Setelah menjual beberapa batang emas, Afran berhasil membeli rumah di pinggiran kota.
Geet sungguh gembira begitu masuk rumah yang masih kosong.
"Gede banget rumahnya! Kita bakal tinggal di sini kan, Fran?" Geet menjelajahi isi rumah satu lantai ini.
"Iya. Sekarang kita list dulu perabotan yang perlu kita beli. Rumah ini ada tiga kamar. Dua kamar untuk kita, satu lagi kita jadiin ruang misi kita." Afran memeriksa ruangan satu per satu.
"Gue boleh beli apa aja?"
Afran mengangguk. "Apapun yang lo suka."
Geet langsung melompat memeluk Afran hingga kakinya melayang saking tingginya pria itu.
"Happy banget ya?" Afran tersenyum membalas pelukannya.
"Iya lah.. makasih ya, gue belum pernah lho punya rumah, beli barang yang gue suka. Gue seneng banget..." Geet mengeratkan pelukannya.
"Iya seneng sih seneng. Lo harus inget gue ni cowok, nempel-nempel gini gue makan juga lo ntar.."
Ancaman Afran membuat Geet tersentak buru-buru melepaskan pelukannya, dan jaga jarak.
Afran tertawa geli dan mengacak-acak rambut Geet gemas. "Bercanda, kali... Nggak usah tegang gitu mukanya."
"Iiihh..." Geet mencubit pinggang Afran kesal. Ia sudah takut lihat tatapan nakal Afran yang kerap menggodanya.
Afran melepas jaket dan gasper. "Malam ini kita tidur gelar karpet dulu. Besok kita ke toko perabotan di dekat sini untuk belanja." Afran menggelar karpet di lantai sambil berbaring beralas tas baju.
Geet melepas jaket dan duduk di sampingnya sambil menekuk kedua lututnya dan melingkarkan tangannya di lutut.
"Kita pasti berhasil kan, Fran?"
"Hmm?" Afran sudah memejamkan mata.
Geet menoleh dan merengut Afran sudah tidur. Capek banget kayaknya udah ngerawat gue berbulan-bulan, batinnya.
Ia mendekat dan melepas kacamata Afran.
Makasih ya Fran, udah hadir buat gue, batinnya.
Ia merasa semangat hidupnya kembali dengan seseorang yang hadir untuknya.
Melihat wajah Afran sedang tidur membuat Geet merindukan Huza.
Ia berbaring menyamping memandangi wajah Afran.
Huza, gue janji nggak akan sia-siain kesempatan, karena lo nggak pernah benar-benar ninggalin gue, batinnya.
Tak lama ia terlelap.
***
Suasana di rumah Afran dan Geet sungguh sibuk. Mobil pickup berdatangan mengantar berbagai perabot, dari mulai tempat tidur, lemari, sofa, meja, dan lain-lain.
TV, AC, mesin cuci, kulkas, dan banyak lagi.
Geet membantu mengatur posisi barang-barang.
"Pengantin baru ya, Mbak?" Tanya petugas iseng.
"Iya." Afran dan Geet sudah sepakat mengaku pengantin baru agar tidak dicurigai.
"Muda banget udah pada nikah, pada sukses lagi, bisa beli rumah segala. Saya aja udah nikah sepuluh tahun masih ngontrak."
Geet tak minat menimpali dan sibuk membuka dus isi banyak pakaian yang dipesan online.
Ia tak punya waktu ke toko memilih-milih jadi memesan baju yang dengan segera memenuhi lemarinya.
Menjelang sore, semua sudah rapi dan mobil semua sudah meninggalkan rumah.
"Nih minum dulu teh nya, Fran." Geet memberikan secangkir teh.
Afran menerima dan meminumnya. "Thanks ya. Pindah rumah capek juga ya."
Geet duduk di sofa sambil menyalakan TV.
"Fran, sekarang kita mulai dari mana?"
Afran menjejerkan foto di meja dan membuka kardus.
"Apa tuh?" Tanyanya langsung melotot melihat lima unit HP. "Wow... Apaan nih banyak banget??!!"
"Ini HP sekali pakai. Kalau kita mau beraksi, kita nggak boleh ninggalin jejak sedikit pun. Satu HP buat satu misi. Setelah selesai satu, langsung hancurin HP ini dan buang. Beres. Kita nggak akan ninggalin jejak."
Geet menatap banyaknya HP di kardus. "Sayang banget HP dihancurin. Lo tau nggak buat beli satu HP aja gue nabung setahun. Sekarang ada HP buat dihancurin doang."
Afran terkekeh geli. "Nih yang ini buat lo. Gue beli HP couple buat kita berdua."
Mata Geet melotot melihat smartphone terbaru berwarna putih, dengan pink case begitu manis.
"Wahh buat gue nih?? Diihh cakep banget. Mahal pastinya."
Afran mengotak-atik HP nya sendiri yang sama dengan milik Geet hanya berwarna biru navy. "Ini cuma buat komunikasi kita berdua. Inget, selama menjalankan misi, lo nggak boleh berhubungan sama siapapun. Entah Tante lo, atau siapapun. Demi menjaga kita nggak dilacak. Demi misi kita berhasil. Paham?"
Geet mengangguk patuh. "Paham."
"Sekarang kita atur rencana. Siapa yang mau duluan kita eksekusi?"
Geet memandangi foto di meja dan mengambil selembar foto.
"Pak Dewo? Dia ngelecehin lo dengan nawarin jadi sugar baby dan kunciin lo di ruangannya?" Afran membuka laptop dan mencari info di sosial media.
"Kayaknya gue tau gimana caranya bales dia. Pria hidung belang begitu pasti punya kelemahan."
Afran menunjukkan foto di akun sosial media Pak Dewo. "Gue rasa ini kelemahannya."
Ada foto keluarga, Pak Dewo dengan istri dan dua anak perempuan remaja dan satu anak laki-laki.
"Pak Dewo pasti nutupin sifat br*ngsek nya, sehingga di depan keluarganya begitu wibawa. Lo baca aja komen komen dari anak-anaknya. Seakan-akan dia itu ayah yang paling sempurna, paling baik. Sekarang, kita harus tunjukkan segimana br*ngsek nya Pak Dewo sama keluarganya." Jelas Afran.
"Gampang itu mah. Kita bayar perempuan seksi buat rusak reputasi dia di kampus. Dan bikin keluarganya gap dia."
"Makanya itu gue udah panggil tim. Kita nggak akan gerak sendiri."
"Tim?"
Tak lama kemudian pintu diketuk.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments