Kenapa sih hidup gue gini banget? Emang nasib gue jadi tertindas? Kenapa sih mereka semena-mena banget sama gue??
Geet berusaha melepaskan diri walau sulit karena ikatan di tubuhnya terlalu kuat.
Ia diikat di tiang besi di rooftop. Mulutnya bahkan disumpal kain hingga ia tidak bisa berteriak minta tolong.
Lagipula kalau pun teriak ia tak yakin ada yang dengar.
Kalau sampai gue bisa keluar dari sini, gue bakal bales lo semua! Udah dosen lecehin gue nawar gue jadi Sugar baby, si Eros terus nguber gue pengen tidurin gue, belum lagi tu geng centil nggak ada habisnya ngerjain gue. Duuhhh nggak ada apa yang sayang sama gue?
Tiba-tiba terdengar pintu besi terbuka membuat Geet menegang.
Apa mereka balik lagi? Mereka mau apain gue lagi?? Batinnya panik.
"Geet!"
Mata Geet melotot melihat Afran berlari ke arahnya.
"Ya Allah... Kebangetan tu cewek-cewek!" Afran langsung melepas tali dan penutup mulutnya.
Geet bisa bernafas lega dan merosot jatuh saking lemasnya. Keringatnya tak henti mengucur dari tadi membuatnya lemas.
"Geet, minum dulu. Jangan sampai lo dehidrasi!" Afran memberikan sebotol air yang langsung diterima dan diteguk sampai setengah.
"Thanks Fran.. Untung lo temuin gue." Geet memegang kepalanya.
"Gue nggak sengaja denger geng Purple bilang lo ada di rooftop. Mereka keterlaluan banget sampe segininya."
Bahkan seragam Geet disobek-sobek pake gunting, dan ia hanya mengenakan tank top dalaman.
Afran membuka kemejanya. "Pake kemeja gue."
"Terus lo gimana?"
"Gue bisa pake jaket. Jaket gue kegedean kalo lo pake. Buruan, gue anter lo balik. Besok baru lo lapor.."
Geet menurut mengenakan kemeja dan berdiri dipapah Afran.
***
Tiba di rumah, Geet turun dari motor dan melepas helm.
"Thanks udah anter gue."
"Santai. Gue bakal bikin perhitungan sama mereka. Sembarangan banget ngerjain lo. Untung gue lagi di sana."
Geet menggeleng. "Nggak usah diperpanjang. Lagian gue juga mau resign. Gue udah nggak nyaman kerja di sana."
"Serius lo mau resign?"
"Terus menurut lo, pihak kampus bakal belain cleaning service kayak gue daripada mahasiswa kaya yang banyak duit kayak mereka? Nggak akan. Yang ada gue yang dituduh."
Afran menepuk pundak Geet. "Nanti gue bantu cari kerjaan lain."
"Udah nggak perlu, Fran. Lo fokus aja sama tugas akhir lo. Bentar lagi lo resmi jadi dokter. Nggak usah sibuk sama urusan gue. Gue bisa jaga diri." Geet langsung masuk rumah.
Teringat harus segera ke rumah sakit menemui profesornya, Afran melajukan motornya ke arah berlawanan.
Baru ingin masuk kamar, suara keras menyentaknya.
"Geet! Dari mana kamu??"
Geet menghela napas berat, sungguh capek barusan dijemur di rooftop, inginnya ia langsung istirahat di kamarnya. Tapi Tantenya menghadang di depannya.
"Dari tempat kerja lah, Tante.. dari mana lagi?"
Tina menyipit melihat penampilan Geet memakai kemeja pria.
"Kamu kerja begini?"
"Ada sedikit masalah. Jadi aku..."
Plakkkkk...
Geet terkejut tiba-tiba saja Tina menamparnya. "Tante apaan sih?? Kenapa tiba-tiba aku ditampar?"
"Tante malu sama kelakuan kamu!"
"Maksud Tante apa??"
"Lesta udah cerita semua sama Tante!"
"Lesta?"
"Iya Lesta keponakan Mas Boni. Dia kuliah di tempat kerja kamu. Dan dia bilang, kamu sering check in dengan pria berbeda-beda dan bahkan sering mojok di mobil dengan pacarnya!"
Apa????
Lesta bilang gitu???
Jahat banget fitnah gue!
"Terus Tante percaya?? Tante lebih percaya dia daripada aku keponakan Tante??" Geet tak terima tuduhan.
"Karena untuk apa dia bohong sama Tante?"
"Untuk apa juga aku bohong? Untuk apa aku kerja? Semua cuma rendahin aku, karena aku cuma cleaning service! Dan Lesta, dia nggak terima cowok yang dia suka ngejar-ngejar aku terus! Makanya dia..."
"Terus ini kamu pake baju siapa? Sugar Daddy kamu yang kasih?"
"Sugar Daddy? Tante ngomong apa sih??" Geet tak habis pikir Tina begitu terpengaruh fitnah Lesta.
"Lesta yang cerita, kamu jadi sugar baby!"
Geet sungguh tak terima tuduhan Tina.
"Tante, selama ini aku hormatin Tante sebagai satu-satunya keluargaku. Tapi Tante malah lebih percaya orang lain ketimbang aku. Kalau aku jadi sugar baby, udah lama aku pergi dari rumah ini! Aku tuh kerja, panas-panasan, dihina, di-bully, untuk siapa?? Untuk kelangsungan hidup kita, Tante! Tapi untuk apa juga jelasin? Nggak ada guna! Tante cuma percaya kata orang daripada aku!" Geet masuk kamar dan menguncinya.
"Geet! Tante belum selesai bicara!" Tina menggedor-gedor pintu.
Geet membuka lemari mengambil tasnya dan memasukkan pakaiannya ke tas. Lalu membereskan barang-barangnya dan membuka pintu kamar.
"Kamu mau ke mana?"
"Mau cari sugar daddy! Biar Tante nggak repot ngurus aku lagi!" Geet bergegas keluar rumah.
"Geet! Jangan pergi, kamu kok main pergi aja??"
Panggilan Tina diacuhkan Geet yang langsung naik angkutan umum melintas.
***
Sudah satu jam Geet menangis menumpahkan beban di hatinya pada Emon.
Emon hanya mengusap-usap bahunya agar tenang.
"Mentang-mentang gue miskin, mentang-mentang gue cuma cleaning service, mereka semena-mena sama gue! Tante Tina juga lebih percaya Lesta ketimbang gue. Karena Lesta keponakan tua bangka itu. Gue benci semuanya!" Geet menggebuk bantal melampiaskan emosinya.
"Sementara kamu tinggal di sini dulu ya, Geet. Nanti kita pikir ke depannya. Kamu tidur aja pasti capek."
Geet menghapus air matanya. "Gue laper. Ada makanan nggak?"
"Aku masakin nasi goreng sosis mau?"
"Mau aja deh. Yang penting makan. Gue mau mandi dulu."
Sementara Emon memasak, Geet menikmati guyuran shower. Mengingat yang terjadi dalam hidupnya sungguh membuatnya merasa jadi pecundang.
Anak seorang koruptor yang tidak diakui.
Korban bully.
Ditawar jadi sugar baby.
Kenapa hidupnya kelam begini???
Geet keluar dari kamar mandi sudah mengenakan kaus dan celana pendek. Sambil menyeka rambutnya dengan handuk kecil.
"Nih makan dulu. Aku juga buatin teh. Sini aku keringin rambut kamu."
Geet lahap makan dengan Emon telaten mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Aku mau jalan sama Mas Don. Kamu..."
"Iyaa kayak biasa. Gue di sini aja."
"Jangan kemana-mana lho. Nanti aku coba bicara sama Mas Don kali aja ada pekerjaan cocok buat kamu."
"Nggak usah bicara apa-apa. Gue nggak mau ngerepotin. Lagian gue cuma butuh istirahat sebentar. Besok juga gue bakal cari kerjaan lain." Geet membawa piring ke dapur dan mencucinya.
Emon tak bicara lagi melihat Geet langsung duduk di kasur.
"Itu ada lemari kosong. Kamu pake aja untuk simpen barang-barang kamu."
"Iyaa.. udah buruan siap-siap mau nge-date kan."
Emon bergegas masuk kamar mandi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments