Kejadian barusan membuat pakaian yang dimiliki oleh Emilia basah, karena khawatir Adit membawa gadis itu ke tempat istirahat agar bisa mengeringkan pakaian.
Adit mencari handuk di ruangan istirahat tersebut sedangkan Emilia masih larut akan pikirannya sendiri, menundukkan kepala dan duduk di kursi panjang yang muat untuk dua orang.
Melihat sikap Emilia yang sangat murung, membuat Adit semakin khawatir. Yang dialami Emilia barusan sudah sangat kejam, sebagai korban bullying dia sangat memahami perasaan dipermalukan di depan banyak orang.
"Akhirnya ketemu juga." Adit tersenyum, dia menemukan handuk yang dia cari.
"Nih ambil untuk mengeringkan pakaianmu." Adit merentang, memberikan handuk ke Emilia yang masih menundukkan kepala.
Tidak ada jawaban dari Emilia dan dia makin tampak menyedihkan.
Melihat sikap ini, Adit menghela napas lalu memutuskan duduk di samping Emilia.
"Jika tidak mau maka akan kubantu, jika kamu demam aku akan repot."
Adit menggunakan handuk untuk mengeringkan rambut panjang milik Emilia yang basah kuyup dengan lembut, kemudian membersihkan wajah Emilia.
Dia melakukan dengan sangat lembut, tidak ada hawa nafsu sama sekali. Karena itulah Emilia bisa merasakan kehangatan pribadi dari pria yang duduk di sampingnya.
Meskipun begitu dia tidak terlalu menggambarkan ekpresi dan masih menundukkan kepala.
Adit juga tidak terlalu peduli dengan sikap Emilia, dia masih menggunakan handuk untuk mengeringkan rambut serta wajahnya.
"Sudah selesai!" ucap Adit setelah rambut dan wajah Emilia kering.
Adit berdiri lalu melemparkan pakaian pelayan wanita ke Emilia. Meski rambut dan wajah kering, pakaian Emilia masih basah kuyup.
"Pakai itu kalau mengeringkan pakaian sebagai lelaki aku tidak bisa melakukannya."
Pakaian yang diberikan Adit adalah pakaian pelayanan tipe maid yang lucu dan dia baru saja membelinya di toko sistem.
'Pakaian seperti itu menghabiskan 25 coin, sangat mahal!' batin Adit.
Emilia menatap pakaian yang kini berada di pangkuannya dengan seksama lalu tanpa sadar meneteskan air mata.
"Kenapa kamu menangis?" Adit membelalakan mata, terkejut karena Emilia tiba-tiba menangis.
Dia tidak bisa membiarkan begitu saja dengan gerakan cepat dia mengambil tisu lalu menyeka air mata tersebut.
"Aku tidak apa-apa... hanya sedikit terharu!" Saat tangan Adit hendak menyeka air mata, gadis itu sudah menipisnya.
"..." Gadis itu terdiam beberapa saat, napasnya terus tersedak saat dia ingin bercerita.
"Ini pertama kalinya bagiku diperlakukan dengan baik oleh seseorang. Kedua orang tuaku selalu bersikap kejam denganku, menatap dingin ke arahku, mengunciku di ruangan gelap, melemparkan piring ke arahku, bahkan... sesekali mereka memukulku.. Di sekolah, aku terus diganggu, dilecehkan dan dimanfaatkan..." Dia terus menangis ketika mengatakan hal tersebut seolah itu adalah hal paling menyakitkan yang dia alami.
Adit tersenyum mendengar cerita dari Emilia. "Menangislah sepuasmu, katakan apa yang ingin kamu bicarakan. Aku di sini untuk mendengarmu."
Mendengar hal tersebut, air kata gadis ini makin tumpah tidak terbendung. Dia dengan cepat memeluk Adit.
"Hiks.. hiks.. terima kasih."
Mereka berdua dapat merasakan tubuh saling bersatu, meskipun pakaian Emilia sangat basah, namun ada kehangatan yang hebat dari pelukan tersebut.
Dua gunung miliknya juga tertekan di tubuh Adit sehingga membuat dia tersipu malu. Dalam keadaan normal mungkin Adit akan melepaskan pelukan karena malu.
Namun kali ini berbeda, dia membalas pelukan itu dengan lembut. Mengelus pundaknya dan berkata, "Sama-sama... aku temanmu jadi membantu adalah hal normal."
Sebagai orang yang berasal dari mada depan, Adit sudah tahu semua masalah keluarga dari Emilia. Karena tepat saat Emilia bunuh diri.
Rumor tentang kekerasan di rumahnya tersebar luas bahkan sampai masuk ke TV.
Beberapa orang menyimpulkan bahwa tindakan bunuh diri dari Emilia saat itu adalah karena kekerasan dari rumah. Setelah menyimpulkan hal itu, para polisi datang ke rumah Emilia dan menangkap kedua orang tuanya.
Kurang lebih seperti itu gambaran masa depan yang akan terjadi.
Tapi, Adit akan merubahnya. Dia akan membuat Emilia tidak melakukan tindakan bunuh diri lalu mengungkapkan tindakan kekerasan tersebut.
"Adit," ucap Emilia, membuat pikiran Adit kembali terfokus.
"Ada apa?"
Kedua pipi Emilia memerah. "Itu... sangat memalukan, tapi... karena aku sangat tidak ingin kembali ke rumah, jadi. Apakah boleh aku menginap di tempatmu untuk beberapa saat?"
"Hah?" Kedua matanya terbuka lebar atas permintaan dari Emilia.
[Ding! Selamat Tuan mendapatkan misi baru]
[Membiarkan Emili menginap satu malam]
[Hadiah 200 coin, 10 poin status, 1 skill acak]
Adit juga terkejut karena misi yang tiba-tiba muncul di udara. Hal seperti ini pun menjadi misi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Abbie Jard
buang saja cewe model gitu cengeng an banget.bikin beban saja
2024-09-10
0
Eros Hariyadi
Lanjuuuutt Thor 😝😄💪👍🙏
2023-11-14
2
Eros Hariyadi
Nama kafenya apa yaaa... Thor... cocoknya Kafe Kuburan kaleee yaaa...Kafenya besar, sda tempat parkir mobil luas...tapi kosong melompong, ga da karyawannya samasekali, juru parkir ajaahh...kagak ada...boro² penjaga keamanan...🤔🙄😫😠😝💪👍👍
2023-11-14
3