Chapter 19.

"Emi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Adit berjalan disebelah gadis tersebut.

Setelah membantai semua anggota Eskumat kini Adit, Dika, dan Emilia berjalan bersama-sama entah mau kemana.

"Aku baik-baik saja, beruntung kamu datang di waktu yang tepat," sahut Emilia tanpa melihat wajah Adit.

Apa kamu serius? Kamu terlihat agak pucat." Adit entah kenapa sudah mulai terbiasa dengan tingkah Emilia, dia yakin bahwa gadis ini sedang memikirkan dan menyembunyikan sesuatu.

"....."

Dika yang berjalan di belakang kedua orang itu dan melihat keakraban mereka dibuat tersenyum penuh menggoda. Dia merasa puas dan senang karena bos yang dia hormati punya hubungan baik dengan perempuan, apalagi Emilia cukup bisa dibilang cantik walau muka dia agak suram.

Mendadak, tanpa menunggu waktu tepat, Emilia berhenti melangkah. Angin berhembusan pada momen tersebut, memainkan rambut hitam panjang Emilia.

Saat dia berbalik dan menatap Adit terlihat bahwa tubuh dia gemetaran, dan berkeringat seolah ketakutan oleh sesuatu.

"Aku sebenarnya belum melakukan ujian...  Bahkan mereka menculikku tepat saat aku belum absen, jika orang tuaku tahu akan hal ini mereka pasti akan sangat marah! Mereka pasti akan mengurungku lagi di ruangan gelap itu... hahaha aku paling benci tempat itu.."

Suara milik Emilia terlihat lebih gemetaran dan penuh tekanan, kedua kelopak matanya juga tampak kosong, bagaimana pun ini tidak seperti dia.

"jika aku tidak menjadi 'anak baik' mereka akan memukulku dan melemparkan barang-barang ke arahku.."

"Karena itulah aku harus menjadi 'anak baik"

Ingatan buruk menghantuinya, kenangan di mana dia diperlakukan dengan kejam oleh kedua orang tuanya masih begitu hidup di benaknya. Bahkan sekarang, dia merasa gemetaran dan terjatuh seperti seorang yang terluka parah.

Emilia memegang kepalanya, seolah-olah sedang merasakan luka-luka yang dulu dialami. "Ah... aku sangat membenci ketika mereka melemparkan piring ke arahku, rasanya sangat sakit..."

"Sakit... sakit... sakit... sakit..." bergumam, Emilia menyentuh kepala dengan lembut.

Ketakutan dan gemetaran dari Emilia mampu mengundang rasa khawatir di hati Dika maupun Adit.

Perlahan, Adit mendekat ingin mengulurkan tangan dan membantu. "Emilia aku..." Namun perkataan itu terpotong.

Karena melihat tangan yang mendekat, Emilia justru berpikir bahwa dia ingin diserang.

"TIdak! Tidak! Tidak! Tidak... Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku! Aku akan menjadi 'anak baik'  jadi jangan memukulku lagi ayah, ibu!"

Kepala dia serasa berputar-putar, ingatan buruk terus terulang di kepalanya. Napas gadis itu menjadi berantakan, tubuhnya tidak bergerak sesuai keingingan dan mati rasa, dia tanpa sadar mengeluarkan air mata. dan juga dia terus bergumam tentang meminta 'maaf' tanpa henti. MEngaruk-garuk rambut serta wajah, membuat terlihat makin menyedihkan.

Adit tak tahu harus berkata apa, dia bisa melihat betapa dalamnya rasa takut dan kesedihan yang menghantui Emilia, namun setidaknya dia paham apa yang harus dilakukan sekarang.

Adit bergerak terlebih dahulu, membawa Emilia ke dalam pelukan hangatnya karena dia tahu apapun perkataan akan percuma.

Dika berhenti berjalan dan menatap dengan serius dia tidak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi?

"Aku takut... takut..." lirih gadis itu.

Pelukan makin erat ketika air mata menetes, kemudian dia berkata, "Tenang saja aku ada disini, dan juga Emilia sudah cukup menjadi 'anak baik' jadi kamu boleh beristirahat untuk sekarang."

Pengelihatan gadis itu memudar dan karena perasaan campur aduk barusan kini Emilia pingsan di pelukan Adit.

Tubuhnya masih gemetaran meski sudah pingsan, menandakan dia belum tenang sepenuh hati. Adit mengetahui hal tersebut lalu mengendong dia. "Dika bantu aku bawa dia ke UKS."

Mendengar perintah dari Adit, dia memutuskan untuk menganggukan kepala. "Baik Bos Adit."

Masih banyak pertanyaan di otak Dika mengenai kenapa gadis itu bisa menjadi seperti ini? Tapi untuk sekarang, Dika memutuskan untuk bertanya lain kali sekarang dia mengikuti langkah Adit ke UKS.

***

Di UKS

Emilia sudah tertidur lelap di kasur, sedangkan Adit dan Dika mengawasi dengan duduk di sebelah kasur saling berhadapan.

Tatapan mereka tidak lepas dari gadis yang tampak bermimpi buruk itu. Meski tertidur dia mengeluarkan keringat dan berguman tidak jelas, ini membuat kedua orang yang berjaga makin khawatir.

"Apa dia mengalami kekerasan fisik di rumah?" tanya Dika memastikan.

"...Kamu benar."

Adit menarik napas lalu mengeluar rambut Emilia yang masih tertidur dalam mimpi buruk. "Ini membuat hatiku sakit, melihat dia mengalami trauma seperti ini, aku merasa gagal sebagai teman.'

"Bos tidak perlu merasa bersalah masih banyak waktu, jika ingin kita bisa sedikit demi sedikit mengisi hati kosong gadis itu, walaupun akan susah untuk mengurus masalah keluarga orang."

Mungkin perkataan Dika ada benarnya tidak perlu terburu-buru. Hanya saja dia tidak tahu fakta masa depan yang akan terjadi. Jika tidak diproses dengan baik maka cepat akan lambat masa depan di mana Emilia melakukan tindakan bunuh diri.

Akan benar-benar terjadi...

Itu artinya Adit gagal mengubah masa depan. Oleh karena itu Adit harus bergerak lebih cepat lagi.

"Aku ingin membuat dia bahagia, tentu dengan menyelesaikan masalah rumahnya... jadi Dika apa kamu punya kenalan polisi?"

Dika sedikit ragu untuk berkata dia tidak yakin sesuatu yang disebut polisi akan membantu. "...Daripada dibilang kenalan, justru ayahku adalah polisi dia mungkin bisa membantu. Tapi! Kita adalah anak SMA kita tidak punya kuasa untuk itu bahkan bukti pun tidak ada."

Mendengar perkataan Dika, Adit malah tersenyum. "Kalau masalah bukti serahkan padaku."

Terpopuler

Comments

Deki Marsoni

Deki Marsoni

kok jadi lebay ya, gak natural, terlalu mengulur kata kata

2024-03-27

0

Gavin Bae

Gavin Bae

MCnya bodoh punya kekuatan tapi bodoh.

2024-01-31

1

Nazrul

Nazrul

👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

2023-12-06

3

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1. Pengkhianatan
2 Chapter 2. Dunia tujuh tahun sebelumnya
3 Chapter 3. Misi pertama
4 Chapter 4. Menghentikan pelecehan
5 Chapter 5. Membeli Emas
6 Chapter 6. Membayar biaya
7 Chapter 7. Sejak awal aku ditipu
8 Chapter 8. Memutuskan hubungan
9 Chapter 9. Jam olahraga
10 Chapter 10. Cafe
11 Chapter 11. Melayani pelanggan sampah
12 Chapter 12
13 Chapter 13. Menginap
14 Chapter 14. Ulangan dadakan
15 Chapter 15. Status baru
16 Chapter 16. Mendapatkan bawahan
17 Chapter 17. Ide cermelang dari Bos Adit
18 Chapter 18. Menjadi bos baru
19 Chapter 19.
20 Chapter 20
21 Chapter 21. Rencana
22 Chapter 22. Menyelamatkan
23 Chapter 23. Menyelamatkan 2
24 Chapter 24 Amel dan Emilia
25 Chapter 25. Menuju kantor polisi
26 Chapter 26. Hadiah dari sistem
27 Chapter 27. Hadiah Spesial dari Emilia
28 Chapter 28. Keributan di pagi hari
29 Chapter 29. Menuju Hotel Al-Faris
30 Chapter 30. Dasar sombong
31 Chapter 31. Kondisi rumah sakit yang gaduh
32 Chapter 32. Merasakan perasaan jahat
33 Chapter 33. Membasmi preman jalanan
34 Chapter 34. Membasmi preman jalanan 2
35 Chapter 35. Menjalankan rencana
36 Chapter 36. Surat undangan
37 Chapter 37. Permintaan tolong dan bukti yang membantu
38 Chapter 38. Memberantas geng elang
39 Chapter 39. Menyelesaikan kasus
40 Saran dan kritik
41 Chapter 40. Keluar dari rumah sakit
42 Chapter 41. Ke hotel Al-Faris
43 Chapter 42. Makan di hotel
44 Chapter 43. Joging
45 Chapter 44. Oisi restoran
46 Chapter 45. Mengatasi masalah Oisi restoran
47 Chapter 46. Mengatasi oisi restoran 2
48 Chapter 47. Pelajaran Pak Eko
49 Chapter 48.
50 Chapter 49.
51 Chapter 50.
52 Chapter 51.
53 Chapter 52.
54 Chapter 53.
55 Chapter 54.
56 Chapter 55.
57 Chapter 56
58 Chapter 57
59 Chapter 58
60 Chapter 59
61 Chapter 60
62 Chapter 61.
63 Chapter 62.
64 Chapter 63.
65 Chapter 64
66 Chapter 65
67 Chapter 66
68 Chapter 67
69 Chapter 68
70 Chapter 69
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Chapter 1. Pengkhianatan
2
Chapter 2. Dunia tujuh tahun sebelumnya
3
Chapter 3. Misi pertama
4
Chapter 4. Menghentikan pelecehan
5
Chapter 5. Membeli Emas
6
Chapter 6. Membayar biaya
7
Chapter 7. Sejak awal aku ditipu
8
Chapter 8. Memutuskan hubungan
9
Chapter 9. Jam olahraga
10
Chapter 10. Cafe
11
Chapter 11. Melayani pelanggan sampah
12
Chapter 12
13
Chapter 13. Menginap
14
Chapter 14. Ulangan dadakan
15
Chapter 15. Status baru
16
Chapter 16. Mendapatkan bawahan
17
Chapter 17. Ide cermelang dari Bos Adit
18
Chapter 18. Menjadi bos baru
19
Chapter 19.
20
Chapter 20
21
Chapter 21. Rencana
22
Chapter 22. Menyelamatkan
23
Chapter 23. Menyelamatkan 2
24
Chapter 24 Amel dan Emilia
25
Chapter 25. Menuju kantor polisi
26
Chapter 26. Hadiah dari sistem
27
Chapter 27. Hadiah Spesial dari Emilia
28
Chapter 28. Keributan di pagi hari
29
Chapter 29. Menuju Hotel Al-Faris
30
Chapter 30. Dasar sombong
31
Chapter 31. Kondisi rumah sakit yang gaduh
32
Chapter 32. Merasakan perasaan jahat
33
Chapter 33. Membasmi preman jalanan
34
Chapter 34. Membasmi preman jalanan 2
35
Chapter 35. Menjalankan rencana
36
Chapter 36. Surat undangan
37
Chapter 37. Permintaan tolong dan bukti yang membantu
38
Chapter 38. Memberantas geng elang
39
Chapter 39. Menyelesaikan kasus
40
Saran dan kritik
41
Chapter 40. Keluar dari rumah sakit
42
Chapter 41. Ke hotel Al-Faris
43
Chapter 42. Makan di hotel
44
Chapter 43. Joging
45
Chapter 44. Oisi restoran
46
Chapter 45. Mengatasi masalah Oisi restoran
47
Chapter 46. Mengatasi oisi restoran 2
48
Chapter 47. Pelajaran Pak Eko
49
Chapter 48.
50
Chapter 49.
51
Chapter 50.
52
Chapter 51.
53
Chapter 52.
54
Chapter 53.
55
Chapter 54.
56
Chapter 55.
57
Chapter 56
58
Chapter 57
59
Chapter 58
60
Chapter 59
61
Chapter 60
62
Chapter 61.
63
Chapter 62.
64
Chapter 63.
65
Chapter 64
66
Chapter 65
67
Chapter 66
68
Chapter 67
69
Chapter 68
70
Chapter 69

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!