"Sial aku tidak menyangka si cecenguk itu bisa kuat!" Raefka menendang tong sampah di koridor.
Sekarang adalah waktunya untuk pulang dan tadi saat pelajaran olahraga dia kalahkan oleh Adit dengan sangat mudah.
Niatnya mau mempermalukan justru dia yang menjadi malu karena gagal mengalahkan murid yang terkenal pecundang itu.
"Apa yang kalian lihat, hah!?"
"Maaf.."
Raefka menjadi tempramental karena menjadi pusat tatapan orang-orang, tentu mereka pasti membahas kekalahan barusan.
"Aditnya Narayan aku tidak akan memaafkanmu!" geram Raefka mengatupkan giginya.
***
Di sisi lain, sesuai janji tadi pagi.
Adit dan Emilia sekarang ada di bus untuk menuju cafe yang menjadi tujuan, dengan arahan lokasi sistem Adit tahu lokasi cafe yang baru saja dia dapatkan.
"Adit aku baru dengar kalau kamu punya cafe?" di samping Adit, ada gadis yang menatap dengan berbinar-binar, terlihat jelas sekali kalau dia menanti-nanti tempat cafe yang dimaksud.
"Oh, cafe itu milik... Ayah dan ibuku, karena mereka berdua sedang sakit jadi sekarang aku harus menjaganya." Adit berbohong dengan payah sekujur muka terlihat berkeringat dan dia tersenyum kaku.
Tapi bagi Emilia yang polos dia tidak sadar bahwa sedang ditipu. "Jadi begitu ya? Kamu dan Keluarga terdengar sangat akrab."
"Seperti itulah... omong-omong bagaimana dengamu?" tanya Adit.
Sebelum dia menyadari bahwa pertanyaan barusan adalah bom ranjau yang seharusnya tidak usah diungkit.
"...Aku benci keluargaku," lirih Emilia tapi menekankan.
Mendengar itu Adit jadi ingat tentang kondisi keluarga Emilia yang berantakan. "Maaf."
Bus berhenti dan Emilia melangkah terlebih dahulu disusul oleh Adit.
Sepanjang jalan Adit merasa tidak enak karena bertanya tentang hal pribadi dan dia harusnya tahu bahwa topik keluarga sangat dibenci Emilia.
Berjalan beberapa menit akhirnya mereka sampai di cafe.
"Ini tempatnya?"
Adit menganggukan kepala."Ya."
Cafe yang dimiliki Adit sangat lah luas, kursi dan meja tertata dengan rapi. Aroma kopi yang segar dan lezat mengepul saat pintu terbuka.
Interior dengan warna cream, dan kursi kayu dibalut kain lembut menambah kehangatan dan kenyamanan bagi siapapun yang menggunakan. Secara singkat cafe ini sangatlah menenangkan.
Emilia terdiam di depan pintu tidak bisa berhenti kagum untuk menatap.
"Kamu boleh duduk di salah satu kursi," kata Adit melihat gadis yang disampingnya.
"Serius? Tapi aku bukan pelanggan."
"Memang bukan, tapi kita teman, 'kan? Tidak perlu sungkan dan tenanglah."
Mendengar perkataan dari Adit, Emilia tersenyum. "Baik terima kasih." Lalu dia duduk di salah satu kursi.
Adit juga ingin duduk berhadapan dengan Emilia, ingin berbincang-bincang, tapi dia harus mengubah pikiran itu karena tiba-tiba sistem memberikan misi.
[Ding! Mendapatkan misi baru]
[Buatkan coffe untuk Emilia]
[Hadiah, 700 coin dan 5 poin status]
Adit menghela nafas. "Kamu tunggu sebentar akan kubuatkan coffe." Adit langsung melangkah ke dapur tanpa menunggu jawaban dari Emilia karena dia yakin gadis itu pasti mau menolak.
Sesampainya di tempat pembuat coffe.
Adit bingung. "Sekarang bagaimana caraku membuatnya?" tanya Adit memegang dagu.
Seumur hidup Adit tidak pernah melihat alat-alat canggih untuk membuat coffe, yang dia tahu hanya membuat coffe bubuk.
"Sudahlah kubuat kopi kapal api saja."
[Ding! Sistem tidak menyarankan.]
[Ding! Sistem tidak menyarankan]
[Ding! Sistem tidak menyarankan]
[Ding!]
[Ding!]
"Berisik! Lalu bagaimana cara menggunakan alat ini? Seumur hidup baru pertama kali aku menjadi pegawai cafe." Adit jengkel karena suara sistem terus bergema.
[Dengan coin anda bisa membeli segala Skill, entah itu Skill memasak, berkebun, olahraga, mendaki gunung, menulis, dan banyak hal lagi.]
"Waoo. Itu seperti mengechit," ungkap Adit kagum karena informasi dari sistem. "Jadi kegunaan coin bukan hanya untuk menukar emas, aku juga bisa membeli skill... meski telat menyadari, tapi ini seperti game."
"Oke sudah kuputuskan, aku akan membeli Skill memasak." Tangan Adit menekan beberapa opsi dan menyentuh Skil memasak.
[Skil memasak]
[Penjelasan skil: Dengan skill ini anda bisa menjadi chef nomor satu, bisa memasak apapun itu. Segala informasi tentang dunia permasakan akan muncul di kepala anda.]
[Harga skill, 250 coin]
[Apa Tuan ingin membeli skil ini?]
[Ya/Tidak]
Adit tersenyum lebar, sungguh kekuatan yang curang. Tapi peduli amat, dia memutuskan untuk menekan opsi [Ya]
[Skil terbeli]
[-250 coin berkurang]
[Sisa coin, 850]
Setelah Adit membeli skill memasak, otak dia dengan cepat penuh dengan informasi segala jenis masakan yang ada di dunia ini, bahkan saat ini Adit yakin bisa memasak makanan internasional jika mau.
Lalu Adit berpikir untuk membuat makanan paling enak yang bisa dibuat sesuai bahan-bahan yang ada di dapur.. Dia membuat kue yang cukup besar ini semua demi menyenangkan Emilia, itung-itung juga sebagai permintaan maaf karena menyingung tentang keluarga.
Dengan informasi dari sistem Adit membuat kue dan coffe dengan sangat mudah.
Beberapa saat kemudian Adit kembali ke kursi Emilia sambil membawa kue dan cofe.
"Kenapa lama sekali?" tanya dia mengeluarkan muka cemberut. Emilia kurang lebih sudah menunggu selama 30 menit lebih.
"hahaha, maaf. Aku perlu banyak waktu untuk membuat kue ini." Adit menelatakan kue yang menggoda di meja makan.
"Ini, 'kan kue yang trending di TV itu, kan? Bukannya harga mahal dan pembuatan rumit... bagaimana caramu membuat ini?" tanya Emilia berbinar-binar.
"Itu mudah saja," sahut Adit dengan senyuman sombong. 'walaupun ini hasil chet.' tambah batin.
"Apa aku boleh memakan ini?"
"Aku membuat untukmu tentu boleh."
"Terima kasih!"
Tanpa mengunggu lama, Emilia menyantap kue tersebut dengan lahap. Cara dia makan terlihat seperti tupai yang mengunyah kacang dan itu sangat imut di mata Adit.
"Ini sangat enak~"
Adit hanya bisa tersenyum melihat Emilia yang makan dengan senang hati, melihat dia makan saja hatinya serasa dingin ringan, seolah semua perasaan buruk telah disuci.
[Ding! Selamat anda berhasil menyelesaikan misi]
[Hadiah, 700 coin dan 5 poin status]
[Anda naik level]
Nama: Aditya Narayan
Umur: 17 tahun
Pekerjaan: pelajar SMA
Level: 4
Kekuatan: 7
Kepintaran: 7
Kelincahan: 6
Skill: Ahli memasak
Adit juga merasa senang karena dia naik level dan statusnya naik. Sejak dari tadi dia terus tersenyum, apalagi melihat Emilia.
"Apa seenak itu?" tanya Adit, tidak berhenti menatap Emilia.
"Ya sangat enak."
Adit membulatkan matanya, mungkin karena terlalu semangat saat makan. Di pipi Emilia terdapat noda kue yang membekas, memang kecil tapi ini menganggu bagi Adit.
"Emilia, aku senang kamu menikmati makanan ini. Tapi makan jangan belepotan," ucap Adit menahan tawa.
Adit merentangkan tangan, menyentuh pipi Emilia dengan lembut dan mengambil noda itu. "Dengan begini bersih," ucap Adit, kemudian menjilat noda bekas dari pipi Emilia. "Wah ternyata seenak ini~"
Tubuh gadis itu menjadi gemetaran, ia menahan rasa malu yang luar biasa dan menundukan kepala, menyembunyikan rona merah di sekujur wajah dan kepulan asap yang muncul di kepala.
[Ding! Selamat anda menyelesaikan misi rahasia]
[Membuat Emilia salah tingkah telah berhasil]
[Hadiah, 250 coin dan 10 poin status]
[Anda naik level]
"Eh, yang ini juga termasuk misi?" Adit bingung karena tindakan asalnya ternyata ada misi tersembunyi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Alaina Sulifa Kaplale
sumpah keren bangettt
2023-12-13
3
Nazrul
😂😂
2023-12-06
2
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏
2023-11-14
2