"Emi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Adit berjalan disebelah gadis tersebut.
Setelah membantai semua anggota Eskumat kini Adit, Dika, dan Emilia berjalan bersama-sama entah mau kemana.
"Aku baik-baik saja, beruntung kamu datang di waktu yang tepat," sahut Emilia tanpa melihat wajah Adit.
Apa kamu serius? Kamu terlihat agak pucat." Adit entah kenapa sudah mulai terbiasa dengan tingkah Emilia, dia yakin bahwa gadis ini sedang memikirkan dan menyembunyikan sesuatu.
"....."
Dika yang berjalan di belakang kedua orang itu dan melihat keakraban mereka dibuat tersenyum penuh menggoda. Dia merasa puas dan senang karena bos yang dia hormati punya hubungan baik dengan perempuan, apalagi Emilia cukup bisa dibilang cantik walau muka dia agak suram.
Mendadak, tanpa menunggu waktu tepat, Emilia berhenti melangkah. Angin berhembusan pada momen tersebut, memainkan rambut hitam panjang Emilia.
Saat dia berbalik dan menatap Adit terlihat bahwa tubuh dia gemetaran, dan berkeringat seolah ketakutan oleh sesuatu.
"Aku sebenarnya belum melakukan ujian... Bahkan mereka menculikku tepat saat aku belum absen, jika orang tuaku tahu akan hal ini mereka pasti akan sangat marah! Mereka pasti akan mengurungku lagi di ruangan gelap itu... hahaha aku paling benci tempat itu.."
Suara milik Emilia terlihat lebih gemetaran dan penuh tekanan, kedua kelopak matanya juga tampak kosong, bagaimana pun ini tidak seperti dia.
"jika aku tidak menjadi 'anak baik' mereka akan memukulku dan melemparkan barang-barang ke arahku.."
"Karena itulah aku harus menjadi 'anak baik"
Ingatan buruk menghantuinya, kenangan di mana dia diperlakukan dengan kejam oleh kedua orang tuanya masih begitu hidup di benaknya. Bahkan sekarang, dia merasa gemetaran dan terjatuh seperti seorang yang terluka parah.
Emilia memegang kepalanya, seolah-olah sedang merasakan luka-luka yang dulu dialami. "Ah... aku sangat membenci ketika mereka melemparkan piring ke arahku, rasanya sangat sakit..."
"Sakit... sakit... sakit... sakit..." bergumam, Emilia menyentuh kepala dengan lembut.
Ketakutan dan gemetaran dari Emilia mampu mengundang rasa khawatir di hati Dika maupun Adit.
Perlahan, Adit mendekat ingin mengulurkan tangan dan membantu. "Emilia aku..." Namun perkataan itu terpotong.
Karena melihat tangan yang mendekat, Emilia justru berpikir bahwa dia ingin diserang.
"TIdak! Tidak! Tidak! Tidak... Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku! Aku akan menjadi 'anak baik' jadi jangan memukulku lagi ayah, ibu!"
Kepala dia serasa berputar-putar, ingatan buruk terus terulang di kepalanya. Napas gadis itu menjadi berantakan, tubuhnya tidak bergerak sesuai keingingan dan mati rasa, dia tanpa sadar mengeluarkan air mata. dan juga dia terus bergumam tentang meminta 'maaf' tanpa henti. MEngaruk-garuk rambut serta wajah, membuat terlihat makin menyedihkan.
Adit tak tahu harus berkata apa, dia bisa melihat betapa dalamnya rasa takut dan kesedihan yang menghantui Emilia, namun setidaknya dia paham apa yang harus dilakukan sekarang.
Adit bergerak terlebih dahulu, membawa Emilia ke dalam pelukan hangatnya karena dia tahu apapun perkataan akan percuma.
Dika berhenti berjalan dan menatap dengan serius dia tidak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku takut... takut..." lirih gadis itu.
Pelukan makin erat ketika air mata menetes, kemudian dia berkata, "Tenang saja aku ada disini, dan juga Emilia sudah cukup menjadi 'anak baik' jadi kamu boleh beristirahat untuk sekarang."
Pengelihatan gadis itu memudar dan karena perasaan campur aduk barusan kini Emilia pingsan di pelukan Adit.
Tubuhnya masih gemetaran meski sudah pingsan, menandakan dia belum tenang sepenuh hati. Adit mengetahui hal tersebut lalu mengendong dia. "Dika bantu aku bawa dia ke UKS."
Mendengar perintah dari Adit, dia memutuskan untuk menganggukan kepala. "Baik Bos Adit."
Masih banyak pertanyaan di otak Dika mengenai kenapa gadis itu bisa menjadi seperti ini? Tapi untuk sekarang, Dika memutuskan untuk bertanya lain kali sekarang dia mengikuti langkah Adit ke UKS.
***
Di UKS
Emilia sudah tertidur lelap di kasur, sedangkan Adit dan Dika mengawasi dengan duduk di sebelah kasur saling berhadapan.
Tatapan mereka tidak lepas dari gadis yang tampak bermimpi buruk itu. Meski tertidur dia mengeluarkan keringat dan berguman tidak jelas, ini membuat kedua orang yang berjaga makin khawatir.
"Apa dia mengalami kekerasan fisik di rumah?" tanya Dika memastikan.
"...Kamu benar."
Adit menarik napas lalu mengeluar rambut Emilia yang masih tertidur dalam mimpi buruk. "Ini membuat hatiku sakit, melihat dia mengalami trauma seperti ini, aku merasa gagal sebagai teman.'
"Bos tidak perlu merasa bersalah masih banyak waktu, jika ingin kita bisa sedikit demi sedikit mengisi hati kosong gadis itu, walaupun akan susah untuk mengurus masalah keluarga orang."
Mungkin perkataan Dika ada benarnya tidak perlu terburu-buru. Hanya saja dia tidak tahu fakta masa depan yang akan terjadi. Jika tidak diproses dengan baik maka cepat akan lambat masa depan di mana Emilia melakukan tindakan bunuh diri.
Akan benar-benar terjadi...
Itu artinya Adit gagal mengubah masa depan. Oleh karena itu Adit harus bergerak lebih cepat lagi.
"Aku ingin membuat dia bahagia, tentu dengan menyelesaikan masalah rumahnya... jadi Dika apa kamu punya kenalan polisi?"
Dika sedikit ragu untuk berkata dia tidak yakin sesuatu yang disebut polisi akan membantu. "...Daripada dibilang kenalan, justru ayahku adalah polisi dia mungkin bisa membantu. Tapi! Kita adalah anak SMA kita tidak punya kuasa untuk itu bahkan bukti pun tidak ada."
Mendengar perkataan Dika, Adit malah tersenyum. "Kalau masalah bukti serahkan padaku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Deki Marsoni
kok jadi lebay ya, gak natural, terlalu mengulur kata kata
2024-03-27
0
Gavin Bae
MCnya bodoh punya kekuatan tapi bodoh.
2024-01-31
1
Nazrul
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
2023-12-06
3