Sore hari, Sekolah Sma Negeri Garuda 113, menjadi ramai. Anak-anak telah selesai dalam belajar. Saatnya bermain basket atau permain olahraga lainnya, tuk sekedar menghilangkan stress yang dipikul.
Adapun, bermain gitar dekat tangga-tangga gedung, yang saling terhubung. Asyik memetik senar gitar, bersenandung lagu yang dinyanyikan.
Kala itu, aku mengantar Anjani di tempat ini. Gedung A, menjadi tempat yang dikunjungi oleh murid perempuan. Sebenarnya dalam sekolah ini, perempuan dan laki-laki di-pisah sesuai gender mereka. Hanya gedung C, merupakan gedung dengan murid perempuan paling banyak, dibanding gedung A, dan B yang dikhususkan untuk anak laki-laki saja.
" Ayo, masuk. " Rio melirik wajah Anjani. Memegang tangan Anjani, dan menggenggam.
Anjani ikut meng-iyakan, setuju.
Aku menggandeng tangan Anjani. Meelangkah naik tangga, tepat di depan gedung A.
Saat itu lah, seorang anak mengenakkan jaket hitam, mulai keluar dari gedung A. Dengan hoodie yang menutup kepalanya, sambil menunduk.
Rio Dewantoro sekilas melihat.
" Kenapa pakai jaket di sekolah? Bukan nya itu dilarang? " Tanya Rio dalam batin.
Anjani melirik, " Ada apa? "
" Bukan, apa-apa. " Rio tersenyum, "Ayo masuk. "
Pintu berkaca mulai dibuka. Dengan lobby utama yang langsung menghadap ke arah mereka berdua.
" Selamat sore. " Kompak kedua petugas lobby.
Rio ikut menoleh, " Sore juga. "
" Ayo pergi. " Rio menggandeng tangan Anjani, menarik pergi dari tempat itu yang daritadi dilihat oleh kedua penjaga tadi.
Kami berdua bergerak maju, menelusuri lorong di depan kami. Dengan gandengan tangan yang erat, kami mencoba menenangkan diri sendiri.
" Ruang UKS ada dimana? " Anjani bertanya. Matanya sayu. " Sudah lama sekali aku tak pernah menjejaki kaki disini. "
" Oh, itu di dekat tangga. Di samping itulah, ruang UKS berada. "
" Baiklah. " Ucap Anjani.
Kami menjadi diam. Hanya langkah sepatu saja yang menimbulkan decitan suara. Juga, suara suara dari anak sekolah berlalu lalang.
Kaki ku kembali berhenti. "Kita sampai. Kau tunggu sini, aku chek terlebih dahulu. " Rio mulai melepas genggaman tangan.
" Oh, o-oke. "
Rio melirik kepada Anjani yang sendirian di sana. " Kasihan, dia. " dalam batin Rio yang ikut terlarut sedih.
Rio ber-alih memandangi pintu Uks, saat pertemuan kami kembali. Termenung, sekilas dalam pikiran kecil itu, dia masih mengingat ketika aku mengintip diam-diam dari kaca itu. Kemudian, seseorang menanyaiku dari belakang.
" Cih, dasar anak itu. " Gumam Rio Dewantoro, menggoyangkan kepala ke kiri-kanan.
Rio melirik pintu tadi. Langkahnya bergerak, menghampiri gagang pintu yang tak disentuh.
" Greek! " Suara gagang yang ditekan.
Pintu mulai terbuka. Perlahan, dirinya melihat kamar Uks itu.
Ranjang kamar telah kosong. Tidak ada orang yang tinggal disini. Tidak lain, hanya bunyi kipas angin yang beroutar-putar sesuai arahan. Jendela jendela ikut terbuka, angin sore membuat penutup jendela, ikut bergerak.
" Dia, dimana? " Kata Rio yang tergesa-gesa, memasuki ruangan.
Anjani yang mendengar Rio Dewantoro berbicara sendiri, ikut tergerak. Mendekati Rio di dalam.
" Ada apa? " Ucapnya, menegang.
" Dia tidak ada disini. " Rio berbalik, melihat Anjani di dekat pintu.
"Tapi tadi kamu melihat dia disitu, kan? "
"Aku lihat dia, masuk ke dalam ruangan. Sepertinya, dia kabur dari sini. "
" Ka-kabur? "
" Aku akan bertanya dengan penjaga, kamu tunggu sini saja. " Rio Dewantoro menunjuk Anjani, sambil berlari kecil.
" Ba-baiklah. "
Rio Dewantoro, meninggalkan Anjani kembali. Hanya dia yang sendiri disini.
Anjani menyelusuri barang-barang yang ada. Gadis ber-rambut pendek itu, mulai melihat-lihat di sekitar.
Sementara itu,
" Astaga, kemana dia? " Rio berlarian, menuju lobby Gedung A,
Dilihatnya, dua penjaga dengan orang yang sama melihat kepada Rio Dewantoro di depan.
" Selamat sore, ada yang bisa kami bantu? "
Terengah-engah, Rio menepuk meja lobby itu. "Kak! Tadi ada anak yang menggunakan perban di kepala, lewat sini?"
" Ooh, anak itu! dia temanmu? " Salah satu penjaga ikut mengangkat kedua alis.
" Iya, dia teman ku. Ada dimana sekarang? "
" Barusan dia keluar dari gedung A, baru saja. Kalian tidak menyadari? "
" Tidak. Aku tidak tau. " Rio menggeleng,
"Dia sepertinya lari terburu-buru. Aku melihat anak itu seperti dikejar sesuatu. " Ucap penjaga satunya, ikut menyahut.
" Okelah. Terimakasih. " Rio Dewantoro meninggalkan kedua penjaga itu.
"Sepertinya dia, yang menggunakan jaket hitam".
Aku membuka pintu.
"Gimana? Kamu tau dia dimana? "
" Sekilas, aku tadi melihat anak itu keluar dari gedung ini, saat kau dan aku masuk ke dalam. "
Anjani berpikir.
"Akan lebih baik, kita pergi dari sini. " ajak Rio.
" Baiklah. Ayo pergi. "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments