Matahari menyambut hari ini. Cahaya terang menapak sendiri. Kemunculannya, diharapkan oleh semua manusia.
Kicauan burung-burung yang bertengger di dekat tempat Uks ini, membuat anak yang sempat dirawat di ruang perawatan, mulai terbangun.
Aku membuka mataku. Melihat keadaan di sekitar.
Baru saja, dia menyadarkan diri, Seseorang yang dikenal, dengan suara ciri khas nya yang ringan, mulai membuka pintu.
" Selamat pagi, Abimana. " Sus Rayna berjalan masuk, setelah menutup pintu.
Aku yang masih merenggangkan tubuhku di atas kasur, mulai melirik Sus di depan. Wajahku seketika seperti kusut.
" Bagaimana kepalamu? Sudah membaik? "
"Untuk sekarang, sudah tak sakit lagi. Tidak seperti kemarin ini. "
" Bagus kalau begitu, Sus akan melepaskan perban nya. Kamu jangan banyak bergerak, ya. " Sus Rayna ikut mendatangi kasur anak itu.
Aku melotot, kaget.
Sus Rayna membungkuk sedikit badan nya.
" Jangan banyak bergerak. " Sus Rayna menggerakkan kedua tangan nya. Perlahan, perban yang terlilit tadi, mulai dilepaskan.
Aku melirik ke kiri, membuang pandangan di depan suster Rayna.
" Oke, sudah selesai. " Ujar Sus, kembali berdiri tegak.
Aku menggapai kepalaku, mengelus.
" Pagi ini kamu bisa pulang, atau mungkin bisa menunggu sampai jam pelajaran usai. Bisa dibilang sore ini. Tergantung pilihan yang mau kamu ambil. "
" Baik, sus."
" kalau begitu, Sus pergi dulu." Sus Rayna membuka pintu, berjalan kedepan lalu menutup kembali.
Aku hanya mengangguk.
Pintu, telah tertutup rapat setelah melihat kepergian Suster Rayna yang sibuk bertugas. Aku masih saja kembali di tempat ini. Menatap untuk kesekian kalinya, kepada langit langit kamar yang polos. " Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" Abimana berbicara sendiri.
Namun, siapa sangka seseorang membuka kembali pintu yang sebelumnya tertutup rapat.
" Halo, Bima." Suara lembut mulai menyapa.
Aku yang berada di ruangan, menoleh ke sumber suara. " Oh? Bukannya dia gadis yang kemarin itu?" Gumam Abimana, mengangkat alisnya.
" H-halo, juga." Aku ragu mengangguk.
" Bagaimana kabarmu? "
" baik, hanya sedikit pusing saja."
" Ini, aku bawakan bubur kuah. Kamu mau?" Anjani tersenyum, sambil menunjukkan makanan yang dibawa, dalam kantong plastik yang dipegang.
" I-iya, boleh."
" Aku taruh disini saja. Makanlah yang banyak." Anjani bergerak, meletakkan diatas laci, samping ranjang Abimana.
" Iya. Makasih. Aku melirik, membuang pandangan dengannya.
" Aku pergi dulu. " Anjani menutup pintu.
Aku menyantap makanan yang dibawa.
Sampai, waktu telah menunjukkan dirinya. Sore hari sekitar pukul 15.00, waktunya anak sekolah telah selesai dalam belajarnya.
...»»--⍟--««...
Hari terakhir Abimana Dwisasana berbaring nyaman di ruang perawatan. Sangat cepat berlalu, dirasakan olehnya. Seperti melesat begitu saja, sejak aku yang pingsan di sekolah, sampai pingsan lagi untuk kedua kalinya.
Kala itu, Abimana mengucapkan terimakasih kepada Suster Rayna yang ikut menemani dirinya. Membantu membereskan kasur itu, yang sebelumnya telah terpakai oleh dirinya. Perasaan sedih, mulai terasa sakit di perasaan lelaki ini.
" Jaga dirimu baik-baik." Sus Rayna mengelus pundakku. Kedua matanya ikut menyipit.
Abimana mengangguk pelan. Kemudian berbalik badan, pergi meninggalkan perawat tadi di- dalam.
Aku ikut menyusuri lorong gedung A, bersamaan dengan keluarnya beberapa murid murid yang ikut meninggalkan sekolah. Melewati kedua penjaga lobby, dengan senyum ramah yang ditampakkan. Menarik gagang pintu di depan, segera menutup kembali.
" Mereka, murid yang tadi. Tapi, kenapa tak berbincang di tempat lain?" Aku mengamati kedua siswa di depanku, asyik mengobrol.
Gadis dengan rambut yang di-ikat tadi, mulai menoleh. "Oh? akhirnya kamu datang. Aku sudah menunggumu dari tadi."
Aku menyipitkan mataku, sambil memperhatikan mereka berdua. " Bagaimana kalian tau, kalau aku disini?"
" Oh, tadi Suster Rayna memberitahu kami berdua, kalau sore ini, kamu sudah bisa keluar dari Ruang Perawatan. Jadi, ya aku menunggumu, hehe." Anjani tertawa kecil.
" Ayo kita pergi." Ajak Anjani.
" Tapi mau kemana? aku tak punya tempat pulang."
Anjani mulai berpikir. " Eung... bagaimana kalau kamu tinggal bersama Rio. "
" Eh, aku? " Rio menunjuk dirinya. Tatapan melotot mengarah kepada Anjani, di samping.
" Iya. lagipula, kau kan hanya tinggal sendiri." Sambung Anjani.
Aku menatap Rio Dewantoro.
" Tenang saja, dia tak akan membebani kamu. Iya kan, Rio? " Anjani menyenggol, dengan sikut.
" Hmmm." Balas Rio, mengunci mulut.
" Dia tak menggigit." Canda Anjani.
" Ayo pergi." Rio memasang wajah seriusnya. Alisnya ikut mengerut.
Aku ikut menyusul dirinya, dari belakang.
Anjani ikut melambaikan tangan, kepada kami yang mulai meninggalkan gadis itu di tempatnya. "Berhati-hatilah ." Teriak Anjani, kepada kedua temannya di depan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments