Tugas Khusus Rio Dewantoro

Abimana menyelesaikan makan siangnya hari ini. Menepuk sekali kedua tangan yang disatukan. " Terimakasih makanan untuk hari ini. " Bibirnya ikut melengkung keatas.

Dirinya mengulurkan tangan, memungut sisa makanan yang berserakan. Noda di meja ikut dibersihkan dengan lembaran tisu yang disiapkan.

" Jorok juga, makan sampai kemana mana, " Pinta Abimana yang sibuk mengelap meja di hadapan.

Semenit berlalu, akhirnya selesai membereskan. Rantang makanan disatukan dengan lainnya.

" Saatnya memanggil suster, " Abimana mengambil remot di sisi kasur itu.

"Klik!"

Bunyi tombol remote yang ditekan dengan jempol, seketika berfungsi.

Semenit kemudian, suara roda yang memekik, semakin lama semakin terdengar jelas.

" Kreeek! " Pintu kayu perlahan terbuka.

Suster tadi kembali memasuki ruang UKS. Bermodal senyuman dibalik masker, dia membawa troli kosong.

Petugas tadi mendatangi ranjang Abimana, dengan mendorong troli. Mengangkat bekas makanan ke dalam tempat itu.

" Sus, kapan saya bisa pulang? " Tanya Abimana.

" Besok kamu bisa keluar. Untuk obatnya, segera suster siapkan. "

" Oke, makasih sus. " Abimana menjawab pendek. Menatap selimut dengan perasaan sedih. Wajahnya tak se-riang tadi.

Suster yang melihat murid itu, tak menjawab. Meninggalkan dia di dalam ruangan, sambil menggeret troli itu. Menutup pintu kembali.

" Esok hari aku harus keluar dari tempat ini. Rasanya nyaman layaknya dirumah, tapi... Kemana aku harus tinggal selanjutnya? "

Dia melamun menatap langit kamar, "apa yang akan aku lakukan besok? " Menghirup nafas lelah.

Fikiran dia semakin terlarut, sampai tak sadar sesuatu terjadi.

" Duh, kenapa jadi kebelet pipis. " Abimana menggenggam kasur itu. Kakinya ikut menjejak, tak tahan lagi.

Tanpa lama, dia bangun perlahan. Dengan posisi duduk, tegak. Berpegang tangan di sisi kasur itu. Menepis selimut yang digunakan. Menyelaraskan kedua kaki bergerak menyentuh lantai UKS.

Dingin. Itu yang pertama kali dia rasakan setelah seharian tak pernah berjalan lagi. Menghabiskan waktu di ranjang.

Aku memakai slipper sandal UKS di samping.

" Ayo, bisa! " Aku meneguk air liur.

Aku berpegang tangan di sisi kasur itu. Menggengam kencang.

"Hap!"

Tubuhku mulai berdiri kokoh, tegak. Menyeimbangkan posisi. Sampai tak sadar, aku melepaskan kepalan tadi. Ruam merah muncul dari telapak tangan.

Kaki ku bergerak melangkah, meninggalkan ruang UKS.

" Kreeek! "

Ruangan ini kembali hening. Hanya deritan kipas yang Berputar-putar dan AC yang jendela yang dimasuki angin lalu.

»»——⍟——««

Gedung A, kelas IPA.

" Oke, sampai hari ini saja pembelajaran kali ini. Silahkan dibaca lagi materi untuk minggu depan." Guru kimia menjelaskan dalam papan tulis.

" Yahhh... " Seru beberapa murid yang lelah belajar.

" Terimakasih semuanya. Selamat Siang menjelang Sore. " Senyum pendek menyertai guru kimia. Merapikan beberapa buku yang tergeletak, merangkul, pergi menjauh.

Pelajaran hari ini berakhir.

Kelas Ipa menjadi ramai kembali. Riuh tak terkendali. Semuanya kembali dengan aktivitas masing-masing.

Rio melirik bangku depan. Kosong, tidak ditempati. Tentu saja milik Tristan yang tak kunjung kembali dari tempat ayahnya itu.

Setelah kejadian penggeretan bu Veronica oleh dirinya, entah apa yang dia lakukan lagi di kelas.

Rio kembali melamun.

" Murid itu! Aku harus mengeceknya lagi. " Batin Rio, mengangguk paham.

Waktu yang pas untuk sekedar melarikan diri dari kenyataan pahit.

Sejejal langkah dia lewati. Menuruni anak tangga tepat di samping kelas. Sangat menguntungkan, jika terjadi gempa bisa langsung jalan kebawah tanpa harus desak-desakan dengan orang lain.

Dia sampai, di depan tangga ini.

Sebenarnya ada dua tangga yang menghubung ke lantai dua dan tiga. Di bagian pojok dan satu lagi berada tepat di samping lobby gedung A.

Kakinya mengendap-endap. Melewati area UKS.

Dirinya sampai di depan pintu UKS, tempat anak itu dirawat.

Rio mengintip sedikit dari balik kaca kecil. Menggunakan kedua tangan yang dibuat seolah seperti teropong. Tidak ada tanda tanda kehidupan di dalam.

" Kosong? Dimana dia? " Rio membungkuk sedikit.

Dilain itu...

" Lega juga. " Aku menghela napas bahagia.

Ruang kamar mandi kembali tertutup rapi. Perasaan senang hadir di wakah yang berbahagia.

" Bukan saatnya bahagia. Aku harus berpikir, dimana aku akan tinggal. "

Aku memikir sendiri dalam perjalanan kembali ke UKS. Menatap mata ke bawah, menendang kerikil kecil di depan.

Namun, langkah Abimana terhenti oleh seseorang di depan. Melihat gerak gerik mencurigakan dari seorang murid, membungkuk dan mengintip dari balik kaca.

" Siapa dia? " Aku mengangkat salah satu alisku.

Segera, Abimana menghampiri. Berdiri tepat di depan tubuh murid lelaki ini.

" Kamu siapa? " Tanyaku kepada anak laki-laki.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!