari. Memegang tanganku, " Hei, lepaskan dia. Jangan membuatnya takut, Bim."

Aku semakin tak mengerti dengan diriku. Melihat telapak tanganku yang kemerahan, dengan tangan bergerak sendirian.

" Kau tak apa, An?" Rio memeriksa pergelangan tangan Anjani Lesmana Dewi.

" I-iya, aku baik-baik saja." Angguk Anjani, tersenyum tipis.

Rio kembali melirik tajam, " Sekali lagi, kau menyakiti gadis ini lagi, aku tak segan untuk berkelahi denganmu, Bim." Rio Dewantoro menunjuk kepadaku.

Pertikaian dengan Rio Dewantoro, membuat kepala ku kembali nyeri. Terasa berdenyut sakit beberapa kali. Pandangan yang dilihat Abimana Dwisasana menjadi agak buram, terutama mereka berdua yang saling merangkul satu sama lain.

" Kau tak apa, Bim? Tanya Anjani, mulai mencemaskan Abimana yang menjauhi kami.

Aku menjauh dari mereka. " ja-jangan ganggu aku." Sambil melangkah mundur, menjauhi.

Hanya beberapa langkah saja, pandanganku telah buram, gelap. Secara tak sadar, aku terjatuh dari tempat ini. Tergeletak jatuh, mengenai tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau.

" Bim! Bima! " Anjani berteriak.

Aku mengedipkan kelopak mataku, pelan. Melihat Anjani yang menjatuhkan diri. Rio Dewantoro ikut berlari menuju arahku. "Aku belum mengenalmu lebih jauh lagi, tetapi aku bisa merasakan adanya ikatan kuat diantara aku dan kamu. " Abimana Dwisasana memejamkan matanya. Perlahan.

" Bim!? Bangun, Bim!" Rio menepuk cepat, tubuh Abimana yang terbujur pingsan. Tetap saja, dengan cara apapun, dirinya tak bisa sadar.

Suara-suara memanggil dari Rio Dewantoro, mulai samar. Menghilang dari kedua telinganya.

»»--⍟--««

Sore hari, yang mulai gelap perlahan.

Ruang perawatan, kini kembali ter-isi, dengan satu pasien yang mengisi tempat ini.

Rio terlihat berdiri di dekat pintu Uks. Menyilangkan kedua tangan, mengamati Suster yang sibuk bertugas.

" Bagaimana kondisi-nya, Sus?" Anjani bertanya, di depan suster " Suster Rayna" yang terpasang di baju itu. Mengecek kedua mata Abimana dengan senter kecil yang dibawanya.

" Teman kamu itu, mengalami dehidrasi yang cukup parah, ditambah rasa sakit dari kepalanya itu belum sembuh. Dia asal kabur dari ruang perawatan. Lukanya sudah saya obati, juga perban- nya sudah saya ganti. Untuk saat ini, akan saya pantau lagi perkembangan nya. " Suster menambahkan.

" Baik, Sus. Terimakasih banyak." Anjani membungkuk kecil, dari tempat duduknya.

Suster Rayna bergegas menuju pintu keluar. Kemudian berbalik badan, melihat kami yang menunggu Abimana yang terbaring lemah di kasur."Kalian tidak pulang? Sudah hampir malam. Lebih baik kalian berdua pulang saja. Untuk masalah ini, suster akan menjaga temanmu ini."

Anjani menoleh Rio Dewantoro sekilas. " Kamu mau pulang apa tinggal? "

" Kita harus pulang, An. Baru saja ibumu chat padaku, untuk segera mengantarmu pulang. " Ajak Rio, setelah bermain ponsel.

" Tapi, itu..." Sambung Anjani, terlihat ragu.

" Sudah, sudah. Kalian berdua pulang saja. Suster akan berjaga disini. " Senyum Sus Rayna kepada Anjani yang sedikit menunduk kepalanya, kepada Anjani.

" Ayo, pergi. " Sahut Anak lelaki mulai menggopoh tas yang dibawanya,

" Eh, tapi.... "

" Pergilah. Orang tuamu cemas menunggu dirumah. "

" Baik Sus, aku titip temanku. "

" Iya. Pasti kok. " Balas Sus Rayna, ramah.

Anjani berjalan menghampiri pintu itu. Pintu mulai terbuka. Mempersilahkan mereka untuk meninggalkan Abimana yang sendirian.

Saat akan menutup pintu, Anjani sekilas melirik Abimana yang tertidur pulas di kasur. "Jaga dirimu, Bim. " Ucap dalam hati Anjani, yang paling dalam.

Dan, menutup kembali.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!