Tidak Sadar

" Ti-tidak mungkin ", dalam lubuk hati, ia bercakap.

Ia sempat gemetar, sampai tak sengaja dirinya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Tanganku lagi-lagi tidak bisa mengontrol dengan baik.

Aku ikut menoleh cepat. Mendengar suara berisik di dekat tempatnya. Ia melihat guru didepannya, terjatuh dengan kertas kertas yang terbuang begitu saja. Berserakan sekali.

Abimana menghampiri dengan larian yang cepat. Salah satu sepatunya ikut terlepas darinya. Napasnya tak karuan. Keringat deras mengucur.

Abimana memegang bahu guru itu, dengan tatapan melotot seakan mengecek keadaan. " Ibu, baik-baik saja kan?! ".

Namun, guru itu tak memberi respon. Ia hanya menggeleng cepat, seperti sesuatu yang menakutkan terjadi. Wajahnya tegang, dengan tatapan kosong seperti ingin dirasuki setan. Aku mencoba menyadarkan, dengan menepuk keras salah satu pundak itu. Tetap saja tidak ada jawaban.

Saat itulah, aku mencoba membereskan barang-barang miliknya. Mengambil kertas-kertas yang berserakan di lantai. Dan itulah, dia mulai sadar kembali.

Aku terus saja bertanya, " Ibu, gak papa kan? ".

Guru itu terus saja mengangguk, dan segera berdiri sambil merapikan baju lusuh tadi.

Ia meninggalkan anak itu dengan terburu-buru, melangkah kaki yang berisik.

Lelaki tadi kebingungan. " Dia kenapa, ya? ".

Abimana terus menggaruk rambut yang gatal. Tentu saja dia bingung dengan sikap aneh gurunya yang baru saja ditemui. Ia seperti korban yang sedang disandera penculik di rumah besar yang ingin meminta uang.

Tapi, ia menghiraukan.

" Sepertinya aku familiar dengan wanita itu. Tapi siapa?Yasudah, aku kemana dulu ini? " Abimana memikirkan strategi.

Ia berpikir keras sambil menatap langit langit gedung dengan lampu yang menyala terang.

Namun tetap saja dalam pikiran seorang Abimana, ia tetap kebingungan sejak kejadian tadi. Seolah setelah bangun dari tidurnya itu tak mengingat apapun yang terjadi. Dia hanya mengingat namanya. A-B-I-M-A-N-A.

" Ah, keluar saja deh ". Sahut dia yang berjalan meninggalkan gedung B. Membuka pintu utama yang tadi dimasuki. Sekarang dia keluar dan berada di sekitar gedung B.

Hanya lapangan yang sepi, tidak ada siswa yang ber-olahraga ataupun berlalu lalang mencari jajanan. Lenggang dan sepi.

" Kemana semua orang? ". Abimana celinguk memperhatikan dari kejauhan, sesekali menggeleng geleng, dengan mata yang mulai mengantuk sedikit.

Terik matahari pun semakin menyengat. Tubuhnya mulai lemas. Pandangan di matanya mulai kabur, perlahan menghitam. Napasnya tak karuan, sangat cepat.

" Gubrrakk! ".

Tubuhnya terjatuh cepat. Matanya menutup.

...»»--⍟--««...

Guru berkacamata berjalan cepat. Suaranya keras dengan heels yang dipakai. Membenarkan kacamata yang sesekali terperosok jatuh, karena gerakan yang cepat.

Dirinya saling menyapa anak murid maupun guru lainnya di dalam gedung dengan senyuman tipis.

Saat itu, ia hendak meninggalkan gedung A. Berjalan cepat untuk menemui anak murid di dalam gedung B dalam pengajaran nya.

Namun, ia harus terhenti. Seorang anak murid dengan seragam sekolah tergeletak begitu saja di lapangan yang super panas.

Dia berlari, membuat salah satu heels yang dipakainya mulai terlepas. Matanya melotot dengan mulut yang menganga.

Ia memegang pundak Abimana itu. Menepuk cepat. "Nak! Bangun! ".

Tetap saja Abimana kehilangan kesadaran nya.

Suara suara berisik itu, mulai menghilang. Terutama guru berkacamata yang menepuk tubuhnya. Menggeser-geser supaya aku cepat bangun.

Tapi ternyata, tetap saja aku tak sadarkan diri. Dalam ketidaksadaran yang terjadi barusan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!