Chapter 4. Menghentikan pelecehan

Adit sudah membulatkan tekad, dia berjalan menuju meja tempat Rivan yang masih melecehkan Emilia.

“Hei berhenti dia terganggu!” tegur Adit dengan tegas.

Perkataan dari Adit berhasil membuat seisi kantin terkejut bukan main.

 ‘Apa dia gila?’ pikir semua orang sama.

‘Dia cari mati. Berani sekali mengganggu Rivan, dan juga dia bukannya si pecundang dari kelas 2 A?'

Aktivitas makan kantin dengan cepat berhenti, dan suasana berubah menjadi mencengkam.

“Hah?” Rivan melirik ke arah Adit dengan tatapan sangar. “Apa maumu dasar sialan!?”

“Dia terganggu lepaskan tanganmu dari pundaknya,” ungkap Adit tanpa menunjukan rasa takut.

-Brak

Rivan memukul meja kantin dengan keras, semua makanan jatuh. “Coba ulang perkataanmu! Ada apa dengan tanganku?”

“Sudah bodoh kamu juga tuli? Aku mengatakan untuk lepaskan tanganmu!” Adit tidak mau kalah dan berteriak.

Suasana semakin ramai, beberapa siswa yang tadinya hanya ingin lewat kantin jadi ikut menonton kejadian langka seperti ini.

Orang yang menantang anggota geng Eskumat sangatlah jarang. Namun meski begitu tidak ada yang memberi respon baik atas tindakan berani dari Adit.

Banyak orang malah menahan tawa karena berpikir bahwa orang lemah dan korban bully seperti Adit tidak mungkin bisa berkelahi.

‘Dia gila! Apa dia mau mati?’ Tidak jauh dari kerumunan, Bagas melihat kejadian. Dia sendiri saja gemetaran, takut jika berurusan sama Rivan.

Mengabaikan semua tatapan yang menuju kearahnya, Adit justru melihat gadis itu dengan seksama. Siswi bernama Emilia akhirnya menangis.

Air mata menetes di kedua kelopak matanya yang berwarna biru, rambut hitam panjang yang menjulang hingga pundak tampak berantakan karena ulah Rivan.

Manik-manik pakaian juga terbuka setengah, memperlihatkan sedikit lekukan dua gunung kembar yang tertutup dengan kain.

Entah kenapa ada rasa emosi yang mengalir dari hatinya ketika melihat sosok emilia mengeluarkan air mata.. Entah lah perasaan apa ini, tapi sejak dulu. Adit terus melihat Emilia yang sering diganggu dan dia dulu tidak berani membantu karena lemah.

Dia merasa bahwa Emilia adalah rekan seperjuangan karena sama-sama ditindas, dia berharap suatu hari Emilia menjadi teman baik. Tapi harapan itu pupus, karena Emilia bunuh diri.

‘Cih!’ desis Adit jengkel karena mengingat kejadian mengerikan tersebut.

“sistem apa kamu bisa mengubah 5 poin yang tersisa menjadi kekuatan?” gumam Adit, dia menyadari bahwa masa otot dari Rivan puluhan kali lebih besar dan jujur dia tidak bisa mengalahkannya.

[Tentu saja!]

[Anda tinggal meningkatkan lima poin di status]

Adit menganggukkan kepala dan melakukan seperti tadi, meningkatkan kekuatan di status.

[ 5 poin berkurang]

[Sisa 0 poin]

[Tuan bisa mendapatkan poin setelah menyelesaikan misi]

Adit merasakan energi di tubuh mengalir dan dia merasa lebih kuat dari sebelumnya, dia tersenyum akan peningkatan kekuatan ini. Dia yakin bahwa dia bisa menang melawan Rivan.

“Hei, woi! Apa kamu dengar? Kenapa dari tadi kamu diam saja!” teriakan dari Rivan membuat kesadaran Adit kembali.

“Sial cecenguk seperti kamu memang harus tahu rasa!” Karena telah emosi Rivan memukul wajah Adit yang sombong.

Serangan itu mungkin bisa menghancurkan rahang manusia dan terlihat sangat cepat. Namun bagi Adit gerakan ini sangat lambat, seperti slow motion di film.

"Lambat."Gumam Adit. Kemudian Adit menghindar dan ia menangkap lengan dari Rivan, menguncinya agar tidak bisa bergerak.

“Apa?” Rivan terkejut bukan main karena dia dikunci oleh siswa yang terkenal sangat lemah. “Bagaimana bisa dia mengunci tubuhku?” batin Rivan penuh amarah.

“Sial! Sial lepaskan!”

Adit tersenyum, lalu dia menekan tangan lelaki itu dengan sangat erat sehingga mengeluarkan suara retakan tangan patah.

“Argh! Sakit apa yang kamu lakukan bocah sialan!?"

“Apa yang kulakukan? Aku Cuma mematahkan tanganmu… lagipula ini hanya sedikit menekan, tapi tanganmu langsung patah… memang tanganmu itu terbuat dari tahu apa?” kata Adit mengejek Rivan.

“As* jangan sombong dulu dasar anak sialan- Argh!”

Adit mematahkan lengan satunya. Itu adalah tangan yang sebelumnya menyentuh sesuatu yang terlarang dari Emilia.

“Oke, oke aku paham… aku akan pergi jadi biarkan aku- Argh!”

Adit menarik kedua tangan yang seharusnya sudah patah dengan sangat kasar. “Enak sekali kamu bilang seperti itu… Selama ini berapa banyak wanita yang sudah kamu nodai? Berapa banyak siswa yang kamu ganggu? Berapa banyak orang yang telah menderita karena ulahmu? Apa kamu bisa menghitungnya! Dibanding mereka semua yang kamu siksa, penderitaan ini lebih enteng!”

Adit mengigit bibirnya dan terus menarik kedua lengan Rivan, kenangan-kenangan buruk di masa depan terus bermunculan. 

Di beberapa tahun ke depan korban dari Rivan tidak hanya Emilia saja. Puluhan? Bahkan hampir menyentuh seratus jika dihitung.

Tapi, meski beberapa tahun lagi kejahatan dari Rivan sangat tinggi, tentunya diri Rivan yang sekarang tidak tahu apapun karena dia baru saja melecehkan satu target, yaitu Emilia.

“Stop.. apa yang dari tadi kamu katakan? Aku tidak ingat pernah melakukan banyak hal buruk ke wanita!”

Adit tidak peduli dan terus menarik kedua lengan dengan sangat erat hingga membuat kesadaran lelaki ini hampir pudar.

[Cukup Tuan]

[Jika dilanjutkan lagi dia bisa mati]

“Cih." Adit melepaskan kedua tangannya dan membiarkan dia terjatuh.

Rivan yang hilang kesadaran kini telah pingsan di lantai.

[Misi menghentikan pelecehan berhasil]

[Hadiah 100 coin dan 10 poin]

[Anda naik level]

Nama: Aditya Narayan

Umur: 17 tahun

Pekerjaan: Penjaga Mini market ( kehidupan sebelumnya), pelajar SMA

Level: 2

Kekuatan: 5

Kepintaran: 5

Kelincahan: 0

Setelah naik level dan melihat layer notifikasi dari sistem, Adit merasakan tubuhnya mengalirkan energi aneh dan tubuh dia makin ringan, selain itu dia juga semakin kuat sekarang.

“Anu.. terima kasih.” Emilia berjalan mendekati Adit dan mengucapkan terima kasih.

“Ya, tidak perlu dipikirkan.” Adit tersenyum dan berjalan menjauh.

‘Aditya Narayan, aku benar-benar berhutang budi dengannya.’ Batin Emilia sambal meremas jantungnya, entah kenapa detak jantung dia terus berdecak ketika mengingat sosok Adit yang baru saja menyelamatkannya, kedua pipi Emilia juga mengeluarkan semburan kemerahan.

Saat Emilia menatap penuh kekaguman ke arah Adit. Siswa lain justru menatap ngeri, mereka terkejut, kaget dan tidak bisa percaya orang lemah seperti Adit telah berubah secepat ini.

Di tengah-tengah kerumunan ada satu lelaki dengan jaket putih dengan tudung, dia menggunakan hedset dan memainkan ponselnya. Dari banyaknya orang yang kagum hanya dia yang tampak santai saja.

Lelaki itu adalah Dika salah satu anggota Eskumat. Dika memotret tubuh pingsan dari Rivan dan mengirim ke chat grub.

“Aditya Narayan, ya? Orang bodoh tidak ada habisnya. Berani sekali dia menyakiti anggota Eskumat.” Gumam Dika sambil memainkan hp.

Terpopuler

Comments

Agus Sugiarto

Agus Sugiarto

ripan anggota skakmat tapi Adit ga takut

2024-01-06

4

Ymmers

Ymmers

cepet n mudah bin gampang sekali naik levelnya..

hehehee masih sma.. bikin mudah ya thor.. ✌️😉👌

2023-12-21

2

coco

coco

?????

2023-12-06

3

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1. Pengkhianatan
2 Chapter 2. Dunia tujuh tahun sebelumnya
3 Chapter 3. Misi pertama
4 Chapter 4. Menghentikan pelecehan
5 Chapter 5. Membeli Emas
6 Chapter 6. Membayar biaya
7 Chapter 7. Sejak awal aku ditipu
8 Chapter 8. Memutuskan hubungan
9 Chapter 9. Jam olahraga
10 Chapter 10. Cafe
11 Chapter 11. Melayani pelanggan sampah
12 Chapter 12
13 Chapter 13. Menginap
14 Chapter 14. Ulangan dadakan
15 Chapter 15. Status baru
16 Chapter 16. Mendapatkan bawahan
17 Chapter 17. Ide cermelang dari Bos Adit
18 Chapter 18. Menjadi bos baru
19 Chapter 19.
20 Chapter 20
21 Chapter 21. Rencana
22 Chapter 22. Menyelamatkan
23 Chapter 23. Menyelamatkan 2
24 Chapter 24 Amel dan Emilia
25 Chapter 25. Menuju kantor polisi
26 Chapter 26. Hadiah dari sistem
27 Chapter 27. Hadiah Spesial dari Emilia
28 Chapter 28. Keributan di pagi hari
29 Chapter 29. Menuju Hotel Al-Faris
30 Chapter 30. Dasar sombong
31 Chapter 31. Kondisi rumah sakit yang gaduh
32 Chapter 32. Merasakan perasaan jahat
33 Chapter 33. Membasmi preman jalanan
34 Chapter 34. Membasmi preman jalanan 2
35 Chapter 35. Menjalankan rencana
36 Chapter 36. Surat undangan
37 Chapter 37. Permintaan tolong dan bukti yang membantu
38 Chapter 38. Memberantas geng elang
39 Chapter 39. Menyelesaikan kasus
40 Saran dan kritik
41 Chapter 40. Keluar dari rumah sakit
42 Chapter 41. Ke hotel Al-Faris
43 Chapter 42. Makan di hotel
44 Chapter 43. Joging
45 Chapter 44. Oisi restoran
46 Chapter 45. Mengatasi masalah Oisi restoran
47 Chapter 46. Mengatasi oisi restoran 2
48 Chapter 47. Pelajaran Pak Eko
49 Chapter 48.
50 Chapter 49.
51 Chapter 50.
52 Chapter 51.
53 Chapter 52.
54 Chapter 53.
55 Chapter 54.
56 Chapter 55.
57 Chapter 56
58 Chapter 57
59 Chapter 58
60 Chapter 59
61 Chapter 60
62 Chapter 61.
63 Chapter 62.
64 Chapter 63.
65 Chapter 64
66 Chapter 65
67 Chapter 66
68 Chapter 67
69 Chapter 68
70 Chapter 69
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Chapter 1. Pengkhianatan
2
Chapter 2. Dunia tujuh tahun sebelumnya
3
Chapter 3. Misi pertama
4
Chapter 4. Menghentikan pelecehan
5
Chapter 5. Membeli Emas
6
Chapter 6. Membayar biaya
7
Chapter 7. Sejak awal aku ditipu
8
Chapter 8. Memutuskan hubungan
9
Chapter 9. Jam olahraga
10
Chapter 10. Cafe
11
Chapter 11. Melayani pelanggan sampah
12
Chapter 12
13
Chapter 13. Menginap
14
Chapter 14. Ulangan dadakan
15
Chapter 15. Status baru
16
Chapter 16. Mendapatkan bawahan
17
Chapter 17. Ide cermelang dari Bos Adit
18
Chapter 18. Menjadi bos baru
19
Chapter 19.
20
Chapter 20
21
Chapter 21. Rencana
22
Chapter 22. Menyelamatkan
23
Chapter 23. Menyelamatkan 2
24
Chapter 24 Amel dan Emilia
25
Chapter 25. Menuju kantor polisi
26
Chapter 26. Hadiah dari sistem
27
Chapter 27. Hadiah Spesial dari Emilia
28
Chapter 28. Keributan di pagi hari
29
Chapter 29. Menuju Hotel Al-Faris
30
Chapter 30. Dasar sombong
31
Chapter 31. Kondisi rumah sakit yang gaduh
32
Chapter 32. Merasakan perasaan jahat
33
Chapter 33. Membasmi preman jalanan
34
Chapter 34. Membasmi preman jalanan 2
35
Chapter 35. Menjalankan rencana
36
Chapter 36. Surat undangan
37
Chapter 37. Permintaan tolong dan bukti yang membantu
38
Chapter 38. Memberantas geng elang
39
Chapter 39. Menyelesaikan kasus
40
Saran dan kritik
41
Chapter 40. Keluar dari rumah sakit
42
Chapter 41. Ke hotel Al-Faris
43
Chapter 42. Makan di hotel
44
Chapter 43. Joging
45
Chapter 44. Oisi restoran
46
Chapter 45. Mengatasi masalah Oisi restoran
47
Chapter 46. Mengatasi oisi restoran 2
48
Chapter 47. Pelajaran Pak Eko
49
Chapter 48.
50
Chapter 49.
51
Chapter 50.
52
Chapter 51.
53
Chapter 52.
54
Chapter 53.
55
Chapter 54.
56
Chapter 55.
57
Chapter 56
58
Chapter 57
59
Chapter 58
60
Chapter 59
61
Chapter 60
62
Chapter 61.
63
Chapter 62.
64
Chapter 63.
65
Chapter 64
66
Chapter 65
67
Chapter 66
68
Chapter 67
69
Chapter 68
70
Chapter 69

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!