Lorong sekolah Gedung A, tempat Abimana dirawat di sana dengan suster Rayna yang berjaga. Merawat pasien sepenuh hati.
Cahaya yang tak begitu terang, membuat Abimana terpikir sesuatu akan sosok murid, dengan gaya ingin merampok barang berharga, di dalam ruangan di depan mata.
"Kamu siapa? " Tanya Abimana, kepada anak laki-laki yang mengendap-endap. Sedikit membungkuk kecil, dengan sepatu yang ikut berjinjit.
Abimana berdiri, tepat dibelakang punggung murid yang mengintip. Kedua tangan itu seolah meneropong sesuatu dari kaca pintu.
Rio segera berbalik cepat. Agar tidak menimbulkan spekulasi aneh-aneh lainnya.
"Sedang apa kamu? Mengintip begitu. " Tanya Abimana, menaruh kecurigaan besar terhadap salah satu siswa di lorong ini.
Betapa terkejut Rio Dewantoro, menatap anak yang dicari. Napasnya terengah-engah melihat apa yang dilihat itu.
"Tidak mungkin dia bisa hidup kembali! " Batin anak itu yang refleks jatuh begitu saja. Matanya ikut melebar. Menganga tak percaya, yang dilihat. Secara tak sadar, menyumpal mulut itu dengan tangan yang tergerak.
Rio mengatur nafas yang tersendat "...itu pasti halusinasiku saja, " sambil mengamati lantai-lantai UKS. Menggeleng tak percaya, yang selama ini, dia cari ada di depan matanya langsung.
" Kenapa denganmu? Kau tak apa?" Aku memegang pundak dirinya. Membungkukkan diri, dengan kepala agak dimiringkan.
Rio Dewantoro mengangguk paham. Dengan sadar, sedikit melirik wajah untuk memastikan kembali yang dilihatnya jika memang benar, itu wajah Abimana.
"Ayo bangun. " Abimana mengulur lengan kanan, kepada lelaki tadi. Berat, kurasakan setelah menarik dia. Walaupun badannya memang tidak terlalu gemuk, tetap saja aku agak kesusahan menggerakkan.
Dia menggenggam telapak ku. Sangat kuat rasanya, seperti batu yang digenggam, kemudian di lempar ke tempat lain.
Kami berdua kembali berdiri, saling membantu.
"Kau tadi mencari siapa? Sepertinya yang kau cari sangatlah penting, sehingga kau tak ingin meninggalkan temanmu itu. " Aku bertanya.
" O-oh, b...bukan. Hanya mencari suster saja. " Rio berkeringat kecil.
"Suster? kau cari suster sejak tadi?"
"Kenapa?"
"Heran saja. Kalau cari suster, seharusnya tidak disini. Sejak tadi aku mengawasi gerak-gerik mencurigakan darimu. Seperti maling mau ambil barang." Abimana menyipitkan mata. "Suster saat ini, ada di ruangan pribadi. Katanya sih, di gedung B. Kau bisa ke sana sekarang."
" Ru-rungan pribadi? Okelah. " Senyum Rio.
" Tapi...tak seharusnya kau mengintip dari sini. Kenapa kau tak menunggu di dalam? Bisa-bisa kau ditangkap karena gerak-gerik mencurigakan. "
"Tidak. Aku hanya suka yang cepat saja."
" Okelah, kalau itu maumu. "
" Omong-omong, kenapa dengan dahi mu? " Rio menunjuk kepada dahi yang terlilit perban.
" Eung...hanya kecelakaan biasa. Tidak terlalu serius dengan lukanya. " Aku tertawa, sambil mengelus rambutku
Rio Dewantoro bercakap dalam batin, "Kau masih saja seperti dulu, Bim. " Secara tak sengaja, dia mulai tersenyum kecil.
" Okelah. Aku pergi. " Abimana membuka gagang pintu. Menyahut dengan mengangkat tangan kanan.
" Oh, oke. " Aku mengarungi jempol. Memberi senyum kepada Abimana yang perlahan memasuki bangsal UKS.
Dia menutup kembali pintu tadi. Menutup rapat, dengan bunyi "klik."
Rio Dewantoro ikut memperhatikan dari balik kaca, dari sini. Air mata tak sengaja mulai menggenang.
" Kenapa aku ini? " Rio mengusap, pelan.
Setelah itu, Rio ikut meninggalkan UKS itu. Setelah mengetahui anak itu adalah orang yang menghilang setahun yang lalu, Rio mulai memberitahu kepada Anjani, teman kami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments