Pulang sekolah, sepertinya menjadi sebuah perjalanan yang panjang.
Semenjak diriku yang mendadak hilang ingatan, ditambah guru yang sebelumnya terkejut melihat ku layaknya hantu penunggu sekolah, membuat semakin berpikir keras tentang apa yang sebelumnya telah aku lakukan sebelum aku tertidur pulas di rooftop sekolah, disana.
Aku terus membayangkan kejadian yang menimpa diriku.
kepalaku terasa terus berputar-putar, berdenyut. Mataku seolah tak bisa mem-fokus kan diri ini. Tubuhku merasa tak bisa menyeimbangkan diri. ini, seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan tanpa pegangan.
"Sakit sekali." aku terus mengelus kepala yang sebelumnya telah diperban.
langkahku tertatih. Terus bergerak maju, tanpa tau aku harus pergi kemana.
"Duduk disana saja." Abimana melihat sekilas pepohonan besar, dengan ayunan kayu yang bergerak.
Dan tempat inilah, Abimana mengistirahatkan seluruh fisik tubuhnya. Menyenderkan kepada pohon besar, di samping. Angin sore sengaja melewati badan Abimana, membuat rambut hitamnya itu sedikit tergerak. " ini, sangat menenangkan." Abimana terus melihat dahan ranting di atas kepalanya itu.
Dari arah lain,
Rio Dewantoro membawa Anjani, di depan gedung. Memijakkan kaki di tangga, tempat keluar-masuk gedung A. Dengan murid lainnya, yang masih sibuk memainkan gitar.
"Sekarang, kita cari dimana lagi?" Anjani menatap sambil membetulkan tas yang mulai merosot, di pundak.
"Ah, aku tidak tau." kesal Rio, yang frustasi.
Rio Dewantoro mendiamkan obrolan kami berdua.
" uhm...apa kamu masih ingat, tentang apa yang disukai Abimana? bukannya dia suka tempat yang dingin atau tempat yang membuat suasana hati tenang. Mungkin, dia ada di taman." usul Anjani.
Rio mengangkat alis, "eh? bisa jadi dia disana."
"Kalau begitu, ayo temui dia."
Rio mengangguk setuju.
kami berdua segera meninggalkan tempat ini. Anjani berlari cepat mendahului dirinya. Perasaan campur aduk menjadi-jadi. "Bim, tunggu kami." ucapnya dalam batin.
Rio menghampiri Anjani yang berdiri di sana, "ada apa?"
Tatapan Anjani seolah menegang. wajahnya seperti merengkut, dengan alis yang dinaikkan keduanya. " i-itu, lihat dia." dengan menunjuk ke anak laki-laki, duduk meneduh. Menyender kepalanya ke batang pohon itu.
" Benar, dia disitu." bisik Rio, membuat Anjani ikut mendengar.
Rio Dewantoro tersenyum setelah menoleh Anjani, " aku akan menemui dia. Lebih baik, kau tunggu disini." mengusap bahu Anjani yang mulai turun.
Anjani menunduk, "iya, baiklah."
Rio Dewantoro mulai menjauhi Anjani. Melewati dedaunan yang rontok. suara dedaunan yang di injak tadi, membuat Abimana tersadar dari mata yang terpejam. Berdiri di samping pohon rambutan yang berbuah lebat.
" Siapa, itu?" Tanyaku, sedikit memiringkan kepala.
" ini aku." Rio otomatis ikut melambaikan salah satu tangan nya.
" Sepertinya, aku pernah melihatmu di suatu tempat." Aku mengusap dagu.
" Kita bertemu di depan pintu uks."
" OH, IYA. ITU KAU LAGI." seru Abimana, mengetahui.
" iya."
" Sebentar, sebentar." aku menghentikan obrolan lelaki itu di depan.
Rio Dewantoro menelan ludah.
" Ada apa mencari?" Aku memincingkan kedua matanya.
" Itu... aku hanya ingin bertemu denganmu saja."
" Sepertinya tidak. Kau pasti punya sesuatu yang disembunyikan. Iya kan? jawab saja pertanyaanku ini."
Rio mulai mengunci mulut.
" sudah tentu, kau ada rahasia."
" Eungg..."
Obrolan kami mulai terhambat. Anjani mendatangi tempat ini, berdiri di samping Rio Dewantoro yang berdiri di sana. Menjatuhkan tas yang dipaikul. Matanya basah, menggenang. Air mata menetes jatuh, melewati pipi dan mengenai baju seragam yang dipakai.
" Siapa gadis itu? " Aku mengamati perempuan yang berdiri di samping lelaki itu.
Anjani semakin tak berpikir panjang. langkahnya yang pelan, kini menjadi cepat. Mendatangi tubuhku, dengan pikiran siapa gadis ini. Rambut yang di ikat rapi, muali terlepas. Seolah menyebar.
" Kau tak perlu tau, aku siapa, Bim." sengguk Anjani, memejam mata sambil memeluk badan Abimana yang semakin tak bisa bergerak.
" Bagaimana dia tau, namaku?"
»»--⍟--««
... Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments