“Pak apa tidak bisa lebih cepat lagi?” tanya Adit karena angkot yang dia naiki terasa sangat lambat.
“Bisa Sih bisa, tapi mesin angkot ini sudah cukup tua. Jadi mudah rusak kalau dipaksa,” sahut supir angkot.
“Akan kubayar 500 ribu kalau bisa lebih cepat, tolong aku buru-buru.”
Mendengar perkataan Adit dengan seksama, sopir angkot menancap gas lebih cepat menuju ke rumah sakit tujuan.
Di perjalan yang semakin ramai oleh kendaraan, sopir angkot menatap Adit yang sedang menundukan kepala dan sedikit mengeluarkan air mata.
Melihat seorang bocah seperti Adit mengingatkan ia pada anaknya di rumah. Sambil menyetir dengan santai, supir itu bertanya kembali soal pembayaran.
“Serius ni mau dibayar 500 ribu jika lebih cepat?”
“Benar pak, kedua orang tuaku ada di rumah sakit. Aku harus bergegas.”
Supir itu menjadi sedikit iba, ia memahami perasaan sakit Adit yang harus ke rumah sakit menjengkuk orang tua. Oleh karena itu sopir tidak banyak tanya lagi dan menancap gas lebih cepat.
Setelah beberapa menit akhirnya Adit sampai di rumah sakit.
Karena sudah sampai Adit langsung keluar dan bergegas masuk.
“Pak, maaf sekarang saya hanya bawa uang cash 200 ribu, tapi sisanya akan saya bayar setelah urusan di rumah sakit selesai."
Sopir itu menggelengkan kepala dan menolak uang dari Adit. “Tidak perlu, ambil saja uangnya. Aku gratisin aja.”
“Eh, mana bisa begitu.” Adit menjadi tidak enak padahal tadi dia sudah sombong ingin membayar uang lebih tapi sekarang malah disuruh tidak bayar.
“Kedua orang tuamu sakit, ‘kan? Kamu lebih membutuhkan. Ambil uang itu dan itung-itung untuk menambah biaya pengobatan.”
Adit terdiam, jujur saja dia sudah punya uang lebih untuk pengobatan dan tidak perlu menerima belas kasih dari supir, tapi kebaikan hati dari bapak membuat dia terharu.
“Terima kasih, hutang budi seperti ini pasti akan kubayar kelak.” Adit menundukan kepala merasa hormat atas kebaikan yang dipunya oleh Sopir tersebut.
“Sudah-sudah, anggap sepela aja. Cepat masuk sana dan temua kedua orang tuamu.”
Adit menganggukan kepala dan berlari.
Di dalam rumah sakit sangat ramai oleh keluarga pasian dan pekerja.
Memang rumah sakit ini terkenal akan dengan kualitas yang sebanding dengan rumah sakit internasional.
Saat sampai di dalam Adit langsung menuju meja repsesionis. Karena luas dan banyak dia tidak perlu mengantri.
“Permisi Mbak, saya mau bayar biaya perawatan kedua orang tua saya..”
“Atas nama siapa ya Dek?”
“Ibu Reni dan Bapak Aldo.”
“Sebentar ya, saya cek dulu…”
Adit yang di suruh menunggu hanya bisa pasrah. Meski sekarang dia punya banyak uang, ia tidak punya koneksi apapun dan harus menggunakan cara seperti orang biasa lainya.
Setelah beberapa saat, Mbak Resepsionis kembali dengan membawa membawa selembar kertas yang berisi jumlah keuangan.
“Maaf, mas karena sudah menunggak tiga bulan harga menjadi naik dan kedua orang tua kini berada di ruangan biasa.”
“Iya saya tahu maka dari itu saya mau membayar secepatnya!”
“Baik saya mengerti. Ini biaya untuk kedua orang tua Mas.”
Di berikan kertas faktur pembayaran, Adit yang melihat nominal pembayaran 120 juta hanya bisa tersenyum, nominal yang cukup untuk mengobati kedua orang tuannya.
“Mbak ini bisa lewat transfer, ‘kan?”
“BIsa.. bentar ya.”
Setelah mengirim uang sebesar 120 juta rupiah untuk mengobati kedua orang tua dan membawa ke ruang VIP, Adit yang telah membayar langsung du antarkan ke ruangan mereka.
Ia diantarkan oleh dua suster menuju kamar.
Dan memang benar bahwa kedua orang tuanya ada diruangan biasa dengan perlalatan yang minim.
Melihat kondisi kedua orang tua yang pucat dan terbaring lemah, Adit mencoba untuk sabar dan berjalan mendekati mereka.
“Maaf ayah ibu… tapi jangan khawatir kalian tidak akan mati seperti yang terjadi di masa depan.”
Di bantu oleh suster dan beberapa karyawan, Kedua orang tuannya kini telah berada di ruang VIP.
Dengan perlalatan cangih serta penjagaan ketat selama 24 jam di rumah sakit, Adit akhirnya bisa bernafas lega.
Sambil duduk di ruangan VIP, Adit menatap mereka berdua dan memegang lenagannya.
Momen ini sangat membekas di kepala Adit, tujuh tahun yang lalu atau bisa dibilang sekarang.
Penyakit kedua orang tuanya makin parah dan tunggakan uang makin menumpuk, karena Adit tidak mampu membayar, kedua orang tuanya di usir dari rumah sakit.
Pada saat itu Adit tidak menyerah, dia berusaha semaksimal mungkin merawat kedua orang tua. Melakukan yang terbaik sebisa mungkin, bahkan dia rela tidak makan dan tidak keluar beberapa hari demi menjaga mereka.
Tapi hasil yang didapatkan sangat mengecewakan, kedua orang tuanya menghempuskan nafas terakhir mereka.
Karena itulah dia sangat marah mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit karena membuat dia teringat akan masa lalu buruknya.
Namun, sekarang sudah berbeda. Adit membayar tunggakan bahkan membawa kedua orang tua ke ruangan VIP. Dengan ini nyawa mereka pasti terselamatkan.
“Hiks… Hiks… Aku berhasil, dengan ini ibu dan ayah pasti baik-baik saja.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Nazrul
👍🏻👍🏻
2023-12-06
2
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏
2023-11-07
2
Eros Hariyadi
Hadeeehh...kalo bisa rasanya gw mupeng bangeett kayak Adit, sehingga bisa mendapatkan kesempatan membahagiakan Ke-dua orang tuanya...😝😄💪👍👍👍
2023-11-07
3