Tepat setelah Emilia selesai makan kue, tiba-tiba diwaktu yang tidak terduga. Muncul beberapa orang pelanggan yang masuk cafe.
"Di sini ternyata ada cafe, baru tahu aku?" kata sosok pria paruh baya yang terlihat baru pulang kerja.
"Wah, cafe ini sangat indah dan luas. Rugi sekali aku baru tahu sekarang." Wanita yang berdiri disampingnya menambahkan.
Adit yang dari tadi melihat wajah Emilia kini mengganti pandangan menuju ke arah dua calon pelanggan tersebut. "Selamat datang silahkan duduk."
Kedua orang itu berjalan dengan gembira dan duduk saling berhadapan.
"Kursi ini juga sangat lembut, suasana ruangan sangat nyaman. Kenapa tempat seperti ini tidak terkenal?" tanya Wanita itu bingung. Dia melihat sekitar cafe dengan mata berbinar.
"Permisi apa yang ingin anda pesan?" Adit berlagak layaknya pelayan yang ramah dengan senyuman terindah yang bisa dia berikan.
"Apa ini cafe baru aku pertama kali lihat ada cafe di sekitar sini." Pria itu menatap Adit.
"Ya. Bisa dibilang seperti itu."
"Jadi begitu... omong-omong apakah cafe ini milikmu?"
"Bukan. Ini milik orang tuaku dan aku kebetulan menjaga cafe ini setelah pulang sekolah," sahut Adit berbohong.
Tatapan pria itu melihat sekujur tubuh Adit yang masih menggunakan seragam sekolah, dia tidak merasa cerita itu bohong.
Mengabaikan pikiran bodoh tentang Adit yang pemilik cafe ini, Pria itu memutuskan untuk membaca menu.
"Kalau begitu aku pesan... Vanilla latte dan Lamington," pesan Pria tersebut.
"Aku pesan Pastry. Untuk minuman, Vanila latte saja." Wanita itu menutup daftar menu dan menatap Adit.
Adit tersenyum dengan sopan. "Baiklah, mohon tunggu sebentar."
Adit berjalan menuju dapur untuk menyiapkan hidangan pelanggan.
Emilia yang melihat Adit kedatangan pelanggan dan merasa tidak enak hanya numpang, memutuskan untuk sedikit membantu.
"Adit, akan kubantu!" ucap Emilia seraya berdiri dari tempat duduknya.
Langkah Adit terhenti dan dia tersenyum ke arah Emilia. "Tidak perlu, aku bisa urus ini sendiri."
"Tapi."
Tidak mau membuat banyak pembicaraan Adit berjalan dengan lebih cepat menuju ke dapur mengabaikan keinginan dari Emilia yang mau membantu.
Adit bukannya sombong, tapi dia berpikir bahwa dua orang pelanggan dia sendiri sudah cukup lagipula Emilia adalah tamu.
Setelah waktu kurang lebih lima belas menit, Adit kembali membawa pesanan menuju meja dua pelanggan yang menunggu.
Melihat kedatangan Adit. Mereka berdua berhenti bercanda dan melihat makanan serta minuman dengan seksama.
"Silahkan dinikmati." Adit meletakkan meletakkan semua pesanan di meja, kepulan asap menyerbak, aroma menggoda menyerang kedua pelanggan itu.
Tanpa menunggu waktu lama kedua pelanggan tersebut menikmati pesanan.
Dimulai dari sang wanita yang memegang sendok dan mencoba Pastry, ketika sepotong kue itu masuk dalam perutnya, wanita itu merasakan sensasi nikmat yang menggelitik, dia secara tanpa sadar mengeluarkan mata berbinar dan tersenyum. "Ini enak."
"vanilla latte juga hangat dan enak." Pria paru baya berkata, dia menyeruput minuman dengan penuh rasa senang.
Kedua orang saling bersantai, seperti meninggalkan beban yang selama ini mereka timbulkan.
Selang beberapa detik, Cafe milik Adit lagi-lagi kedatangan pelanggan yang saling berdatangan, awalnya hanya berjumlah dua orang, tapi perlahan bertambah seiring berjalannya waktu.
Cafe menjadi penuh dengan banyaknya orang yang mengantri, bahkan tempat parkir juga penuh hingga menciptakan kemacetan di jalan raya, namun itu juga menjadi poin plus, karena justru tempat ramai tersebut menarik para pengunjung.
Adit yang kewalahan karena banyaknya pelanggan pada akhirnya turun tangan dan meminta bantuan dari Emilia, gadis itu dengan senang hati membantu.
Di luar cafe.
Ada lelaki yang menggunakan seragam sekolah persis seperti Adit. Dia mempunyai wajah tampan dengan rambut hitam, dan otot-otot yang berkembang, namun sangat disayangkan pesona itu hilang karena dia memasang wajah galak.
Dia tidak lain adalah Raefka, dia sangat marah dengan kekalahan pertandingan bola antara dia dan Adit.
"Sial.. anak itu benar-benar menyebalkan. Awas saja kalau ketemu nanti!" ujar Raefka menendang kaleng botol dengan kasar.
Langkah Raefka terhenti sejenak, dia tanpa sengaja menatap banyak orang mengantri di cafe bahkan sampai membuat jalanan macet. Raefka bertanya-tanya apa yang membuat cafe ini sangat ramai.
Karena tertarik dan berpikir untuk istirahat Raefka berjalan menuju cafe.
Sesampainya di Cafe, mata Raefka terbelalak, terkejut akan pemandangan yang dia lihat.
Dia menatap sosok wanita cantik yang sangat dia kenal, yaitu Emilia sedang tersenyum sambil melayani para pelanggan.
Emilia yang mendengar lonceng tanda datangnya tamu langsung melirik ke pintu masuk, dia tidak tersenyum. "Selamat datang silahkan dudu-"
Namun, senyuman indah itu pudar. Dia menyadari akan sosok yang ada di depan muka, seorang bos dari geng Eskumat yang sering mengganggunya, dan dia kembali teringat akan tindakan kasar yang telah dia alami selama ini, dia juga ingat waktu Raefka sengaja mengarahkan bola ke dia.
Emilia dengan ketakutan memutuskan untuk memalingkan pandangan, tapi tetap melayani dia karena merupakan pelanggan. "Silahkan duduk tuan."
Tatapan merah penuh amarah tergambar di wajah Raefka, dia kembali teringat tentang bola tadi siang dan betapa dekatnya dia dengan Adit.
"Apa yang wanita murahan sepertimu lakukan di sini?" tanya Raefka dengan mata mengitimidasi.
Tubuh Emilia gemetaran karena tatapan dan suara itu, dia sangat ketakutan. "A... aku hanya membantu teman."
"Teman? Orang sepertimu bahkan punya teman? Orang itu pasti sangat bodoh karena memilih teman tidak berguna seperti kamu."
Perkataan kejam dilontarkan dan ini membuat hati Emilia serasa terkikis.
"Dengar! Wanita sepertimu tidak layak untuk berlagak seperti manusia normal, kamu hanya mainan untuk kami, bermuka kosong dan tidak melawan meski dilecehkan bukannya itu kamu?"
Suasana Cafe menjadi berubah yang sebelumnya penuh kehangatan kini mencengkam, pelanggan-pelanggan yang lain saling berbisik dan menatap keduanya, berpikir bahwa ada perkelahian.
Emilia tidak menjawab dan menerima semua omongan dari Raefka dengan menundukan kepala.
Melihat ini, bukannya kasihan, bos Eskumat justru makin murka. Dia sangat benci dengan Emilia apalagi karena dia bisa dibilang penyebab pujuaan hatinya menangis.
Dengan perlahan, Raefka berjalan menuju Emilia, dia merentangkan tangan, mengambil salah satu minuman dingin lalu menuangkan minuman itu ke tubuh gadis itu dengan pelan-pelan, dimulai dari kepala hingga menyebar sekujur tubuh.
Para pelanggan melongga karena melihat tindakan kekerasan yang tidak layak di cafe, tapi tidak ada yang mau menghentikannya. Itu karena Raefka terlihat sangat mengerikan.
"Lihat? Bahkan dipermalukan seperti ini pun kamu tidak melawan! Hanya diam gemetaran dan bermuka kosong, itu baru mainan kami, Emilia," kata Raefka, lalu dia membanting gelas itu hingga pecah.
Tubuh emilia penuh dengan air, rambutnya basah dan bajunya menjadi lengket karena minuman. Ingin sekali rasanya dia menangis, tapi dia menahan diri, karena tindakan seperti ini sudah sangat ringan bagi Emilia yang bahkan sering dilecehkan.
"Hee~ Gunung kembarmu ternyata cukup berisi,' ucap Raefka dengan genit, seraya memandang seragam Emilia yang menerawang.
"Kalau kusentuh sedikit kamu pasti tidak akan melawan, 'kan?" Seringai menjijikan terlukis di wajahnya, dia merentangkan kedua tangan mencoba menyentuh sesuatu yang tidak boleh.
"Tidak!" Emilia menutup mata mencoba untuk melawan.
-Slap
Ketika Emilia membuka mata. dia melihat bahwa Adit sudah berada di depannya dan melindunginya, dia menahan tangan Raefka hanya dengan satu tangan.
Adit terlihat sangat marah. "Jangan sentuh dia."
Namun, Raefka tidak takut sama sekali, sekarang adalah diluar sekolah itu artinya dia sudah bebas mau melakukan apapun. "Hah? apa yang kamu katakan? Dia adalah mainan kami eskumat, jadi meraba-raba itu adalah hal biasa!"
Tidak kuasa menahan amarah, Adit mencengkram tangan Raefka dengan sangat erat, mengumpulkan otot di satu titik lalu membantingnya dengan sangat keras. "Dasar tuli! Aku bilang jangan sentuh dia dengan tanganmu."
Raefka merasakan rasa sakit yang luar biasa dia hampir saja pingsan karena dibanting, tapi karena fisik yang terlatih dia bisa menahan diri.
"Bajingan! Berani sekali kamu, membantingku-" Raefka ingin berdiri dan membalas serangan barusan, dia ingin memukul wajah Adit.
Gerakan itu memang mematikan, namun bagi Adit itu bukan apa-apa. Merasa kekuatan yang sekarang tidak cukup untuk membuat Raefka mampus, Adit menambahkan poin kekuatan di status.
[Status kekuatan +5]
[Poin status -5]
[Sisa poin, 25]
Dengan kekuatan yang sudah ditingkatkan, Adit melancarkan pukulan sekuat mungkin, membuat tubuh Raefka mental dan menabrak beberapa meja pelanggan hinga menjatuhkan makanan mereka.
Para pelanggan normalnya marah, tapi kali ini tidak ini semua karena tindakan keji dari Raefka sangat menijikan jadi layak menerima pukulan.
"Berani sekali kamu, aku ini pelanggan lo, aku adalah raja, jadi setidaknya berilah rasa hormat!" Sesuai yang diharapkan dari bos geng Eskumat. Dia masih bertahan meskipun babak belur dan bisa berdiri.
Tapi melihat aksi heroik dari Adit, para pelanggan menjadi terbawa emosi dan membela Emilia yang dilecehkan.
"Kamu bukan pelanggan! Berani-beraninya mengganggu gadis dasar pengecut di tempat umum, apakah kamu tidak tahu malu!" tegas dari pria paruh baya yang pertama kali berkunjung.
"Itu benar, kamu adalah pelanggan paling menjijikkan!"
"Keluar sana dasar tidak tahu malu!"
"Cowok kok main fisik ama wanita!"
Pelanggan kini menghujat Raefka bahkan ada yang melemparkan piring, gelas, garpu dan segala barang ke arah Raefka.
Raefka makin murka, dia kalah suara.
"Pelanggan yang terhormat kamu menganggu cafe ini... kamu adalah sampah, jadi membersihkan sampah adalah tugasku!" Adit menendang wajah Raefka hingga mental dan memecahkan kaca, dia terlempar keluar cafe.
Adit mengusir dia dengan paksa.
Tubuh Raefka tergeletak di tanah, ini pertama kali baginya dipermalukan seperti ini. "Awas kalian aku akan membuat semua orang disini mampus besok!" teriak Raefka, namun dia tidak mampu berdiri.
Di dalam Cafe semua orang termasuk Adit tertawa karena menganggap Raefka adalah orang gila.
[Ding! Selamat anda menyelesaikan misi spesial]
[Mengusir Pelanggan sampah!]
[Hadiah, 2.500 coin, 20 poin status]
[Hadiah spesial, armor anti serangan]
[Anda naik level]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Gavin Bae
apa tidak kewalahan adit dan emelia melayanj pelanggan yg begitu banyak?seharusnya cafe adit sudah ada karyawannya 2 atau 3 orang sebelum adit datang.mereka seharusnya menyambut kedatangan pemilik cafe yg baru.
2024-01-31
5
Nazrul
👍🏻👍🏻👍🏻
2023-12-06
3
dita18
emg di cafe Adut gk ada pelayan nya apa ya?
2023-11-12
3