Bab 13

Mereka mendarat sempurna di tengah ramainya pengunjung pasar malam.

Geet begitu gembira. "Wahh dari dulu gue pengen main ke mari. Tapi baru kesampaian pas jadi hantu."

Huza mendengus menahan tawa. "Emang nggak pernah ada yang ngajak lo jalan ke mari?"

Geet menggeleng. "Nyokap gue udah meninggal dari usia gue sebelas tahun. Semasa hidup juga nyokap cuma sibuk kerja untuk biayain gue. Jadi gue belum pernah kesampean main ke mari sama nyokap."

Huza jadi ingin tahu lebih lanjut tentang Geet. "Terus bokap lo gimana?"

"Bokap gue?" Geet mendengus dingin. "Bokap nggak bertanggung jawab. Nyokap gue istri keduanya, cuma karena istri pertamanya kaya, punya jabatan, nyokap gue ditinggal gitu aja. Bahkan begitu gue kunjungi bokap di penjara, sombong banget nggak mau ngakuin gue sebagai anaknya."

"Bokap lo dipenjara kenapa?"

"Korupsi. Jadi gue ini anak koruptor. Nggak ada keren-kerennya."

Huza tertawa kecil. "Ya sekarang hantu anaknya koruptor. Rada keren lah."

"Iiihh nggak keren banget judulnya. Eh Za, naik itu yuk?" Geet menunjuk kereta gantung yang berputar.

"Lo katanya takut ketinggian?"

"Nggak tinggi-tinggi amat. Gue dari dulu kepengen naik itu. Ayo dong, beliin tiketnya.."

"Diihh ni anak belum nyadar juga. Kita itu hantu, ngapain beli tiket. Langsung naik aja."

"Ehh iya ya... Asik banget ya jadi hantu, bisa naik gratis..."

Huza dan Geet tergelak bersama.

Dunia kasat mata mereka ternyata jauh lebih indah, lebih berwarna.

Mereka memilih kereta gantung nomor 13 yang kosong.

"Kenapa nomor 13, Za?" Tanya Geet begitu keduanya sudah duduk di kereta.

"Katanya sering nonton film, gimana sih? Angka 13 itu dianggap berhantu. Jadi nggak ada yang berani naik."

"Emang berhantu kan? Kita ini hantu yang naikin."

Kereta sudah berjalan mulai berputar.

"Seru juga ya. Baru kali ini lho gue naik beginian." Geet begitu gembira melihat ke bawah. "Eh Za, liat tu ada main lempar bola."

"Jangan aneh-aneh. Lo mau main lempar bola yang ada pada kabur pengunjung liat bola melayang nggak keliatan yang ngelempar." Kata Huza membuat Geet terkekeh.

"Sorry. Masih adaptasi gue jadi hantu. Sayang ya nggak bisa beli permen kapas. Padahal gue selalu ngebayangin jalan ke pasar malem pasti seru sambil beli permen kapas."

Huza hanya tersenyum mesem. "Kalo gue beliin juga mana bisa lo makan."

Geet terkekeh. "Iya juga ya. Jadi hantu nggak ada rasa laper, rasa haus, ngantuk juga nggak ada."

"Ngomong-ngomong, lo gimana bisa ada di sekitar gedung? Kalau lo gentayangan di sana, berarti kemungkinan lo dibunuh di sana." Huza penasaran.

Teringat itu, Geet jadi kesal lagi.

"Gue di-bully dan difitnah. Karena geng cewek di kampus tempat gue kerja jadi cleaning service hobi banget bully gue. Mereka fitnah gue jadi sugar baby simpanan bapak-bapak. Sampai pacarnya Tante gue terus aja ngajakin gue check in di hotel makanya gue terus ngehindar. Eh keponakan pacar Tante gue itu si Lesta, yang cowoknya ngejar-ngejar gue terus sampai gue pernah dipaksa masuk mobilnya mau dibawa ke hotel, untung gue bisa kabur. Tapi jadinya gue kabur dari rumah karena Tante gue lebih percaya keponakan pacarnya ketimbang gue keponakannya sendiri. Setelah itu, gue dikhianati sahabat gue sendiri, yang gue percaya, malah mau jual gue sama laki-laki untuk jadi partner ranjang bertiga. Gue nggak nyangka sahabat yang paling gue percaya, satu-satunya yang bisa gue andalkan, tapi ngerendahin gue segitunya. Pas gue kabur dari sana, gue ketemu geng cewek yang bully gue. Mereka bikin gue pingsan dan buang gue ke gedung itu. Gue udah putus asa dan mau lompat dari atap, eh gue liat kejadian yang bikin gue mati. Gue lihat orang dibedah. Setelah itu sadar-sadar gue udah begini."

Kasian banget ni cewek, hidupnya pasti menderita dan nggak ada indah-indahnya makanya sampe niat bunuh diri, batin Huza kasihan.

"Gue marah, emosi. Tapi gue sadar diri gue siapa dan nggak bisa balas mereka yang udah bully gue. Apalagi sekarang gue udah meninggal. Gue juga nggak yakin ada yang cari gue." Geet teringat Tina yang termakan fitnah Lesta. "Padahal gue cuma punya Tante Tina. Nggak ada lagi keluarga gue. Bokap aja nggak mau ngakuin gue."

Huza terdiam, dan merangkul bahunya. "Ikhlasin aja. Nggak ada yang bisa kita perbuat juga. Nanti juga mereka akan dapat karma."

Geet memilin-milin ujung bajunya, kesal namun tak bisa berbuat apa-apa.

"Lo sendiri gimana, Za? Sebelum lo mati, gimana kehidupan lo?"

Huza mencoba mengingat kilasan masa lalunya. "Gue besar di panti asuhan. Orangtua gue udah meninggal dalam bencana gempa longsor selagi gue kecil. Gue cuma punya adik-adik panti sebagai keluarga gue. Dan..." Huza terdiam, lalu mencoba mengingat lagi.

"Dan apa, Za? Kok diem?"

"Bentar deh, kayaknya gue ingat sesuatu." Huza berusaha keras mengingat dan menegakkan duduknya. "Ya gue inget sekarang. Ketika gue perjalanan ke tempat konser, gue dapat kabar adik-adik panti gue banyak yang hilang. Dan gue sampai ke gedung itu karena adik-adik panti dibawa ke sana untuk dijual ke luar negeri."

Geet merinding membayangkan anak kecil diculik dan dijual.

"Gue berhasil gagalin adik-adik gue dibawa, dan gue bantu mereka kabur dari gedung itu. Tapi malah gue ketangkep dan dibunuh mereka. Setelah itu sadar-sadar gue udah begini gentayangan nggak jelas. Gue nggak tau dimana mereka ngubur jasad gue."

Huza terdiam memikirkan hal itu. "Udah lima tahun, gue penasaran adik-adik panti gue itu gimana kabarnya. Mereka pasti khawatir gue nggak ada. Gue berusaha keras untuk bisa menjadi pemenang ajang kontes itu, supaya gue dapet uang buat biaya sekolah adik-adik panti. Gue pengen mereka bisa sekolah tinggi dan sukses. Tapi sayang, usaha gue sia-sia dan gue mati di usia muda. Bahkan gue belum dua puluh tahun."

Beberapa saat tidak ada suara antara mereka. Entah sudah berapa kali putaran kereta gantung berjalan. Duo sejoli hantu itu masih berbagi cerita mellow.

"Gue juga belum dua puluh tahun. Masih banyak juga harapan gue tapi begini akhirnya."

"Emang apa harapan lo?" Tanya Huza.

"Yaahhh simpel aja. Gue pengen bisa kuliah. Gue kerja di kampus jadi cleaning service, gue ngiri liat yang bisa kuliah. Sedangkan gue? Yahh terima nasib aja."

"Mungkin ini yang terbaik, Geet. Kita berharap aja semoga sindikat ini segera dibekuk biar nggak makin banyak korban. Gue tersiksa jadi hantu cuma bisa ngeliat mereka dibunuh, tanpa gue bisa lakuin apa-apa buat nolong mereka."

Obrolan mereka tak ada habisnya, hingga baru sadar kereta gantung sudah berhenti dengan posisi kereta mereka paling atas.

"Lho? Udah tutup?" Geet melihat pasar sudah gelap tak ada orang.

"Kalo jadi hantu, nggak akan kenal waktu. Ini pasti udah tengah malam makanya udah tutup."

"Lah trus kita turun gimana ini?"

Huza menyentil dahi Geet gemas. "Ingat status. Perlu gue bantu bikin Kartu Identitas Hantu atas nama Geetazia?"

Geet merengut sebal. "Ya maklumin dong gue kan baru."

"Ya udah yuk turun."

Berdua mereka melayang turun dari kereta gantung.

"Sekarang mau terbang apa jalan kaki aja balik ke gedung?" Tanya Huza.

"Jalan kaki aja deh. Sambil lihat-lihat pemandangan."

Bergandengan tangan mereka berjalan kaki meninggalkan lapangan pasar malam yang sudah tutup lewat tengah malam.

***

Terpopuler

Comments

ira kasih

ira kasih

masih ga nyangka koq jadi hantu....
kirain jd cewek kuat buat balas dendam..
tapi tetep lanjut baca karna penasaran gimana balas dendamnya.

2024-10-13

0

Ririn Santi

Ririn Santi

wait...nyantai amat yak jd hantu?😃😃😃

2023-10-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!