Mimpi Aneh

Masih didalam gudang, lantai dua. Rumah Rio Dewantoro beserta Mbok Yem, asisten rumah tangga.

"Kau tak apa, bim? " Rio berdiri dari tempat dia duduk.

" I-iya. Aku tak apa." Tak mengapa, tubuhku seolah akan terjatuh. Gerakan seperti orang yang hendak pingsan.

Rio memegangi pundakku. Kuat, sekencang tenaga berusaha menyadarkan Abimana, untuk tak jatuh lagi.

"Sepertinya... Namamu Rio." Aku menoleh, ke kiri.

"Rio Dewantoro. Itu namaku. " Rio, menjabat tangan. Wajah masam yang biasa kulihat, seketika menjadi ramah. Langsung berbeda sekali rasanya, melihat dari satu sisi saja.

"Jadi... Perempuan itu adalah...Anjani?"

"Benar sekali. Gadis satu sekolah dengan kita, yang kemarin ikut bersama-sama. "

Aku, kembali terdiam.

"Tenang saja. Aku dan Anjani, akan membantumu mengingat kembali. " Rio memperhatikan wajahku. "Rasanya, aku tak percaya, kau sekarang berdiri dan hadir lagi disini, Bim. " Ucap Rio, dari batin.

Mendengar yang dikatakan dari Rio teman nya, Abimana perlahan mempercayakan kepada mereka berdua.

"Tadi, aku juga membicarakan mu kepada kepala sekolah, dan juga guru kelas kami, untuk memasukkan mu ke- dalam sekolah."

Aku mendengar, seksama.

"Sebenarnya, ini usul dari Anjani juga." Lanjut Rio, menjelaskan.

Aku mengangguk, paham.

"Ini, untukmu. " Rio mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sesuatu terbungkus di dalam plastik besar. Satu set memegangi kepada Abimana.

"Apa ini?" Aku melepaskan satu per satu lakban yang menempel diatas tas kresek putih. "Seragam sekolah?" Sungguh tak percaya yang kulihat ini, baju dan celana abu-abu, dengan seragam olahraga, dll.

"Pakai itu, besok." Suruh Rio, melihat Abimana mengecek satu set besar seragam itu.

" B-baiklah." Aku memegang plastik itu, meraba.

Pagi mulai menjadi siang. Siang menjadi sore, dan sore menjadi malam.

Aku kembali, di ruangan.

Mengistirahatkan pikiran ku yang kacau. Namun, kenangan di dalam foto itu, masih saja teringat.

Aku menaruh curiga dalam foto yang dilihat, waktu pagi. Saat sebelum Rio kembali dari sekolahnya.

"Di foto itu, aku masih memakai kacamata. Tapi, kemana kacamata itu sekarang?" Aku berbicara sendiri, sambil menatap langit kamar.

Kedipan mata, membuat mengantuk. Kini, Aku terlelap oleh gelapnya malam.

...»»——⍟——«« ...

Sepotong kejadian, memasuki mimpi Abimana.

"Seperti...Tempat di dekat kolam? Ini kolam dalam foto bingkai tadi. Yang barusan ditunjukkan dari Rio, didalam gudang."

Nampak, murid laki-laki serta perempuan, sepertinya berdiri di depanku. Anak itu menggeret tongkat bisbol panjang. Satunya lagi, sibuk mendokumentasikan.

Aku... Sepertinya sangat ketakutan. Bergerak mundur, tapi... terpojok oleh kolam ber-air di belakang, yang dalam. Dua orang dengan muka ngeblur, susah untuk dikenali, sedang memojokkan ku, dengan air yang sangat dalam, mereka berdua berusaha mencelakai.

Potongan mimpi, seakan kembali meloncat. Melesat cepat. Sekarang aku sedang berusaha untuk berenang mencari bantuan. Tanganku nyata untuk terkena air di dalam mimpi itu.

"Sepertinya... aku tenggelam?" Napas capek serasa nyata. Pengap, kedua kakiku susah dikendalikan. Sibuk berayun-ayun mencari dasar kolam di bawah.

Terlihat, hanya aku berusaha mati-matian mencari sesuatu yang bisa membawaku naik keatas kolam. Tidak ada siapapun. Hanya Seberkas cahaya yang masuk ke kolam renang ini.

Kedua orang yang tadi mencelakai Abimana, entah mengapa menghilang begitu saja. Aku tak bisa mengenali siapa wajah murid itu. Yang penting mereka memang memakai seragam khas sekolah SMA GARUDA.

Mimpi tersebut menghilang, disaat Abimana terbangun dari tidurnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!