Istirahat

Anjani Lesmana Dewi melangkah, bersama Rio Dewantoro di samping dirinya. Termenung diam, sambil mengamati depan jalan.

"Sedang memikirkan, apa? " Rio memalingkan mukanya, ke kanan. Di samping Anjani, yang ikut berjalan dengan dia.

" Eh, apa? " Anjani tak fokus.

" Kau memikirkan Abimana lagi?" Tanya Rio, memastikan kekhawatiran Anjani, teman perempuan satu-satunya.

" Tidak. Hanya saja, dia seperti berbeda saja. Tidak ingat kita lagi. " Anjani menunduk, kecewa.

Rio kembali mengelus rambut Anjani, " Tenang saja. Dia pasti akan ingat kita. Hanya masalah waktu, dia akan mengingatnya. "

"Baiklah." Angguk Anjani, setelah mendengar semangat Rio Dewantoro untuknya.

Rio Dewantoro memegang gagang pintu berkaca, melangkah keluar dari tempat ini. Mempersilahkan perempuan untuk maju duluan, sebelum aku menutup pintu.

" Silahkan, nona. " Gumam Rio, menarik gagang pintu.

"Makasih. " Angguk Anjani, ikut tersenyum malu. Kemudian, disusul Rio, mengikuti dari arah belakang.

Kami sampai di pintu keluar Gedung A. Lobby utama disini mulai kosong. Kedua penjaga tadi, sebelumnya bersikap ramai kepada kami, telah menyelesaikan tugasnya.

Sekarang, hanya kami berdua saja ditemani sebuah cahaya lampu yang tetap menyala terang.

"Gelapnya di luar sini. Sepi sekali lapangan ini. " Anjani mencermati, di depan sana.

" Ayo pergi. " Rio menuruni anak tangga, berlari kecil. Memegang tangan Anjani, sambil berlari.

Anjani melirik kepada tanganmu yang digenggam oleh Rio Dewantoro." Sejak dari tadi, dia selalu menarik tanganku. Dia kenapa, ya? " ucap Anjani, di hatinya.

" Nah, kita sampai. " Rio melepas genggaman tangan.

Anjani melihat.

" Pakai ini. " Rio menyerahkan helm hitam, dari ikatan yang dilepas.

" Iya. Makasih. "

Rio mulai mengayunkan dirinya. Menyentuh bokong di jok motor, diatas motor besar. Menyeimbangkan postur tubuh, dan melepaskan senderan motor di bawah dengan salah satu kakinya. Sambil mengecek body motor tadi.

" Aku boleh naik? "

"Naik saja. Hati-hatilah, ini sedikit licin. "

" Iya. " Ucap gadis itu, langsung menaiki jok motor.

Mesin dinyalakan. Menggerakkan stang motor. Lampu terang, membuat setapak jalan mulai terlihat jelas. Kami pergi dari sini.

...»»--⍟--««...

Malam hari, terasa panjang. Rasanya ini seperti petualangan yang berliku-liku. Dimulai sejak Abimana, yang kembali tak sadarkan diri, di Lapangan sekolah.

" Sakitnya. " Aku membuka mataku. Mengelus-elus perban, dengan kepala, yang menempel di bantal empuk.

" Selamat datang kembali. " Sus Rayna menatap dari sampingku.

" Ada apa ini?" Bagaimana tidak, seseorang meletakkan badanku begitu saja, dengan keadaan aku tak menyadarkan diri.

" Bagaimana perasaanmu? Apa, masih sakit?" Suster terlihat mengecek ngecek sesuatu dari badanku.

"Iya. Masih. Tapi kenapa aku disini lagi? "

"Sepertinya kamu masih tak mengingat kejadian tadi sore di lapangan. "

"Ada apa? Apa sesuatu sedang terjadi? "

" Kamu tak sadarkan lagi." Suster Rayna berat hati menjelaskan pada Abimana, di dalam bangsal UKS.

" Oh, iya. Itu benar. "

" Kamu mengalami kekurangan cairan yang mengakibatkan dehidrasi yang cukup parah. Kepalamu masih terluka.

Aku menggerakkan jari ku, sambil mendengar penjelasan Sus Rayna.

" Jangan terlalu banyak berpikir, tolonglah untuk menjaga dirimu sendiri. "

Aku mengangguk kecil. " Baik, Sus. "

" Untuk sekarang, ber-istirahatlah. Air minum, ada di samping. Jadi kamu tidak perlu banyak bergerak. "

" Malam ini, jangan keluar dari ruang perawatan. Tidurlah untuk memulihkan kesehatan mu. Itu yang penting. " Sus Rayna, membuka pintu dan membalik badan, sedikit. Menatap Abimana yang terbaring.

" Iya, Sus. "

Suster Rayna, meninggalkan Abimana.

"Baiklah, saatnya tidur. Selamat malam. "

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!