Masih didalam bangsal UKS, sendirian. Hanya suara suara disekitar Abimana, menemani dia beristirahat.
Siapa itu?! ", tanya Abimana yang terbaring di ranjang, penuh kekhawatiran. Melihat sekilat bayangan orang dibalik pintu rapat. Langsung menghilang begitu saja.
Matanya terus saja tak berkedip, kepada sebuah pintu di ujung yang melekat tutup. Seolah wajah Abimana juga ikut mengkerut sebal.
" Apa apaan tadi? Mengerikan, " Perhatian dia dialihkan kepada kuah sayur dimeja itu.
Dia menyeruput beberapa kali sampai kuah itu tersisa sedikit. Tak lupa menyisipkan untuk nanti, mengganti menu dengan nasi panas beserta lauk yang terhidang diatas, serta buah potong yang segar itu.
" Enak, enak, " Jawabnya mengangguk setuju.
...»»--⍟--««...
Disisi lain....
Napas lelah membuat anak lelaki yang berlari tadi, berhenti sementara di salah satu tangga terdekat, yang menuju ruang kelas, berada di gedung A.
" Istirahat dulu, deh ", anak yang bernama Rio Dewantoro meluruskan kaki panjang, di tangga itu. Meletak kresek berisikan jajanan yang berantakan, di samping.
" Dia nengok gak sih, tadi? Mana udah kayak penguntit. " Ujar Rio, napas capek.
Keringat mengucur dari kening Rio Dewantoro. Seragam putih yang berkerah itu mendadak basah, menimbulkan noda kehitaman.
Ia menyeka dengan lengan baju yang dilipat, lalu mengusap ke celana agar tak basah.
" Tapi, tadi dia seperti orang yang ku-kenal. Apa jangan jangan anak itu... ".
Belum selesai memikirkan wajah anak yang tadi sempat dilihat, seseorang menepuk keras punggung Rio Dewantoro.
" WOY! , " Bentak Tristan.
Dia menoleh cepat. Detak jantung hebat, serasa mati mendadak. Teriakan keras dari kuping kiri, ditambah tepukan, mengagetkan Rio Dewantoro
" Kaget, lo? Gitu aja kaget, " Balas Tristan, tertawa kecil.
Aku menatap wajah Tristan, sebal.
" Mana jajanan gue? Sini kasih gue ".
" Itu, kreseknya. Semuanya sesuai pesanan ".
Tristan mengambil cepat kresek itu. Mengecek beberapa item di dalam. Kedua tangan yang sibuk sendiri, memastikan.
" Bagus, bagus. Kerja bagus. " Ujar anak itu, menepuk nepuk.
Ia membawa kresek itu, meninggalkan Rio Dewantoro yang masih tersengal-sengal diantara anak tangga.
" Pergi juga anak itu. Tidak ada terimakasih lah, apa lah, main pergi. ", Rio menggeleng kecewa.
Rio Dewantoro termenung.
"Sebaiknya aku mengecek kembali lelaki itu, apa dia benar-benar orang yang sangat ku-kenal atau bukan ".
Bel berbunyi dering.
"Nanti saja pembicaraan ini, " Rio Dewantoro berdiri dan mulai menyusuri anak tangga menuju lantai dua dalam gedung A. Tempat kelasnya berada.
Dia sampai di depan kelas.
Memasuki ruang kelas, tepat di samping tangga tadi. Memasuki ruang tempatnya belajar. Bersama Tristan yang dari tadi mengunyah jajanan di kresek itu.
"Wah...wah...wah... Akhirnya murid culun dan pendek jagoan kita, kembali juga kesini." Tristan menepuk kencang, dan mengejek kepada beberapa teman satu geng, berjumlah dua orang.
Aku memalingkan pandangan ke bangku belajar. Memangku wajah dengan telapak tangan. Bosan.
Rio Dewantoro melamun. Dirinya masih memikirkan murid itu, di dalam bangsal UKS siswa di lantai bawah. Perasaan gundah, dengan pikiran mulai kacau, terjadi saat sebelum pelajaran kembali berjalan.
Jam pelajaran dimulai, sampai dua jam lamanya.
Selama itulah, dia tak bisa berkonsentrasi ke-arah mata pelajaran yang sedang dijelaskan oleh guru didepan. Sekali-dua kali menyenderkan kepala diatas meja. Menguap tiada henti, dengan mata yang lelah, menahan ngantuk.
Dia, juga melirik kearah langit dari jendela kelas ini yang terbuka. Angin pelan, terasa menerbangkan pelan rambut hitam miliknya.
Dia masih berusaha disini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments