Apakah kalian mengetahui bagaimana rasanya mendengar jeritan dan teriakan penuh rasa sakit dari ibu?
Bagaimana pemandangan mengerikan saat melihat ibu kalian terkena kekerasan oleh ayah kalian sendiri?
Emilia melihat hal seperti itu berulang kali semenjak dia hidup. Teriakan ibu, gambaran rumah yang beratakan, dan yang paling parah adalah saat ibu diperlakukan buruk tepat di depan matanya sendiri, tubuh ibu penuh luka, darah terus muncrat ketika Ayah memukulinya.
kalian tidak akan bisa membayangkan perasaan itu.
Padahal dia hanya ingin memiliki keluarga normal dan biasa saja, tapi kenapa itu tidak pernah terwujud? apa sebenarnya salah hingga harus melihat pemandangan ini?
'Ini semua karena kamu terlahir Emilia! Jika saja kamu tidak hidup! Tidak! Jika saja aku tidak berhubungan dengan pria itu... jika saja.. jika saja aku tidak punya hubungan dengan orang itu.. aku pasti bahagia!'
Emilia pernah mendengar perkataan tersebut dari ibunya, setelah mengatakan hal itu ibu Emilia mulai melakukan kekerasan fisik ke anak sewata wayang.
Alasan kenapa dia melakukan itu sangat simpel. Dia mulai menjadi gila dan ketakutan. Bahkan ibu dia takut dengan mata milik anaknya yang mirip seperti sang ayah.
Sejak awal ibu Emilia tidak seharusnya menikah dengan pria itu. Pernikahan mereka adalah hubungan gelap yang terjadi karena Emilia lahir. Dulu ayah pernah menghamili ibu dan terlhat Memang benar aku lebih baik..
'Tidak terlahir!!'
Emilia terus berpikir demikian jika saja dia tidak lahir pasti ibu tidak akan pernah merasakan perasaan sedih dan menderita seperti itu. Jika saja dia tidak ada, semua akan berjalan lancar saja.
Saat Emilia masih kecil dia tanpa sengaja menunjukan luka memar di wajahnya yang mencolot di masyarakat. para warga datang ke rumah Emilia mereka sedikit memberikan kecurigaan bahwa orang tuanya melakukan tindakan kekerasan.
Bagaimana pun, dengan kelicikan kedua orang tua Emilia mengarang cerita bahwa Emilia hanya terjatuh saat bermain dan mereka bersandiwara dengan baik, berpura-pura menjadi keluarga bahagia.
Saat para warga sudah menghilangkan kecurigaan mereka segera pamit dan pergi.
Pada momen tersebut siksaan Emilia semakin parah.
"Ibu, Ibu lepaskan! Sakit!" Emilia yang masih kecil ditarik dengan kasar menuju suatu ruangan gelap.
"Berisik ini semua karena kamu berkeliaran! Lihat kita hampir saja ditangkap karena ulahmu, jika kamu diam saja dan menjadi anak baik. Hal seperti tadi tidak akan ada!"
Langkah kaki kedua orang itu terhenti di suatu ruangan gelap dan kumuh, ruangan tersebut merupakan kamar yang tidak terawat.
"Kamu masuk lah kesana dan ketika keluar jadilah anak baik." Ibu Emilia melemparkan dia ke ruangan.
"Tunggu ibu, tunggu..."
Tanpa membiarkan Emilia keluar dia langsung mengunci kamar.
Emilia kecil yang berada di dalam tentu memberontak dan ingin keluar dari sana. Dia terus memukul-mukul pintu, meminta untuk dibukakan. "Ibu, ibu, tolong bukakan! Aku janji akan menjadi anak baik, jadi tolong! Emi benci tempat gelap..."
Tidak mendengar perkataan anaknya, ibu Emilia langsung pergi begitu saja tanpa kenal rasa kasihan.
Emilia kecil terjatuh dan berlutut air mata mengalir deras seperti sungai. "Kenapa? Kenapa?"
Mulai detik itu kehidupan Emilia semakin parah. Ayahnya juga ikut main fisik jika dia tidak membeli sesuatu yang dia mau.
Kehidupan di sekolah juga berantakan, dia dijauhi banyak orang, dihina dan, ditindas.
Emilia merasa bahwa tidak ada yang mencintainya, dimanapun dia berada hanya ada rasa sakit. Bahkan rasa sayang orang tua dia tidak dapat.
...Jika terus seperti ini Emilia bisa gila.
Suatu hari saat ulangan diadakan, Emilia mendapatkan nilai terbaik di sekolah, di angka 98.
Emilia berpikir jika dia menunjukan ini ke orang tuanya, apakah dia akan dipuji?
Memikrkan hal tersebut Emilia tersenyum, dia melangkah masuk ke rumah dengan perasaan bahagia, tidak sabar untuk menerima pujiaan.
"Ayah, ibu! Lihat aku mendapatkan skor sempurna." Emilia tersenyum dan menunjukan lembar ujian tepat di depan kedua orang tuanya.
Dia berpikir dengan begini pasti mereka akan bahagia.
Namun Emilia terlalu naif, kebenaran yang menanti tidak seperti itu..
Terlihat marah, ibu Emilia melemparkan piring ke arah Emilia, beruntung piring itu tidak mengenai Emilia, hanya mengores sedikit pipi dia. Tapi tindakan absurd barusan membuat Emilia gemetaran karena ketakutan.
"K-kenapa ibu?" tanya Emilia ketakutan.
"Apanya yang kenapa? Sempurna? Apanya yang sempurna! Jika ingin sombong lakukan jika 100 jangan mengharpkan kami bahagia dengan hasil setengah-setengah."
Hati dia terasa terkikis saat mendengar ucapan sang ibu, dia mulai berkeringat dingin dan menundukan kepala. "T-tapi ibu, itu merupakan skor terbaik di angkatanku... jadi bukankah kalian bisa sedikit memberikan rasa kagum..." Emilia mencengkram rok pendeknya, dia mengeluarkan air mata.
"Hahaha~ kamu kira ayah akan bangga? Lupakan tentang sekolah dan akademik... kamu sudah dewasa dan subur, jadi jika tubuh dijual pasti akan menjadi banyak uang." Ayah dia berkata dengan ekpresi menjijikan.
Emilia makin tidak mengerti, kenapa semua orang tidak melihatnya? Kenapa dia tidak pernah merasakan apa itu cinta? Kenapa?
Jika seperti ini.
'Lebih mati saja..' itu adalah pemikiran yang melekat di otak Emilia bahkan hingga sekarang.
***
Perlahan, Emilia terbangun di dalam mimpi yang kelam itu. Mata dia terbuka sedikit demi sedikit.
Cahaya matahari menjadi orange, suasana pun juga sunyi. Emilia sedikit melirik ke kanan dan mendapati Adit sedang tertidur di kursi sambil menunggu dia.
Ada kehangatan pribadi di hati gadis itu saat menyadari bahwa Adit menunggu, tanpa disadari dia telah memasang senyuman. "Dia baik seperti biasanya, berbeda dengan 'mereka.'"
Bip.. Bip.. Bip..
Tiba-tiba gawai berwarna pink milik Emilia yang berada di meja samping kasur bergetar itu, tertulis nama 'ibu.' Seketika Emilia gemetaran, dia menelan ludah dan mengangkat telepon.
Membawa ke telingga dan berkata dengan lirih.
"Ya, ibu ada apa?" suara dia terdengar ketakutan.
"Apanya yang ada apa? Jangan berpura-pura tidak tahu! Apa yang kamu lakukan hari ini... ibu mendapatkan laporan dari guru bahwa kamu tidak mengikuti ujian. Gara-gara kamu ibu jadi malu dasar tidak berguna!"
"Hei jangan terlalu peduli tentang hal bodoh seperti ulangan... lebih baik mari kita jual saja anak ini dan dapatkan uang, itu pasti akan lebih berguna." Di balik telepon terdengar suara pria sangat berat dan penuh penekanan. Emi tahu siapa sosok suara tersebut, dia adalah dari ayahnya.
"M- maaf.. ayah, ibu, ada banyak hal terjadi jadi aku..."
"aku TIDAK PEDULI DENGAN ALASAN!! KAMU MEMALUKAN KAMI, TIDAK BERHENTI DISITU... KAMU JUGA TIDAK PULANG UNTUK MALAM INI, 'KAN?"
"Ibu, itu... aku hanya tinggal di rumah teman jadi, tidak perlu khawatir."
"KHAWATIR? JANGAN SALAH PAHAM! YANG AKU TAKUTKAN ADALAH JIKA SESEORANG TAHU TENTANG RAHASIA KELUARGA KITA, YANG TERJADI BISA JADI AKU DITANGKAP.."
"Apa kamu ingin aku ditangkap? Dan apa kamu pikir bisa hidup sendiri? Jangan sombong!! Aaaa... aku benci kamu... ibu tidak butuh anak yang tidak patuh, jadi kamu tidak perlu pulang.. tetaplah diluar sana!"
"Tunggu ibu..."
Bip..
Emilia ingin meluruskan perkataan dari ibu, tapi sudah terlambat telepon sudah mati..
Tatapan dia kembali menjadi kosong seolah tidak melihat harapan apapun, pikiran dia juga kosong.
Karena beberapa suara keras dan gaduh, Adit membuka mata, terbangun dari mimpi. "Ada Emilia?" dia khawatir karena melihat wajah gadis yang tampak kosong.
Memalsukan wajah dia tersenyum ceria. "Tidak ada apa-apa Adit, makasih sudah menjagaku di sini!"
Bagi Adit terlihat jelas bahwa Emilia menyembunyikan sesuatu, tapi jika dia tidak ingin bercerita maka dia tidak punya hak untuk memaksa.
"Jadi begitu... emi ayo pulang."
"Iya." Emilia menganggukan kepala dan tersenyum.
Melihat punggung Adit yang sudah berdiri dan melangkah, Emilia langsung menghapus senyuman tersebut.
'Jika seperti terus bisa gawat... aku bisa gila! Aku harus melakukan sesuatu agar tenang... ah aku punya ide, jika aku MATI apakah aku akan tenang?' pikir Emilia sembari menatap kosong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Abbie Jard
MC nya gesrek pe'a ga peka banget.ga ada gerakan nya sama sekali.mana katanya mau merubah.tapi tetap saja makin tolol MC nya...
2024-09-10
0
Deki Marsoni
matilah biar cerita yu selesai
2024-03-27
0
Gavin Bae
MC tolol.tidak peka.
2024-01-31
0