Adit saat ini sedang duduk dengan wajah penuh tekanan di kasurnya.
Suara air berjatuhan di kamar mandi sebelah menandakan bahwa seseorang sedang mandi, dan seseorang itu adalah Emilia.
Sebelumnya Adit tidak punya alasan yang kuat untuk menolak permintaan dari Emilia. Dia sendiri merasa iba jika membuat Emilia berada di rumahnya yang punya banyak masalah.
Karena itu dia memutuskan untuk membiarkan Emilia menginap satu malam aja, apalagi Sistem memberikan misi.
"Ini semua salahmu sistem!" umpat Adit.
[Hei apa yang anda katakan? Semua misi yang sistem berikan sangat penting untuk masa depan yang cerah.]
Adit mengabaikan ucapan dari sistem, tepat di sampingnya, ada gadis remaja sedang mandi. Menggunakan toiletnya dan juga handuknya.
Memikirkan itu saja membuat Adit menjadi gila. Ini sangat buruk untuk lelaki perjaka seperti dia hidup satu kamar bersama gadis.
[Tuan jangan lakukan hal 18+]
Adit terkejut bukan main. Dia merasakan wajahnya mulai memanas dan dia memerah. "M-mana mungkin aku melakukan hak tersebut!"
[Tapi Tuan. Bukankah kamu menyukai Emilia?]
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?!"
[Sistem bisa membaca pikiran tuan. Dan tentunya penyesalan tujuh tahun tuan yang tidak melakukan apapun saat Emilia bunuh diri.]
.....
Momen-momen masa lalu itu kembali muncul, saat itu tepat pada Emilia ingin melompat dari gedung sekolah yang tingginya puluhan meter.
Semua warga sekolah tentu saja menjadi sangat heboh, hampir semua menyaksikan tindakan nekad dari Emilia.
beberapa guru dan murid memberikan nasihat berupa kalimat manis dan menyuruhnya turun dengan sangat penuh kasih sayang.
Namun ada juga murid-murid yang bodo amat dan malah menertawakan Emilia yang berada di atas gedung sekolah dan ingin melompat, mereka mengejek bahwa Emilia adalah gadis cari perhatian dan tidak punya keberanian untuk melompat.
Detik berikutnya ada hal sangat mengejutkan. Dia serius dan melakukan. Melompat dari gedung, jatuh mendarat dengan posisi kepala di bawah.
Aroma darah menyengat penciuman semua orang, seperti sungai, darah berceceran di kepala Emilia tanpa henti.
Ditengah-tengah keramaian, Adit menyaksikannya. Dia menatap dengan pandangan kosong seolah tidak percaya akan hal ini.
Ingatan tentang Emilia terus menghantui Adit, dia tidak bisa melupakan hal tersebut. Mungkin karena ingatan ini, dia menjadi memutuskan untuk memfokuskan terhadap suatu hal. Dan suatu hal tersebut adalah Sarah.
Bisa saja Adit sejak awal tidak punya rasa spesial kepada Sarah dia hanya ingin mencari cara untuk lepas dalam penyesalan dan Sarah adalah jawaban.
Saat kembali ke masa lalu, melihat dan berinteraksi dengan Emilia. Dia baru inget perasaan bersalah yang berkecamuk di hatinya.
.....
"Huf~ sangat nikmat mandi setelah bekerja."
Emilia selesai dengan aktivitas mandi, kemudian dia masuk ke dalam ruangan Adit. Tentunya dia sudah memakai pakaian hanya saja itu adalah kaos milik Adit.
Kaos polos berwarna hitam, tapi terlihat sedikit kebesaran untuk tubuh mungil Emilia, sehingga membuat lengannya tertutup dengan lengan kaos.
Rambut panjang yang terurai itu masih sedikit basah, ada handuk milik Adit tergantung di lehernya, menandakan bahwa dia baru saja selesai mandi.
Emilia juga menggunakan celana pendek, dia terlihat sangat menggoda dengan pakaian kasual. Aroma Emilia juga seperti bunga, sangat harum.
Mata Adit sekarang tanpa henti memandang Emilia, dia menyadari bahwa gadis itu sangat mengemaskan apalagi dia memakai baju miliknya.
"E... bisa berhenti menatapku? Ini memalukan." Menjadi pusat tatapan tentu saja tidak enak untuk gadis pemalu seperti Emilia.
"Aduh! Maaf... aku hanya berpikir bahwa pakaian milikku sangat. c-cocok untukmu." Adit menggaruk pipinya yang memerah dan memalingkan wajah.
Gadis itu menatap tubuhnya, dia kini sadar bahwa pakaian hitam polos adalah milik Adit. Dia sangat malu harus memakai pakaian dari cowok. Perlahan Emilia mengangkat tangan kemudian menarik kerah baju, membawa ke hidung untuk mengendus-endus aroma dari Adit.
'Ini bau Adit, sangat harum.' batin Emilia, saat dia melakukan hal tersebut dia merasakan kedua pipinya menjadi panas.
"....."
Adit tentu melihat gerak-gerik dari Emilia tapi dia Pura-pura tidak lihat.
Dia berpikir bahwa tindakan dari gadis itu sangat imut, jika Emilia adalah wanita sah untuk dia, maka Adit tidak ragu langsung berlari dan memeluk dengan sangat erat.
Atau dia tidak ragu mencium gadis itu, atau bahkan tindakan 18+ seperti yang dikatakan sistem akan dia lakukan karena tidak tahan akan tindakan mengemaskan. Tapi dia menahan diri karena dia bukanlah wanita sah dari Adit.
[kya~ tuan sangat mesum apa yang anda pikirkan?] terdengar suara sistem yang terlihat main-main.
'Diamlah sistem!' teriak Adit dalam hati.
[Ding! Selamat Anda mendapatkan misi event special yang sangat rugi bila diskip]
[Peluk dan cium wanita yang ada di depanmu—]
"Emilia apa kamu tidak lapar, aku akan memasak sesuatu tunggu di sini!"
"Tunggu—"
Adit langsung lari begitu saja, tidak membiarkan sistem menyelesaikan apa misi dan apa yg ingin dikatakan oleh Emilia.
Adit berlari, belok ka kanan dan sampai di dapur. Dia mengatur napas.
[Ding! Misi peluk dan cium gadis di depan anda]
[Ding! Misi peluk dan cium gadis di depan anda]
[Ding! Misi peluk dan cium gadis di depan anda]
"Berisik!" tanpa menunggu waktu lama dan tanpa pikir panjang, Adit menekan tombol [tidak] di layar notif yg artinya dia menolak misi.
Oleh karena hal tersebut misi dari sistem hangus.
"Cih hampir saja. Dasar sistem bodoh," umpat Adit sendiri.
Dia sekarang sudah tenang, perlahan Adit menyiapkan bahan-bahan masakan, lalu menghidupkan kompor.
Baru saja dia ingin memotong bumbu bawang, cabai. Tiba-tiba saja tangan menyentuh pundak Adit sehingga dia terdiam.
"Adit... Begini-begini aku perempuan jadi biarkan aku saja yang membuat masakan," ucap suara seorang wanita di belakang Adit yang tidak lain adalah Emilia.
Adit mungkin tidak menyadari karena dia fokus memotong bahan-bahan, tapi wajah Emilia sudah merah padam. Terlihat jelas sekali dia merasa gugup hidup satu rumah bersama Adit.
Karena itulah dia ingin mencari aktivitas untuk menenangkan diri.
"Tapi Emilia itu tamu, melayani tamu adalah kewajiban pemilik rumah, 'kan?" kata Adit tanpa membalikkan badan.
"Tidak! Itu mungkin benar, tapi... aku juga ingin melayanimu sesekali!"
Emilia tidak bisa menahan rasa malu dan berteriak, saat Adit terkejut atas ucapan Emilia, dia secara alami menoleh dan mendapatkan bahwa gadis itu sangat merah dan mengeluarkan asap dari kepala.
Melihat kesungguhan diri dari Emilia, Adit menghela napas. "Baiklah. Aku akan membiarkanmu masak kali ini."
"Nah gitu dong. Heheheh~" Dia sangat gembira atas perkataan dari Adit.
Lelaki itu berjalan dengan santai lalu duduk di salah satu kursi ruang tamu, selang satu menit berlalu setelah dia menunggu dan dia sadar satu hal.
"Tunggu! Bukankah ini seperti pasangan yang baru saja menikah!" dia berteriak dengan wajah memerah.
Kemudian dia menggeleng kepala secepat mungkin berusaha untuk melenyapkan pikiran barusan. Waktu telah berlalu, Emilia kembali membawa makanan yang mempunyai aroma menggoda.
"Maaf menunggu." Emilia meletakan makanan tersebut ke meja dengan senyuman ceria. Apapun itu dia terlihat lebih baik. dia sudah tidak gugup lagi.
"Terima kasih," ucap Adit menatap makanan tersebut.
Ini mungkin akan menjadi pertama kalinya bagi Adit mengalami hal seperti makan masakan seorang gadis, bagaimapun ini semua berkat sistem.
"Dit, kenapa diam saja? Apa kamu tidak mau makan?" tanya dia karena sedari tadi Adit mematung dan terdiam.
Sebagai jawaban Adit menggelengkan kepala. "Tidak, aku hanya berpikir banyak hal..." Selesai dengan perkataan, Adit meraih sendok dan mencicipi masakan dari Emilia.
Tepat ketika makanan itu masuk melalui tenggorokan, dia merasakan sensai hangat, asin dan berbagai rasa yang bercampur aduk sehingga menciptakan rasa yang enak. Adit terus menggunakan sendok untuk memasukan masakannya menuju mulut tanpa henti.
Melihat Adit yang bersemangat bibir Emilia terangkat dan membentuk senyuman manis, mungkin jika Adit melihat senyuman manis itu, dia bisa muntah darah karena terlalu manis, namun dia terlalu fokus bergelud dengan makanan.
"Bagaimana apa enak?" Emilia tersenyum dan bertanya.
"Enak sekali, aku suka ini."
Mendengar jawaban Adit, dia semakin tersenyum. "Kalau begitu aku bersyukur."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
yuce
cwok baik mana berani menyentuh cwek yg bukan pasangannya pacar bukan istri juga bukan.
2024-07-07
0
Izhar Assakar
pantesan di tinggal sma sarah,,la wong dia kgk berani megang cewek n belagk suci,,cewek kan jg butuh sentuhan,,
2024-01-15
3
Izhar Assakar
sudah lah sisyem,kembalikan sja dia ke masa depan,orang tak tau terimakasih kyak adit tak patut di tolong,,
2024-01-15
2