Siang hari itu sangat panas. Teriknya seolah membakar dedaunan menjadi layu. Halaman sma menjadi tandus, memasuki kemarau panjang.
" Teng... Teng... Teng... ".
Lapangan sekolah yang tadinya sepi, mendadak ramai. Warga sekolah berbondong-bondong meramaikan lapangan, entah hanya berbasa-basi mengatakan seseorang di belakang, atau bermain basket sesuai hobby yang dimiliki.
Anak itu mulai membuka kedua matanya yang samar samar buram, menatap kipas angin bergerak di hadapan kemudian kembali jelas penglihatan nya.
" Rrrrr.... ". Suara kipas yang berisik berputar, mendinginkan ruangan.
" Aku dimana? ", ujarnya dalam batin.
Pandangan matanya tertuju pada kipas yang bergerak memutar. Menatap tembok putih di hadapan lelaki yang terbaring di ranjang UKS.
Pelan, tangan Abimana mulai bergerak menghampiri kening yang mulai dingin. Mengusap kening yang terbalut dengan perban yang terlilit, lemah lembut. Di iringin tubuhnya yang perlahan membenarkan posisi, mode duduk di atas ranjang yang empuk.
"Apa yang terjadi sebenarnya?", Pinta Abimana yang terus saja mengelus-elus perban yang terlilit. Wajahnya memucat setelah tragedi yang tak di-ingatnya kala itu. Perasaanya gundah, campur aduk layaknya es campur yang mantap diminum saat udara panas.
Namun, tak berselang lama...
" Kriekk... ", pintu bergeser, seseorang memasuki kamar yang ditinggali Abimana.
Pegawai staff muda menggunakan masker medis, berpenampilan rapi dengan cempolan rambut memasuki kamar UKS. Mata suster itu melengkung keatas, seperti tersenyum riang walau ditutup oleh masker tak membuat jelek.
" Eh, kamu sudah bangun? ". Tanya suster yang melihat kondisi Abimana.
Aku mengangguk kecil, dengan senyum tipis.
Perawat tadi menghampiri ranjang lelaki yang terbujur lemas. Mengeluarkan stetoskop yang melilit di leher suster. Memasang di kedua daun telinga, satunya lagi ditempatkan di perut anak itu, " jangan gerak dulu ya. Rileks aja ya ".
Aku tak berkutik. Tubuhku tegang setelah alat itu mengenai dadaku. Gerakan nya membuat geli.
Semenit berlalu, alat tadi mulai berhenti mengecek. Suster UKS sekolah selesai mendengar detak jantung yang diperiksa.
Sus, apa yang terjadi tadi? ". Aku memandang wajah suster di samping.
Ia melilit kembali stetoskop di lehernya.
" Tadi adik mengalami dehidrasi yang cukup parah, serta benturan keras dihasilkan saat adik terjatuh dan pingsan di lapangan sekolah ".
Pernyataan tadi membuat wajah Abimana semakin pucat. Matanya melotot seketika.
" Tapi tenang saja, semua akan kembali normal ".
Suster muda mulai meninggalkan Pasien uks. Menghampiri troli medis yang berada di kejauhan. Menggiring kembali, menuju ranjang Abimana di depan.
" Apa ini, sus?, " Pinta Abimana yang menunjuk ke arah rantang di samping. Suster tadi membungkuk, sibuk mengarahkan kedua tangan, mempersiapkan sajian menu diatas meja Abimana yang kosong.
Dia tak bercakap. Hanya senyum cerah yang tersembunyi di balik masker medis itu, di iringi suara suara peralatan makan yang disiapkan.
"Cepat dimakan, supaya sembuh, " Suster itu berdiri kembali, sambil mendorong troli menjauh dari kediaman Abimana.
" I-iya, makasih Sus, " Ujar Abimana yang terbata-bata.
" Kalau begitu, jika ada sesuatu adik bisa tekan bell yang berada di sisi kasur, " Suster membuka gagang pintu, dengan menggeret troli keluar.
Aku memperhatikan gerak gerik suster tadi.
Nampak ,ruang UKS ini kembali sepi. Suara bising kipas angin sangat jelas didengar dari kedua kuping Abimana yang tergeletak di atas ranjang.
" Ugh! Sakitnya!, " Abimana memegang kepala yang diperban itu. Sesekali memejam karna rasa sakit yang diderita. Mukanya semakin merengut.
Ia mulai mengulurkan tangan,memegang pelan sendok di depan. Tubuhnya pun ikut bergerak maju. Memposisikan untuk bersiap makan.
Aku menghela napas lelah.
»»--⍟--««
Suara langkah kaki terdengar di sekitar ruang UKS tempat Abimana terbangun dari pingsan.
Lorong penghubung UKS dan gedung A, tempat Rio Dewantoro menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar, kini mulai sepi. Bel sekolah yang tadinya mati, kini mulai menyala menyuruh semua murid kembali ke kelas masing-masing.
Rio Dewantoro, saat itu kembali dari ruang kantin dengan membawa jajanan pesanan teman kelasnya. Satu kantong plastik kresek dengan jajanan manis dan asin, melewati ruang UKS di samping.
Saat ia melewati tempat itu, tak sengaja dirinya melirik ke arah pintu UKS yang terdapat kaca kecil untuk melihat siapa saja yang berada di dalam ruangan.
Betapa terkejut dia melihat sekilas anak yang dilihatnya. Matanya melotot, tak berkedip sedikit pun.
Abimana yang tak sengaja niat anak tadi, ikut kaget. Melihat sesuatu yang mengamati dirinya di balik pintu.
" Siapa itu?! ", tanya lelaki yang terbaring di ranjang, penuh kekhawatiran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments