Rasa bosan menghampiri tubuh Rio Dewantoro yang termangku lesu di bangku meja pada bagian agak kebelakang di kelas nya. Mengamati guru berkacamata yang sibuk memberikan materi kepada semua murid. Dengan penggaris laras panjang yang digerakkan, menunjuk kepada materi hari ini.
" Oke! Sampai sini ada yang ingin ditanyakan?! , " Tegas Bu Veronica, merapikan kacamata yang miring.
Dua puluh murid tidak menjawab, terkecuali Tristan yang diam diam mengunyah permen karet dari balik kresek yang disembunyikan di laci meja.
" Kamu! Tristan!, " Bentak bu Veronica, menunjuk diri Tristan dari baris ketiga.
Tristan menoleh, pelan. Senyuman licik terpampang di wajahnya.
" Apa bu? ", Tristan mengunyah permen karet.
" Pake nanya lagi! Itu di mulut kamu, ada permen. Buang permen nya!. "
" Kalau saya tidak mau?. "
" Keluar dari kelas!. "
Tristan mulai beranjak bangun. Dengan pedenya dia mulai berbicara, " Keluar? Ibu yakin mau usir gue? Apa ibu tidak tau, gue itu anak kepala sekolah. Bisa-bisa ibu yang dikeluarkan dari sekolah, bukan guwe. "
" Ka-kamu!. " Bu Veronica menunjuk.
Tristan merogoh sesuatu dari dalam saku celana. Menyalakan Handphone keluaran terbaru, menekan nomer telepon.
" Bawa tim keamanan ke gedung A, kelas gue. Sekarang. " Tristan mendekati handphone itu ke telinga kanan, sambil mengunyah permen yang tak habis - habis.
Handphone tadi mulai mati. Memasukkan ke dalam saku celana. Tristan masih saja berdiri dari kursi itu.
"Apa yang dia lakukan? Tim keamanan?. " Batin bu Veronica yang kebingungan.
"Gubrak!. "
Pintu kelas terbuka paksa oleh seseorang di depan. Melangkah kaki mantap dengan memakai sepatu boot hitam.
Lima anggota team keamanan berdiri di depan kami semua. Dengan atribut lengkap, ber-topi hitam, menggunakan rompi anti peluru yang terlilit di badan setiap anggota, semakin gagah.
Kelas ini semakin serius.
" Cepat bawa bu Veronica dari sini. "
" Baik, komandan. "
Lima anggota itu mendatangi tubuh bu Veronica. Memegang paksa tangan guru itu. Salah satu team, merogoh saku. Mengeluarkan borgol dari dalam.
" Eh! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan!. " Bu Veronica meraung keras saat borgol itu akan dipakai.
Kedua tangan bu Veronica digerakkan paksa kearah belakang.
" Diam!. " Suruh anggota berbadan tinggi, yang langsung memasukkan tangan bu Veronica ke dalam borgol itu.
" Jangan hiraukan. Cepat bawa bu Veronica dari sini. "
Lima anggota tadi mulai membawa guru matematika itu. Dengan borgol yang dipakai, serta kepala yang harus ditunduk ke bawah, melihat lantai kelas untuk terakhir kalinya.
" Tristan, tolong lepaskan ibu!. "
Tristan terdiam.
Tiga puluh murid di kelas IPA, ikut diam. Tak bisa membantu apapun. Ikut melihat bu Veronica yang meraung meminta kebebasan dari tempat duduk masing-masing. Mereka tak bisa membela guru itu karena siapapun yang menantang anak dari kepala sekolah, mereka semua akan dikeluarkan dari sekolah dan akan sangat susah untuk mencari sekolah pengganti.
Rio Dewantoro yang menyaksikan lima anggota keamanan itu, merasa keadaan kelas ini semakin tak terkendali.
" Tristan! Sudah cukup sampai disini. kau sudah sangat sering menguasai sekolah ini. Apa kau tak puas lagi? "
" Yahh... Gue kurang puas lagi dengan tempat ini. Lagipula sekolah ini punya bokap gue. Jadi, gue bisa melakukan apapun yang gue mau. "
Rio Dewantoro bergegas maju, menghalangi langkah lima anggota yang hendak keluar.
" Jangan bawa bu Veronica keluar. " Ucap Rio yang serius.
Tristan bersikeras untuk membawa bu Veronica keluar.
" Tahan, Rio Dewantoro itu. " Tristan menyuruh salah satu anggota tadi.
Sebuah tongkat kecil yang dialiri listrik, mulai dikeluarkan dari balik saku itu.
Menahan tubuh Rio yang terpojok.
" Jangan ganggu aku. Ayo pergi. " Tristan memperhatikan wajah Rio yang kesal.
Ke-empat anggota keamanan mulai bergerak keluar, bersama bu Veronica yang ikut terbawa.
" Cih! Aku terjebak! "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments