Chapter 6. Membayar biaya

“Pak apa tidak bisa lebih cepat lagi?” tanya Adit karena angkot yang dia naiki terasa sangat lambat.

“Bisa Sih bisa, tapi mesin angkot ini sudah cukup tua. Jadi mudah rusak kalau dipaksa,” sahut supir angkot.

“Akan kubayar  500 ribu kalau bisa lebih cepat, tolong aku buru-buru.”

Mendengar perkataan Adit dengan seksama, sopir angkot menancap gas lebih cepat menuju ke rumah sakit tujuan.

Di perjalan yang semakin ramai oleh kendaraan, sopir angkot menatap Adit yang sedang menundukan kepala dan sedikit mengeluarkan air mata.

Melihat seorang bocah seperti Adit mengingatkan ia pada anaknya di rumah. Sambil menyetir dengan santai, supir itu bertanya kembali soal pembayaran.

“Serius ni mau dibayar 500 ribu jika lebih cepat?”

“Benar pak, kedua orang tuaku ada di rumah sakit. Aku harus bergegas.”

Supir itu menjadi sedikit iba, ia memahami perasaan sakit Adit yang harus ke rumah sakit menjengkuk orang tua. Oleh karena itu sopir tidak banyak tanya lagi dan menancap gas lebih cepat.

Setelah beberapa menit akhirnya Adit sampai di rumah sakit.

Karena sudah sampai Adit langsung keluar dan  bergegas masuk.

“Pak, maaf sekarang saya hanya bawa uang cash 200 ribu, tapi sisanya akan saya bayar setelah urusan di rumah sakit selesai."

Sopir itu menggelengkan kepala dan menolak uang dari Adit. “Tidak perlu, ambil saja uangnya. Aku gratisin aja.”

“Eh, mana bisa begitu.” Adit menjadi tidak enak padahal tadi dia sudah sombong ingin membayar uang lebih tapi sekarang malah disuruh tidak bayar.

“Kedua orang tuamu sakit, ‘kan? Kamu lebih membutuhkan. Ambil uang itu dan itung-itung untuk menambah biaya pengobatan.”

Adit terdiam, jujur saja dia sudah punya uang lebih untuk pengobatan dan tidak perlu menerima belas kasih dari supir, tapi kebaikan hati dari bapak membuat dia terharu.

“Terima kasih, hutang budi seperti ini pasti akan kubayar kelak.” Adit menundukan kepala merasa hormat atas kebaikan yang dipunya oleh Sopir tersebut.

“Sudah-sudah, anggap sepela aja. Cepat masuk sana dan temua kedua orang tuamu.”

Adit menganggukan kepala dan berlari.

Di dalam rumah sakit sangat ramai oleh keluarga pasian dan pekerja.

Memang rumah sakit ini terkenal akan dengan kualitas yang sebanding dengan rumah sakit internasional.

Saat sampai di dalam Adit langsung menuju meja repsesionis. Karena luas dan banyak dia tidak perlu mengantri.

“Permisi Mbak, saya mau bayar biaya perawatan kedua orang tua saya..”

“Atas nama siapa ya Dek?”

“Ibu Reni dan Bapak Aldo.”

“Sebentar ya, saya cek dulu…”

Adit yang di suruh menunggu hanya bisa pasrah. Meski sekarang dia punya banyak uang, ia tidak punya koneksi apapun dan harus menggunakan cara seperti orang biasa lainya.

Setelah beberapa saat, Mbak Resepsionis kembali dengan membawa membawa selembar kertas yang berisi jumlah keuangan.

“Maaf, mas karena sudah menunggak tiga bulan harga menjadi naik dan kedua orang tua kini berada di ruangan biasa.”

“Iya saya tahu maka dari itu saya mau membayar secepatnya!”

“Baik saya mengerti. Ini biaya untuk kedua orang tua Mas.”

Di berikan kertas faktur pembayaran, Adit yang melihat nominal pembayaran 120 juta hanya bisa tersenyum, nominal yang cukup untuk mengobati kedua orang tuannya.

“Mbak ini bisa lewat transfer, ‘kan?”

“BIsa.. bentar ya.”

Setelah mengirim uang sebesar 120 juta rupiah untuk mengobati kedua orang tua dan membawa ke ruang VIP, Adit yang telah membayar langsung du antarkan ke ruangan mereka.

Ia diantarkan oleh dua suster menuju kamar.

Dan memang benar bahwa kedua orang tuanya ada diruangan biasa dengan perlalatan yang minim.

Melihat kondisi kedua orang tua yang pucat dan terbaring lemah, Adit mencoba untuk sabar dan berjalan mendekati mereka.

“Maaf ayah ibu… tapi jangan khawatir kalian tidak akan mati seperti yang terjadi di masa depan.”

Di bantu oleh suster dan beberapa karyawan, Kedua orang tuannya kini telah berada di ruang VIP.

Dengan perlalatan cangih serta penjagaan ketat selama 24 jam di rumah sakit, Adit akhirnya bisa bernafas lega.

Sambil duduk di ruangan VIP, Adit menatap mereka berdua dan memegang lenagannya.

Momen ini sangat membekas di kepala Adit, tujuh tahun yang lalu atau bisa dibilang sekarang. 

Penyakit kedua orang tuanya makin parah dan tunggakan uang makin menumpuk, karena Adit tidak mampu membayar, kedua orang tuanya di usir dari rumah sakit.

Pada saat itu Adit tidak menyerah, dia berusaha semaksimal mungkin merawat kedua orang tua. Melakukan yang terbaik sebisa mungkin, bahkan dia rela tidak makan dan tidak keluar beberapa hari demi menjaga mereka.

Tapi hasil yang didapatkan sangat mengecewakan, kedua orang tuanya menghempuskan nafas terakhir mereka.

Karena itulah dia sangat marah mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit karena membuat dia teringat akan masa lalu buruknya.

Namun, sekarang sudah berbeda. Adit membayar tunggakan bahkan membawa kedua orang tua ke ruangan VIP. Dengan ini nyawa mereka pasti terselamatkan.

“Hiks… Hiks… Aku berhasil, dengan ini ibu dan ayah pasti baik-baik saja.”

Terpopuler

Comments

Nazrul

Nazrul

👍🏻👍🏻

2023-12-06

2

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏

2023-11-07

2

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Hadeeehh...kalo bisa rasanya gw mupeng bangeett kayak Adit, sehingga bisa mendapatkan kesempatan membahagiakan Ke-dua orang tuanya...😝😄💪👍👍👍

2023-11-07

3

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1. Pengkhianatan
2 Chapter 2. Dunia tujuh tahun sebelumnya
3 Chapter 3. Misi pertama
4 Chapter 4. Menghentikan pelecehan
5 Chapter 5. Membeli Emas
6 Chapter 6. Membayar biaya
7 Chapter 7. Sejak awal aku ditipu
8 Chapter 8. Memutuskan hubungan
9 Chapter 9. Jam olahraga
10 Chapter 10. Cafe
11 Chapter 11. Melayani pelanggan sampah
12 Chapter 12
13 Chapter 13. Menginap
14 Chapter 14. Ulangan dadakan
15 Chapter 15. Status baru
16 Chapter 16. Mendapatkan bawahan
17 Chapter 17. Ide cermelang dari Bos Adit
18 Chapter 18. Menjadi bos baru
19 Chapter 19.
20 Chapter 20
21 Chapter 21. Rencana
22 Chapter 22. Menyelamatkan
23 Chapter 23. Menyelamatkan 2
24 Chapter 24 Amel dan Emilia
25 Chapter 25. Menuju kantor polisi
26 Chapter 26. Hadiah dari sistem
27 Chapter 27. Hadiah Spesial dari Emilia
28 Chapter 28. Keributan di pagi hari
29 Chapter 29. Menuju Hotel Al-Faris
30 Chapter 30. Dasar sombong
31 Chapter 31. Kondisi rumah sakit yang gaduh
32 Chapter 32. Merasakan perasaan jahat
33 Chapter 33. Membasmi preman jalanan
34 Chapter 34. Membasmi preman jalanan 2
35 Chapter 35. Menjalankan rencana
36 Chapter 36. Surat undangan
37 Chapter 37. Permintaan tolong dan bukti yang membantu
38 Chapter 38. Memberantas geng elang
39 Chapter 39. Menyelesaikan kasus
40 Saran dan kritik
41 Chapter 40. Keluar dari rumah sakit
42 Chapter 41. Ke hotel Al-Faris
43 Chapter 42. Makan di hotel
44 Chapter 43. Joging
45 Chapter 44. Oisi restoran
46 Chapter 45. Mengatasi masalah Oisi restoran
47 Chapter 46. Mengatasi oisi restoran 2
48 Chapter 47. Pelajaran Pak Eko
49 Chapter 48.
50 Chapter 49.
51 Chapter 50.
52 Chapter 51.
53 Chapter 52.
54 Chapter 53.
55 Chapter 54.
56 Chapter 55.
57 Chapter 56
58 Chapter 57
59 Chapter 58
60 Chapter 59
61 Chapter 60
62 Chapter 61.
63 Chapter 62.
64 Chapter 63.
65 Chapter 64
66 Chapter 65
67 Chapter 66
68 Chapter 67
69 Chapter 68
70 Chapter 69
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Chapter 1. Pengkhianatan
2
Chapter 2. Dunia tujuh tahun sebelumnya
3
Chapter 3. Misi pertama
4
Chapter 4. Menghentikan pelecehan
5
Chapter 5. Membeli Emas
6
Chapter 6. Membayar biaya
7
Chapter 7. Sejak awal aku ditipu
8
Chapter 8. Memutuskan hubungan
9
Chapter 9. Jam olahraga
10
Chapter 10. Cafe
11
Chapter 11. Melayani pelanggan sampah
12
Chapter 12
13
Chapter 13. Menginap
14
Chapter 14. Ulangan dadakan
15
Chapter 15. Status baru
16
Chapter 16. Mendapatkan bawahan
17
Chapter 17. Ide cermelang dari Bos Adit
18
Chapter 18. Menjadi bos baru
19
Chapter 19.
20
Chapter 20
21
Chapter 21. Rencana
22
Chapter 22. Menyelamatkan
23
Chapter 23. Menyelamatkan 2
24
Chapter 24 Amel dan Emilia
25
Chapter 25. Menuju kantor polisi
26
Chapter 26. Hadiah dari sistem
27
Chapter 27. Hadiah Spesial dari Emilia
28
Chapter 28. Keributan di pagi hari
29
Chapter 29. Menuju Hotel Al-Faris
30
Chapter 30. Dasar sombong
31
Chapter 31. Kondisi rumah sakit yang gaduh
32
Chapter 32. Merasakan perasaan jahat
33
Chapter 33. Membasmi preman jalanan
34
Chapter 34. Membasmi preman jalanan 2
35
Chapter 35. Menjalankan rencana
36
Chapter 36. Surat undangan
37
Chapter 37. Permintaan tolong dan bukti yang membantu
38
Chapter 38. Memberantas geng elang
39
Chapter 39. Menyelesaikan kasus
40
Saran dan kritik
41
Chapter 40. Keluar dari rumah sakit
42
Chapter 41. Ke hotel Al-Faris
43
Chapter 42. Makan di hotel
44
Chapter 43. Joging
45
Chapter 44. Oisi restoran
46
Chapter 45. Mengatasi masalah Oisi restoran
47
Chapter 46. Mengatasi oisi restoran 2
48
Chapter 47. Pelajaran Pak Eko
49
Chapter 48.
50
Chapter 49.
51
Chapter 50.
52
Chapter 51.
53
Chapter 52.
54
Chapter 53.
55
Chapter 54.
56
Chapter 55.
57
Chapter 56
58
Chapter 57
59
Chapter 58
60
Chapter 59
61
Chapter 60
62
Chapter 61.
63
Chapter 62.
64
Chapter 63.
65
Chapter 64
66
Chapter 65
67
Chapter 66
68
Chapter 67
69
Chapter 68
70
Chapter 69

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!