Saat ini, semua siswa kelas 2 sedang semangat mengikuti kegiatan olahraga. Mereka sangat aktif, kecuali satu murid bernama Adit.
Disaat semua murid berkeringat dan kelelahan, dia justru diam saja dan duduk bersenderan di pohon dekat lapangan sekolah.
Tidak ada murid yang mau menegurnya apalagi setelah kejadian di depan gerbang. Kecuali satu siswi perempuan yang tampak khawatir dan berjalan mendekatinya.
"Adit, kenapa kamu malah duduk santai? Apa kejadian tadi pagi masih menganggumu?" tanya siswi tersebut yang tidak lain adalah Emilia.
Adit menoleh, akan jadi bohong jika berkata 'tidak' karena faktanya dia sangat terganggu. Disisi lain dia merasa puas wanita jalan* itu pergi, tapi disisi lain dia sedikit kecewa. Ada sedikit harapan bahwa dia bisa merubah masa depan di mana Sarah tidak selingkuh, tapi itu tidak bisa terjadi.
Melihat Adit yang tidak menjawab dan malah diam saja justru Emilia makin khawatir. "Sudah kuduga, lebih baik kamu pergi ke UKS untuk menenangkan diri dan beristirahat."
"Aku baik-baik saja," sahut Adit dengan tersenyum karena cara Emilia menunjukan sikap khawatir sangatlah asli tidak ada kebohongan.
"BTW, jadi bagaimana apa kamu mau pergi ke cafe miliku setelah pulang?"
"Itu... akan kupikirkan."
"Akan kutunggu jawabanmu."
Di kejauhan, ada siswa yang tampak tampan dengan wajahnya dan dia terlihat kuat. Dia tidak lain adalah Raefka. Raefka sudah mendengar semua cerita dari Sarah, sebagai penggila Sarah tentu Raefka marah karena Adit putus dan tampak akrab dengan wanita lain.
"Bajingan itu berani-beraninya membuat Sarah menangis." Gumam Raefka kesal karena saat mendengar cerita dari Sarah, gadis itu menangis.
Sebenarnya, kedekatan antara Emilia dan Adit mengundang kontroversi, banyak murid berpikir bahwa alasan kenapa Adit, si pecundang PUTUS dengan Sara karena adanya Emilia. Kedekatan ini tampak disadari mengundang kebencian untuk keduanya.
Emilia karena kelelahan sehabis olahraga, dia dengan ragu-ragu dan canggung memutuskan untuk duduk di sebelah Adit.
Melihat hal ini, Raefka semakin geram dan kesal. "Jadi karena wanita itu? Adit, kamu berkhianat dan lebih memilih si lacu* itu!"
Kemudian, Raefka menendang bola ke depan dan sengaja mengarahkan ke Emilia.
Bola itu melaju dengan cepat dan tidak ada satupun yang berteriak untuk menyuruh menghindar.
Karena semua pikiran murid sama, wanita bernama Emilia menyebalkan karena itulah dia layak untuk menerima luka dari bola.
"Emi, awas!"
Namun, semua terkejut akan apa yang dilakukan Adit setelah ini. Dia dengan cepat menarik lengannya dan membawa gadis di kedalam pelukannya.
Emilia merasakan tubuh dan kedua pipinya kini memanas, tubuh kecilnya berada dalam pelukan erat dari Adit.
"Hei Raefka apa yang kamu pikirkan? Bagaimana jika dia terluka?" tanya Adit marah.
Namun, Raefka lebih marah apalagi setelah melihat kedekatan antara mereka bedua.
"Yang kenapa itu kamu? Berani sekali membuat Sarah menangis! Dan tidak berhenti disitu saja, kamu juga terang-terangan selingkuh! Apa kamu tidak memikirkan perasaan Sarah?"
"Kenapa kamu mengungkit Sarah? Dia tidak ada hubunganya dengan ini!"
"Tentu ada! Aku marah melihat kamu yang lebih memilih si lacu* itu daripada Emilia."
Bagi Adit, perkataan dari Raefka sudah diluar batas, dia hanya orang bodoh yang di mabuk cinta dan tidak bisa melihat kebenaran. Fakta mirisnya, justru Adit yang diselingkuhi dari awal. yang lacur justru adalah Sarah.
"Aku kasihan dengamu. Aku tahu kamu gila dengan Sarah, tapi tidak kusangka kamu dengan mudahnya dibodohi," ucap Adit merendahkan.
"Bajingan, coba tarik kembali perkataanmu!" Raefka terluap oleh api amarah.
Situasi makin parah, apalagi Adit melepaskan pelukannya dan mendekati Raefka seolah ingin bergelud.
Sebelum kondisi terburuk terjadi, Pak Hanawan, guru olahraga meniup sempritan dan berhasil menghentikan langkah Adit.
"Cukup! Ini waktunya olahraga bukan berantem," tegur Pak Hanawan tidak kalah emosi.
"Tapi pak dia yang mulai-"
"Gak ada tapi-tapian! Jika ingin berkelahi, maka selesaikan dengan cara normal. Karena ini jam olahraga selesaikan dengan pertandingan sepak bola."
Raefka tersenyum penuh kemenangan, kebetulan sekali dia jago dalam bola dan dia mempunyai kepercayaan diri untuk menang, dengan kemampuan ini dia akan mempermalukan Adit karena dia memahami bahwa lelaki pecundang seperti Adit tidak bisa bermain bola.
"Itu tawaran yang bagus. Adit mari selesaikan ini dengan bola."
Adit hanya tersenyum, jujur dia payah. Tapi tenang saja ada sistem yang akan menemani.
"Jika aku menang maka bersujud dan meminta maaflah ke Sarah dan jauhi gadis itu!"
"Oke, itu kalau kamu menang. Habisnya aku tidak melihat adanya kemungkinan untukmu menang."
Pertandingan 1 VS 1 telah dimulai, pertarungan bola ini ditonton oleh banyak murid, bahkan hampir semua angkatan Adit menonton, temasuk wanitan anjin* itu, sarah.
'Hahaha, mampus kamu. Dengan ini kamu pasti malu,' batin Sarah terkekeh, dia sadar akan kelemahan Adit di olahraga.
Semua orang berpikir bahwa Raefka bisa menang dengan mudah apalagi dia adalah bos dari geng Eskumat, tentu dia tidak bisa diremehkan.
"Sampah itu mengali kuburan sendiri. Mana mungkin dia menang dengan Raefka,"
'Itu bayaran karena membuat Idola kami, Sarah sedih. Hajar dia Raefka.'
'Hajar-hajar jangan kasih kendor.'
Di tengah hujatan para murid, hanya Emilia saja yang mendukung Adit. 'Adit, kamu pasti bisa.' batinya, dia sebenarnya ingin berteriak tapi malu.
"Cetak tiga gol dan kamu akan jadi pemenang, bagaimana apakah kamu setuju?" tanya Raefka sudah siap untuk bermain.
"Heh, sepuluh pun aku bisa.," gumamnya.
"Oke, bertarungnyah dengan sprottif!" kata Pak Hanawan.
Pritt
Begitu peluit dibunyikan, Raefka sudah menyerang dengan cepat, sangat cepat hingga Adit tidak bisa merespon dan tanpa disadari dia telah melewati penjagaannya.
Memang Raefka adalah jenius dalam atletik, tubuhnya yang penuh otot tidak bisa di bandingkan dengan tubuh kurus Adit.
"Hahaha apanya yang sepuluh, kamu akan kebobolan satu poin!"
Goll
Karena berhasil melewati Adit, Raefka berhasil menendang bola dan mencetak satu poin.
"Sudah kuduga, dia hanya banyak omong." kata para murid.
"Babat habis dia Raefka, buat dia malu!" teriak para sisiwi perempuan.
Pritt
Peluit di bunyikan sekali lagi dan pertandingan kembali dimulai.
Kali ini Adit tidak akan teledor kalau dua gol lagi hilang maka dia kalah.
"Apa kau sudah siap pecundang?"
"Aku siap kapanpun."
Prit
Setelah peluit dibunyikan, lagi-lagi Raefka mengiring bola dan melewati Adit dengan kecepatan berlarinya.
"Hahaha ini sangat mudah," ejek Raefka karena bisa melewati penjagaan Adit dua kali.
Namun Adit yang sekarang berbeda.
"Aku tidak akan membiarkan bola gol!" ujar Adit dengan mantap.
[Ding! Menambahkan + 5 poin status kecepatan]
[Poin berkurang -5]
[Sisa poin 15]
Setelah meningkatkan status kelincahan, Adit bergerak lebih cepat, larinya seperti lebih cepat dari Raefka dan dia berhasil merebut bola.
"Apa?" Raefka terkejut karena tiba-tiba Adit makin cepat."Tidak akan kubiarkan!" Raefka yang melihat Adit menggiring bola, mempercepat larinya.
Tapi dia tidak bisa menggapai kecepatan Adit.
Shot
Goll
Adit menendang bola dan berhasil mencetak gol. Semua orang terkejut akan hal ini, setelah kejadian di kantin, lagi-lagi Adit menunjukan taringya.
"Sial itu hanya beruntung, selanjutnya."
Adit dan Raefka kembali ke posisi awal, saling berhadapan di tengah dengan bola tanpa ada yang menyentuh.
Pritt
Ketika peluit ditiupkan, Raefka ingin mengambil bola yang ada di tengah lingkaran, tapi Adit sudah bergerak lebih dulu.
Dia menggiring bola dengan kecepatan tidak masuk akal dan sampai di gawang lalu menendang bola.
Baru hitungan detik dia sudah mencetak gol.
"Serius?" Keringat dingin mengalir, raefka tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia sadar akan sosok asli yang ada di tubuh Adit
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
lucky girl
kan adit udh putus, berarti udh ga ada hubungannya lagi dong sama sarah! kok di bilang selingkuh iri lo?!/Doubt//Sly//Sly/
2023-11-23
6
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍👍🙏
2023-11-14
2
Eros Hariyadi
Kalahkan anteknya si Jalang Tengil dengan cara yang memalukan, byar kapookk sekalian...😝😄💪👍👍💪
2023-11-14
2