Bab 19

Setelah berkemas dan memastikan tak ada yang tertinggal, Afran dan Geet bersiap kembali ke Jakarta.

Sungguh tak sabar ingin beraksi.

"Pokoknya lo inget, apapun yang terjadi, nggak ada rahasia diantara kita. Baru misi kita bisa berjalan lancar." Afran melajukan mobilnya meninggalkan kawasan rumah neneknya.

"Iya. Gue nggak ada rahasia. Asal lo bener tulus mau bantu gue."

"Kurang tulus apa sih gue? Jantung gue nih jaminannya. Ambil sama lo kalau gue ingkar." Kata Afran membuat Geet bergidik.

"Nggak usah bawa-bawa jantung kali, Fran. Merinding gue jadinya."

Afran terkekeh dan mengusap sekilas kepala Geet. "Kita cari tau juga tentang sindikat itu dan strategi untuk nyusup ke gedung itu tanpa dicurigai. Karena bukan bagian kita tangkap mereka. Yang pasti, kita harus bongkar semua. Dan kita harus bisa temuin dimana mereka ngubur jasad Huza. Gue rasa Huza dikubur dalam kondisi nggak layak makanya dia gentayangan."

Geet terdiam teringat Huza. "Huza ditangkap waktu dia nyelametin adik-adik panti yang mau dijual ke luar negeri. Gue nemuin catatan tentang Huza dan organ tubuh yang diambil itu jantung. Tepat ketika Huza lihat lo jalan keluar gedung. Gue kira Huza merhatiin lo karena lo yang bunuh dia. Ternyata begitu lihat lo dia tau kalo lo penerima donor jantungnya."

Afran kontan murung sambil melihat ke langit yang mendung.

"Sayang ya gue nggak sempat ketemu Huza. Selama ini gue coba cari tau tentang pendonor jantung gue. Nggak nyangka aja begini caranya gue bisa tau. Melalui lo."

Geet memandang langit mendung. "Dia bilang sama gue, nggak boleh sia-siain kesempatan kalo gue dikasih hidup lagi. Gue harus berani untuk melawan ketakutan gue dan harus balas semua orang yang udah ngerendahin gue. Dan untuk itu, Huza bilang pemilik jantungnya yang akan jagain gue dan lindungi gue."

Afran tersenyum nakal. "Terus apa lagi? Huza nggak nitip pesen apa-apa sama gue?"

Geet mendelik menyadari tatapan genit Afran padanya. "Ada. Pesen mie bakso dua mangkok."

Tawa Afran meledak, Geet ikut tertawa.

"Lo laper?"

"Hu um.."

"Ya udah kita cari bakso di sekitar sini."

"Asyiikkk... Udah lama nih nggak makan bakso." Geet begitu gembira. "Waktu gue jadi hantu, boro-boro laper atau haus, main petak umpet sama hantu yang ada. Diajarin terbang sama Huza, naik kereta gantung gratis, nggak pernah ngantuk, nggak ada rasa sakit."

Afran mengangguk-angguk. "Kayaknya lebih seru. Lo lebih betah jadi hantu daripada manusia?"

Geet mendelik sebal dan memukul pelan lengan Afran. "Ngeselin lo! Gue cuma curhat aja.."

"Iya iya bercanda, kali.. gitu aja ngambek.." Afran mencubit pipi Geet gemas. "Tapi gue bersyukur banget, lo bisa lewatin masa kritis. Gue marah sama orang yang udah bikin lo sakit. Liat aja tu geng centil, apa yang bakal gue perbuat sama mereka!"

"Serem amat lo, aura psikopat," kata Geet geli.

"Beneran nih? Udah pantes gue jadi psikopat?"

"Banget. Apalagi sambil bawa pisau."

"Lebih keren lah ya jadi psikopat, apalagi ganteng kayak gue."

"Ya jadi tukang potong daging juga cocok kalo bawa pisau..."

"Ngeledek aja bisanya."

Mereka tertawa geli.

Afran tersenyum melihat Geet bisa tertawa lepas.

Emang harus kita lagi bersama lo bisa tertawa gini, Geet. Lo cantik banget lagi ketawa, batinnya.

Sudah lama ia menaruh hati pada Geet yang selalu dingin padanya. Ternyata takdir memihak mereka harus bersama.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!