Nyaman

...Tidak mungkin, kita kebetulan...

...bertemu tanpa campur tangan Tuhan. ...

...- Anjani Lesmana Dewi....

...»»——⍟——««...

" Kita sampai. Rio mematikan lampu di depan. "Turun. " Sambung Rio, menyuruh.

Rio Dewantoro, menyetel standar motor dengan ujung sepatu. Mengayunkan standar itu di lantai garasi.

Aku ikut menuruni dari jok motor itu.

Rumah dengan dua lantai, terlihat menawan. Pepohonan tak begitu besar, dengan potongan rapi di halaman rumah.

" OALAH! NDUK RIO SUDAH PULANG. Perempuan yang sudah ber-rambut putih, membuka pintu. Wajahnya sumringah bahagia, menyambut lelaki di di sampingku.

" Sore, mbok. " Senyum Rio, ikut menjawab. Menghampiri mbok di depan. Menyalami sambil membungkuk badan.

Aku ikut mendatangi perempuan yang menyapa kami.

" Nduk, gimana sekolahnya, lancar? " Tanya Mbok di depan.

" Iya, lancar saja mbok. " Rio mengangguk, pelan. "

" Syukurlah, lancar sekolahnya. Mbok pikir, nduk bakal kenapa-napa di sekolah. "

" Endak, mbok. " Geleng Rio.

" Ini temen nduk? "

" Iya mbok. Ini Abimana. Teman kelas nduk. Rio merangkul badanku, mengakrabkan diri. Rio terus melanjutkan, " Namanya Mbok Yem. " Rio memberitahu.

" Halo, mbok. " Aku ikut menyapa. Mengangguk pelan.

"Oalah, jadi kamu to? Yang sering dibicarakan sama Rio." Mbok Yem bergeser arah, di depanku.

"Mbok.... " Rio memberi perintah halus.

Mbok Yem, menoleh. " Gapapa to yo, biar temenmu tau. "

Rio menepuk jidat. " Duh. "

Mbok Yem memegang pipi ku, yang muncul kemerahan.

" Dingin. Kulitmu dingin, nduk. "

" Iya, mbok. "

" Ayo. Ayo masuk. " Mboh Yem menepuk pundak ku, menyuruh masuk.

Sepasang sepatu ku mulai dilepaskan. Berjalan memasuki ruang utama. Tentu saja ruang tamu, tak begitu besar. Hanya ber-ukuran 4x4 meter. Perabotan disini, tidak memakan banyak tempat, menjadi tertata rapi, menjadikan tempat ini agak luas untuk disinggahi.

" Permisi. " Aku melirih kecil, memandang ruangan di balik pintu.

" Duduk dulu, nduk. "

" Nduk, mau minum apa? kopi? teh? Yang lain? Anak muda kan sukanya kopi. "

" Uhm... air putih saja, mbok."

" Lho kok cuma air? Sudah datang jauh-jauh kesini, kok cuma minta air." Mbok Yem menggaruk kepalanya. Kemudian melanjutkan kalimatnya, "Kopi aja, ya? Mbok bikin."

" T-tapi mbok..." Aku berdiri dari sofa.

" Udah,udah. Gapapa. " Mbok Yem, meninggalkan kami di tempat duduk.

" Biarkan saja, mbok Yem mengurus semuanya. Sudah dari dulu, sifatnya begitu."

Aku mengangguk paham.

Waktu terus berputar. Kami berdua tak mengobrol kembali.

Aku melirik kecil, melihat orang di depan ku ini, sibuk bermain ponsel, dengan menelonjorkan kedua kakinya diatas meja.

" Jangan seperti itu. Gak sopan." Mbok Yem memberitahu Rio, di samping.

" Iya, mbok." Ucap Rio, langsung menuruni kedua kakinya.

" Monggo, silahkan diminum. Mumpung masih panas." Gumpalan asap keluar, dari dalam cangkir.

" Makasih banyak, mbok." Ujar Abimana, setelah Mbok Yem meletakkan cangkir itu diatas meja.

" Iya, sama-sama." Jawab Mbok Yem, membawa kembali nampan yang dipegang. Kemudian menuju ruang dapur, untuk mempersiapkan sesuatu.

...»»——⍟——««...

Sekali...dua kali....bahkan tiga kali tak hentinya, menyeruput secangkir kopi panas.

"Ini hanya suruhan dari Anjani saja, jadi aku akan membantumu. "

Aku menatap serius.

" Karena kamu tak punya tempat tinggal, jadi akan kuberitahu kamar disini. Ikut aku." Rio Dewantoro berlekas bangun. Tentu saja aku mengikuti dirinya.

Rio memberhentikan langkah, " Tunggu disini, aku cari kunci dulu."

" Mbok, kunci kamar yang dekat gudang, ada dimana? " Rio mendatangi ruang dapur, tak jauh dari ruang tamu. Mbok Yem dengan lap meja yang digantungkan di bahunya, sedang asyik memasak. Menoleh Rio, dan langsung memberinya kunci itu, dari dalam laci dapur.

Rio berbalik badan, kembali. "Ayo pergi."

Aku mengikuti anak lelaki yang bernama Rio Dewantoro. Menapaki anak tangga, satu per satu. Napasku mulai lelah. Terengah-engah,bernafas dalam-dalam, dengan pegangan kayu disampingku.

" Kau kenapa? " Rio melirik diriku, di belakang.

" Gapapa. Ayo lanjut."

Rio melanjutkan perjalanan, menjelajahi anak tangga di depan. Senyumannya hilang, seperti kami dihukum oleh orangtua kami kemduain menuruh anak-anaknya kembali ke ruangan masing-masing.

Kembali lagi, Kami berada di lantai dua dengan tiga ruangan berada di sini. Lampu hias tergantung cantik, juga jendela besar berada di samping tangga itu, dengan tirai tipis yang ditutup.

" Ayo masuk." Ajak Rio.

Aku menyusul, memasuki ruangan gelap.

Lampu kamar, dinyalakkan. Cahaya terang membuat ruangan ini jelas. "Kamarmu, disini. Kau bisa gunakan barang-barang disini. " Aku mengamati dalam kamar kosong, disaat Rio sibuk menjelaskan. "Gunakan AC dengan remot control." Rio sergap, memberi.

"Kau tak perlu pindah ke tempat lain. Tinggalah selama yang kau mau." Rio berbalik badan. Nada bicaranya berat dan cepat. "Aku pergi dulu." jawab Rio, langsung meninggalkan temannya di dalam.

Aku menoleh Rio, yang mulai pergi.

Aku mengamati ruangan yang akan kutinggali.

Kasur besar berasa di tengah kamar ini. Meloncat tinggi, mulai mengenai matras kasur itu.

" Sangat nyaman. " Aku menggulingkan badan, ke kiri-kanan. Menatap langit langit di dalam kamar ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!