Sebuah Kenangan Manis

Ruang Gudang, tempat penyimpanan barang menjadi sepi.

Sekali lagi, aku masih menetap. Berdiri memegang foto. Aku mengobrol dalam hati, " Mereka mungkin benar-benar mengkhawatirkanku. Aku sepertinya... harus percaya dengan mereka berdua. "

Saat Abimana, sibuk memikirkan foto yang dipegang, suara motor mendatangi rumah ini.

" Halo, mbok. " Sapa Rio, baru saja memasuki rumah.

" Cepet banget pulangnya. "

" Iya mbok. Aku naik dulu, mbok. "

" Iya, iya."

Suara yang familiar dari kedua kuping Abimana, membuat diriku menjadi panik.

" Lebih baik, aku kembali. " Aku bergerak cepat, memasukkan foto berbingkai ke dalam kardus. Menutup, dengan lakban yang tak merekat.

Tentu saja, berlari meninggalkan ruangan tadi. Menutup pintu kamarku disaat bersamaan, Rio baru saja sampai di lantai dua.

Rio menoleh kamarku, dengan pintu yang tertutup rapat. " Apa dia seharian di kamar saja? " Kemudian kembali, menuju ruangan miliknya.

" Astaga, nyaris saja. " Aku ikut terengah-engah. Keringat mengucur pelan, dari dahi yang berkeringat.

....»»——⍟——««...

Ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Aku berdiri di depan.

" Masuk saja. Aku tak mengunci." Balas Rio, dari dalam.

Dengan tangan yang ikut memegang gagang itu, mulai terbuka ruangan di dalam. Aku memasuki. Menampilkan Rio Dewantoro, sibuk menulis materi yang dipindahkan ke dalam buku tulis miliknya.

" Wah... disini sangat berbeda, ya, daripada ruanganku yang gelap." Aku mengangguk, mengamati.

" Ada apa mencari?" Rio menoleh, mendengar asal suara di belakangnya.

" Aku ingin bertanya satu hal."

" Apa? "

" Kau pasti tau kan, ketiga murid di kolam itu? "

Mendengar pertanyaan dari Abimana, Rio memberhentikan tangan nya. Menaruh pena diatas buku yang masih terbuka.

" Sepertinya, kau menemukan foto itu. " Rio tersenyum, mengetahui.

" Sejak kapan aku... bersama kalian? "

Rio menggeser kursi, berbalik arah. Menatap Abimana, dihadapan. " Sepertinya, aku harus menceritakan ulang padamu."

Flashback.

Musim Panas, Bulan Juni.

Aku berjalan terburu-buru, melintasi pinggiran kolam yang membasah. Cipratan air, mengenai badanku yang saat itu tak mengenakkan baju.

" Tunggu aku. " Aku berlarian, melambai tangan, ke-arah empat orang yang mengumpul.

" Cepat, Bim. " Ucap Anjani, berteriak.

" Lama juga kau, bim. " Rio ikut mengobol.

" Sori, sori. "

" Tolong fotoin kami. " Suruh Anjani, kepada salah satu teman perempuannya, untuk mengambil gambar.

" Kita mau ngapain. " Aku bertanya.

" Pakai tanya lagi. " Jawab Rio

" Ayo cepat. " Anjani memberi tanda, menyuruh kami berdua mendekati dirinya.

" Hahaha. " Aku ikut tertawa.

" Oke, siap ya. Jangan bergerak. Terutama Bima, jangan senggol Anjani. " Usul gadis ber-rambut pendek, mengarahkan. Kedua tangan nya, memainkan ponsel yang diberi dari Anjani.

" Iya, aku tau. " Aku bergeser sedikit, menjauhi Anjani. Kepalaku memiringkan, sedikit.

" Oke. Satu, dua, tiga. " Cahaya ponsel, menyala.

"Masih kaku gayanya. Cari gaya lain." Usul gadis satunya, ikut melihat foto di- dalam ponsel tadi.

" Coba aku lihat." Anjani berdiri, berjalan kearah kedua teman perempuan,di depan.

Gadis yang memegang ponsel, menyerahkan hasil.

" Coba tangan kalian buat pose dua jari. " Anjani mengarah pandangan, ke depan. Melihat kami berdua.

Aku melirik kecil, Rio disampingku.

" Ayo, gais. Ulang lagi fotonya. Kurang memuaskan." Anjani kembali di tempatnya.

" Oke. Gayanya bebas ya. Jangan kaku seperti tadi. Terutama Rio, jangan cuma kikuk datar wajahmu. "

" Iya. " Rio mengayunkan tangan, membuat pose dua jari.

Aku ikut pose yang dibuat darinya. Menarik senyum, lebar. Menutup kedua mataku, seolah membuat pose senyum. Tak sengaja gigiku iku terlihat.

" Baiklah, kita mulai. Satu, dua, tiga. "

Kilatan cahaya, kembali menyala.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!