Jam istirahat telah dimulai Adit ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran, tapi dia ditahan oleh Bagas.
“Mau kemana kamu?” tanya Bagas menghalangi pintu keluar.
Adit hanya menghela nafas lalu berpaling muka. “Pergi kemanapun itu bukan urusanmu.”
“Oh, udah berani ya sama aku! Padahal Cuma beruntung bisa jawab soal dari pak Agus udah sombong.” Bagas memegang kerah baju Adit dan menatapnya tajam.
Beberapa siswa mulai ketakutan karena menganggap pembulyian lagi-lagi dimulai, apalagi Adit baru saja menjawab soal susah yang bahkan tidak bisa dijawab oleh Bagas, hal ini tentu membuat dia sangat marah.
“Kenapa diam saja? Hahahaha apa kamu ketakutan?”
Mendengar ejekan dari Bagas tidak membuat Adit marah dia justru memunculkan senyuman.
“Kenapa malah tersenyum dasar menjijikan!”
Tidak bisa menahan amarah lagi, Bagas melayangkan pukulan keras ke arah Adit, sebuah pukulan mematikan yang sering sekali diterima.
Tapi pukulan seperti itu terlihat sangat lambat bagi Adit yang sekarang, dengan mudah pukulan itu ditahan mengunakan satu tangan.
Dia bahkan tidak menggunakan kemampuan sistem, bagi Adit yang telah hidup tujuh tahun lebih tua pukulan anak SMA seperti serangan anak kecil baginya.
Bagas dan siswa lain membuka mata lebar. Ini pertama kali melihat Adit berani melawan bahkan pukulan maut yang melegenda dari Bagas dihentikan dengan sangat mudah.
“Apa Cuma segini?” tanya Adit mengejek.
“sialan! Jangan sombong!”
Merasa tersinggung, Lagi-lagi Bagas melayangkan pukulan yang lebih kuat, meskipun begitu, Adit masih mampu dihindari dengan mudah.
“Bajingan, sebenarnya apa yang terjadi dengan pecundang ini?” Batin Bagas karena merasakan sesuatu yang berbeda dari Adit.
Pertama Adit bisa mengerjakan soal yang bahkan Bagas tidak mampu.
Kedua sikapnya sudah lebih berani dan tidak pecundang.
Dan sekarang, dia bisa menahan dan menghindari pukulan Bagas?
Padahal dia hanya pecundang tapi sekarang sudah sangat berani!
Semua yang terjadi berhasil membuat Bagas naik darah, wajah dia menjadi merah karena menahan amarah.
Di sisi lain Adit hanya menatap Bagas tapi tatapan sangat berbeda dari biasanya sehingaa membuat Adit menjadi gemetaran.
“Aku malas berurusan denganmu jadi lebih baik pergi,” ucap Adit dengan santai dan melangkahkan kaki menuju keluar.
“Hei tunggu!” teriakan dari Bagas tidak direspon dan sekarang Adit telah menghilang entah ke mana. “Bajing*n! Awas saja nanti!” Umpak dia penuh emosi.
Isi kelas 2 A menjadi heboh. Adit benar-benar berubah tanpa alasan yang jelas hari ini.
Banyak orang yang berpikir apakah dia adalah singa yang sejak dulu hanya pura-pura tidur?
...***...
Adit saat ini berada di kantin yang ramai.
‘Wah… kantin ramai seperti biasanya.’ Batin Adit menatap ke sepenjuru kantin.
Adit berjalan karena ingin membeli sesuatu untuk dimakan, sebenarnya saat ini juga Adit seperti objek pemandangan, terus di tatap dan ditertawakan, tapi dia bersikap cuek dan terus berjalan, hingga suara gaduh menghentikan langkah.
Sebuah pelecehan terlihat jelas di depan mata. Ada sosok siswi wanita sedang dirayu oleh siswa laki-laki.
Lelaki itu terus meraba-raba rambut halus dari wanita dan mengendusnya. “Ah~ kamu sangat wangi… jadi bagaimana apakah kamu ingin menjadi wanitaku?” tanya pria itu dengan wajah menjijikan.
SIswi perempuan terlihat jelas ketakutan dan gemetaran, dia ingin sekali menolak tapi itu tidak mungkin karena sosok yang ada di depan adalah Rivan, salah satu dari geng Eskumat yang terkenal di sekolah ini, sebuah geng yang tidak bahkan tidak bisa digapai oleh para guru di sekolah.
Eskumat sering melakukan kekerasan, perundungan, dan menganggu para murid yang terkesan lemah geng ini juga pernah terlibat dalam penjualan narkob*
Melawan geng Eskumat dan anggota sama saja cari mati, jadi sangat wajar jika siswi wanita ketakutan.
“B-bisa hentikan ini,” lirih gadis itu dengan gemetaran, tapi Rivan terus bermain dan mengendus aroma wangi dari rambutnya.
“Apa kamu terganggu sayangku?” Bukannya berhenti Rivan malah merangkul pundak dengan sok mesra, tidak tangung-tangung dia juga sedikit meraba dua gunung kembar milik si gadis. “Punyamu ternyata cukup berisi.”
“Nh.. tolong hentikan,” lirih dia ketakutan.
"Kamu semakin cantik jika melawan." Rivan tidak berhenti dengan meraba-raba, dia juga mencium lehernya dengan paksa.
Sungguh tindakan bejad di pagi hari, padahal semua orang melihat dengan jelas tapi tidak ada yang berani menghentikan. Ini karena Rivan terkenal menakutkan dan kejam bahkan ada kabar yang pernah mencoba melawan Rivan, tapi orang itu dipukul hingga masuk ke rumah sakit.
Gadis itu bernama Emilia, seorang wanita malang yang menarik perhatian Rivan. Dilecehkan seperti ini sudah seperti rutinitas harian bagi Emilia.
Hampir setiap hari entah itu di kantin atau dimanapun, setiap Emilia bertemu Rivan maka dia terus digoda dan dilecehkan.
Jika ingatan Adit benar, dia masih mengenang kejadian di tahun 2016 di mana Emilia diperk*sa oleh Rivan dan karena depresi Emilia memutuskan bunuh diri dengan melompat dari atap sekolah.
Tapi meski mengetahu tentang hal apa yang akan terjadi, Adit bersikap acuh dengan pelecahan di depan matanya.
Toh apa yang akan dia dapat jika membantu?
Dia sangat ingat bahwa kehidupannya dulu juga sama menyedihkan jadi jika ada orang yang menderita justru memberikan kesenangan pribadi baginya.
‘Dengan ini dunia menjadi adil. Jika aku menderita kalian juga harus menderita.’ Batin Adit melangkah menjauh.
[Ding! Ding!]
[Misi pertama]
[Ubah takdir kematian Emilia dan selamatkan dia dari pelecehan]
[Informasi misi : Kematian emilia kelak akan mengundang malapetaka bagi Tuan jadi menyelamatkan dia adalah cara untuk mengubah takdir]
[Hadiah 100 coin dan 10 poin]
Baru saja Adit ingin membeli sesuatu untuk makan tapi tiba-tiba layer nofikasi muncul begitu saja, membuat langkahnya terhenti.
‘Misi? Bagaimana jika aku menolak?’ tanya Adit membatin karena dia tidak mau menolong emilia.
[Misi dari sistem bersifat mutlak!]
[Tuan bisa saja mengabaikannya, tapi seperti yang telah sistem jelaskan. Kematian Emilia akan membawa bencana bagi anda.]
[Dan juga Tuan bisa mendapatkan 100 coin]
‘Coin?’
[Ya, Tuan. Dengan sepuluh coin anda bisa menukar dengan emas nyata, anda bisa menjual dan mendapatkan banyak penghasilan.]
[Jika punya uang sama saja artinya Tuan bisa menyembuhkan peyakit ibu anda di rumah sakit. Dengan ini masa depan bisa dirubah]
Adit berpikir sejenak, memang benar alas an kematian ibu adalah karena dia tidak sanggup membayar uang rumah sakit.
Tapi, kini dia punya sistem yang bisa menghasilkan emas bukankah itu sudah lebih cukup untuk menyembuhkan ibu dan ayahnya.
Adit tersenyum karena menyadari suatu hal. ‘Baiklah akan kuterima misi itu, sistem.’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
M Faathir
psiko" hehe
2024-02-14
1
Tatang
nah gue demen nih cerita Sistem ga Over Power jd terlihat lebay...
2024-01-11
3
Agus Sugiarto
Emilia perempuan rambut wangi & adit laki-laki
Akan ku ingat selalu
2024-01-06
4