Adit sudah membulatkan tekad, dia berjalan menuju meja tempat Rivan yang masih melecehkan Emilia.
“Hei berhenti dia terganggu!” tegur Adit dengan tegas.
Perkataan dari Adit berhasil membuat seisi kantin terkejut bukan main.
‘Apa dia gila?’ pikir semua orang sama.
‘Dia cari mati. Berani sekali mengganggu Rivan, dan juga dia bukannya si pecundang dari kelas 2 A?'
Aktivitas makan kantin dengan cepat berhenti, dan suasana berubah menjadi mencengkam.
“Hah?” Rivan melirik ke arah Adit dengan tatapan sangar. “Apa maumu dasar sialan!?”
“Dia terganggu lepaskan tanganmu dari pundaknya,” ungkap Adit tanpa menunjukan rasa takut.
-Brak
Rivan memukul meja kantin dengan keras, semua makanan jatuh. “Coba ulang perkataanmu! Ada apa dengan tanganku?”
“Sudah bodoh kamu juga tuli? Aku mengatakan untuk lepaskan tanganmu!” Adit tidak mau kalah dan berteriak.
Suasana semakin ramai, beberapa siswa yang tadinya hanya ingin lewat kantin jadi ikut menonton kejadian langka seperti ini.
Orang yang menantang anggota geng Eskumat sangatlah jarang. Namun meski begitu tidak ada yang memberi respon baik atas tindakan berani dari Adit.
Banyak orang malah menahan tawa karena berpikir bahwa orang lemah dan korban bully seperti Adit tidak mungkin bisa berkelahi.
‘Dia gila! Apa dia mau mati?’ Tidak jauh dari kerumunan, Bagas melihat kejadian. Dia sendiri saja gemetaran, takut jika berurusan sama Rivan.
Mengabaikan semua tatapan yang menuju kearahnya, Adit justru melihat gadis itu dengan seksama. Siswi bernama Emilia akhirnya menangis.
Air mata menetes di kedua kelopak matanya yang berwarna biru, rambut hitam panjang yang menjulang hingga pundak tampak berantakan karena ulah Rivan.
Manik-manik pakaian juga terbuka setengah, memperlihatkan sedikit lekukan dua gunung kembar yang tertutup dengan kain.
Entah kenapa ada rasa emosi yang mengalir dari hatinya ketika melihat sosok emilia mengeluarkan air mata.. Entah lah perasaan apa ini, tapi sejak dulu. Adit terus melihat Emilia yang sering diganggu dan dia dulu tidak berani membantu karena lemah.
Dia merasa bahwa Emilia adalah rekan seperjuangan karena sama-sama ditindas, dia berharap suatu hari Emilia menjadi teman baik. Tapi harapan itu pupus, karena Emilia bunuh diri.
‘Cih!’ desis Adit jengkel karena mengingat kejadian mengerikan tersebut.
“sistem apa kamu bisa mengubah 5 poin yang tersisa menjadi kekuatan?” gumam Adit, dia menyadari bahwa masa otot dari Rivan puluhan kali lebih besar dan jujur dia tidak bisa mengalahkannya.
[Tentu saja!]
[Anda tinggal meningkatkan lima poin di status]
Adit menganggukkan kepala dan melakukan seperti tadi, meningkatkan kekuatan di status.
[ 5 poin berkurang]
[Sisa 0 poin]
[Tuan bisa mendapatkan poin setelah menyelesaikan misi]
Adit merasakan energi di tubuh mengalir dan dia merasa lebih kuat dari sebelumnya, dia tersenyum akan peningkatan kekuatan ini. Dia yakin bahwa dia bisa menang melawan Rivan.
“Hei, woi! Apa kamu dengar? Kenapa dari tadi kamu diam saja!” teriakan dari Rivan membuat kesadaran Adit kembali.
“Sial cecenguk seperti kamu memang harus tahu rasa!” Karena telah emosi Rivan memukul wajah Adit yang sombong.
Serangan itu mungkin bisa menghancurkan rahang manusia dan terlihat sangat cepat. Namun bagi Adit gerakan ini sangat lambat, seperti slow motion di film.
"Lambat."Gumam Adit. Kemudian Adit menghindar dan ia menangkap lengan dari Rivan, menguncinya agar tidak bisa bergerak.
“Apa?” Rivan terkejut bukan main karena dia dikunci oleh siswa yang terkenal sangat lemah. “Bagaimana bisa dia mengunci tubuhku?” batin Rivan penuh amarah.
“Sial! Sial lepaskan!”
Adit tersenyum, lalu dia menekan tangan lelaki itu dengan sangat erat sehingga mengeluarkan suara retakan tangan patah.
“Argh! Sakit apa yang kamu lakukan bocah sialan!?"
“Apa yang kulakukan? Aku Cuma mematahkan tanganmu… lagipula ini hanya sedikit menekan, tapi tanganmu langsung patah… memang tanganmu itu terbuat dari tahu apa?” kata Adit mengejek Rivan.
“As* jangan sombong dulu dasar anak sialan- Argh!”
Adit mematahkan lengan satunya. Itu adalah tangan yang sebelumnya menyentuh sesuatu yang terlarang dari Emilia.
“Oke, oke aku paham… aku akan pergi jadi biarkan aku- Argh!”
Adit menarik kedua tangan yang seharusnya sudah patah dengan sangat kasar. “Enak sekali kamu bilang seperti itu… Selama ini berapa banyak wanita yang sudah kamu nodai? Berapa banyak siswa yang kamu ganggu? Berapa banyak orang yang telah menderita karena ulahmu? Apa kamu bisa menghitungnya! Dibanding mereka semua yang kamu siksa, penderitaan ini lebih enteng!”
Adit mengigit bibirnya dan terus menarik kedua lengan Rivan, kenangan-kenangan buruk di masa depan terus bermunculan.
Di beberapa tahun ke depan korban dari Rivan tidak hanya Emilia saja. Puluhan? Bahkan hampir menyentuh seratus jika dihitung.
Tapi, meski beberapa tahun lagi kejahatan dari Rivan sangat tinggi, tentunya diri Rivan yang sekarang tidak tahu apapun karena dia baru saja melecehkan satu target, yaitu Emilia.
“Stop.. apa yang dari tadi kamu katakan? Aku tidak ingat pernah melakukan banyak hal buruk ke wanita!”
Adit tidak peduli dan terus menarik kedua lengan dengan sangat erat hingga membuat kesadaran lelaki ini hampir pudar.
[Cukup Tuan]
[Jika dilanjutkan lagi dia bisa mati]
“Cih." Adit melepaskan kedua tangannya dan membiarkan dia terjatuh.
Rivan yang hilang kesadaran kini telah pingsan di lantai.
[Misi menghentikan pelecehan berhasil]
[Hadiah 100 coin dan 10 poin]
[Anda naik level]
Nama: Aditya Narayan
Umur: 17 tahun
Pekerjaan: Penjaga Mini market ( kehidupan sebelumnya), pelajar SMA
Level: 2
Kekuatan: 5
Kepintaran: 5
Kelincahan: 0
Setelah naik level dan melihat layer notifikasi dari sistem, Adit merasakan tubuhnya mengalirkan energi aneh dan tubuh dia makin ringan, selain itu dia juga semakin kuat sekarang.
“Anu.. terima kasih.” Emilia berjalan mendekati Adit dan mengucapkan terima kasih.
“Ya, tidak perlu dipikirkan.” Adit tersenyum dan berjalan menjauh.
‘Aditya Narayan, aku benar-benar berhutang budi dengannya.’ Batin Emilia sambal meremas jantungnya, entah kenapa detak jantung dia terus berdecak ketika mengingat sosok Adit yang baru saja menyelamatkannya, kedua pipi Emilia juga mengeluarkan semburan kemerahan.
Saat Emilia menatap penuh kekaguman ke arah Adit. Siswa lain justru menatap ngeri, mereka terkejut, kaget dan tidak bisa percaya orang lemah seperti Adit telah berubah secepat ini.
Di tengah-tengah kerumunan ada satu lelaki dengan jaket putih dengan tudung, dia menggunakan hedset dan memainkan ponselnya. Dari banyaknya orang yang kagum hanya dia yang tampak santai saja.
Lelaki itu adalah Dika salah satu anggota Eskumat. Dika memotret tubuh pingsan dari Rivan dan mengirim ke chat grub.
“Aditya Narayan, ya? Orang bodoh tidak ada habisnya. Berani sekali dia menyakiti anggota Eskumat.” Gumam Dika sambil memainkan hp.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Agus Sugiarto
ripan anggota skakmat tapi Adit ga takut
2024-01-06
4
Ymmers
cepet n mudah bin gampang sekali naik levelnya..
hehehee masih sma.. bikin mudah ya thor.. ✌️😉👌
2023-12-21
2
coco
?????
2023-12-06
3