Memikirkan dirinya mati dibunuh karena kepergok mengintai membuat Geet galau, tak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan menjadi arwah gentayangan begini.
"Terima nasib aja, Geet. Nggak ada yang bisa kita lakuin selain pasrah." Kata Huza melihat Geet melamun sambil duduk di tiang lantai atas.
Geet menatap kosong ke depan. Pergantian pagi jadi malam terasa begitu cepat.
"Gue cuma nggak nyangka aja segini tragisnya akhir hidup gue. Pake gentayangan nggak jelas."
Huza menyandar di tembok sambil menatap langit.
"Gue bahkan udah lupa, dunia itu seperti apa. Panas matahari kayak apa. Dinginnya hujan gimana. Semua udah nggak bisa gue rasain. Jadi arwah gentayangan begini aja udah bikin gue lupa gimana rasanya hidup."
Geet menoleh. "Kita pernah ketemu lho. Lo lupa ya?"
Kening Huza berkerut mengamati wajah Geet. "Di mana?"
"Kira-kira setahun sebelum lo hilang, lo tolong gue waktu gue kejebak tawuran. Lo anter gue pulang bahkan lo beliin gue permen kapas karena gue nggak berhenti nangis. Cuma segitu. Terus tiba-tiba gue lihat di TV ada lo jadi kontestan sepuluh besar. Gue dukung lo bahkan gue bela-belain nabung cuma buat bisa nonton konser lo langsung."
Huza berusaha mengingat. "Mungkin iya. Tapi gue nggak bisa inget. Jadi arwah gentayangan bikin ingatan gue semasa hidup samar-samar. Tapi, thanks banget kalau lo udah support gue. Mereka pasti khawatir tiba-tiba gue ngilang. Kalau aja gue bisa tau penyebab kematian gue, dan dimana jasad gue, mungkin gue akan berhenti gentayangan dan bisa pergi dengan tenang."
Geet terdiam dan berdiri di samping Huza.
"Apa yang bisa kita lakuin? Apa kita gentayangan dan teror mereka seperti yang di film-film?"
"Film apaan? Teror gimana?"
"Ya kalo di film hantu, kalo yang mati itu penasaran dan jadi hantu yang teror pembunuh mereka."
Huza terkekeh dan menyentil dahi Geet.
"Iihh apaan sih?"
"Dasar hantu baru. Ini bukan film. Gue udah gentayangan bertahun-tahun gini-gini aja. Nggak bisa apa-apa. Gue cuma pasrah lihat orang diculik dan dibedah, diambil organ tubuhnya, dan sisa tubuhnya dikubur di hutan belakang."
Geet makin penasaran. "Mereka culik orang gila dan pengemis. Buat dibunuh dan diambil organ tubuhnya. Jahat banget sih sindikat ini!"
"Mereka ambil orang-orang jalanan, orang dengan gangguan jiwa, supaya polisi nggak ada yang curiga. Jantung, ginjal, hati, mata.. terus..."
"Stop stop! Jangan lo lanjutin, ngeri gue ngebayanginnya!" Geet merinding duluan.
Huza tertawa geli. "Udah lama gue sendirian. Seneng juga sekarang ada temen. Setidaknya gue nggak kesepian ada lo."
Geet terdiam, sejujurnya ia senang begini. Selama ini ia ditindas, di-bully, direndahkan. Dan kini ia berdampingan dengan pria yang ia kagumi, walau dalam kondisi sudah jadi arwah.
"Jadi kita bisa apa dalam kondisi begini?" Tanya Geet.
Huza angkat bahu. "Jalani aja. Nikmatin masa-masa begini. Kita nggak tau kapan kematian kita terungkap dan menghilang."
Geet menggeleng. "Pasti ada yang bisa kita lakuin. Kalau di film, hantu gentayangan itu bisa bunuh orang, nakut-nakutin orang. Kita kerjain aja mereka biar takut dan berhenti."
"Iihh ni hantu baru banyak tingkah banget. Mending lo gue ospek dulu. Ada beberapa kemampuan alami hantu yang perlu lo asah."
"Apa tu? Pasti terbang ya? Atau ngubah diri jadi serem? Atau bisa bersuara kayak kuntilanak... Kayak gini... Hiiii hiiiii hiiiiiii..." Geet menirukan tawa mengerikan kunti.
Huza tergelak dan geleng-geleng kepala. "Lucu banget sih lo, kemakan film. Sekarang turun, lo harus tenang dan pikiran lo kosong, bayangin lo turun tangga tanpa kaki lo nyentuh lantai."
"Ohh maksud lo terbang?"
"Sekarang lo liat gue." Huza mengangkat kepalanya sedikit dan merentangkan tangannya, tiba-tiba saja tubuhnya melayang dan turun ke lantai bawah.
"Waahhh jadi hantu keren juga ya? Gue coba deh." Geet mengangkat kepala dan merentangkan tangannya. Tiba-tiba tubuhnya terangkat malah panik.
"Eeehhh Huza, tolongin gue... beneran terbang ini... Gue takut ketinggian..."
"Mana ada hantu takut ketinggian. Santai aja, turun pelan-pelan!" Seru Huza dari bawah.
"Gue takut jatoh!"
"Jatoh juga nggak akan kerasa apa-apa! Buruan turun!"
"Gimana turunnya? Kok gue malah melayang di atas gini?" Geet panik melayang tanpa bisa bergerak.
Huza berdecak dan merentangkan tangannya, lalu tubuhnya melayang ke arah Geet.
Langsung saja Geet memeluk Huza ketakutan.
Mereka berpelukan di udara membuat Geet salah tingkah.
"Sorry."
"Makanya lo yang santai. Sekarang lo liat tempat tujuan lo, pusatkan lo mau ke sana. Nanti lo dengan alami bakal terbang ke sana. Paham?" Jelas Huza.
Geet mengangguk. "Sorry deh gue kan baru. Ajarin gue terbang."
"Sekarang pusatkan pikiran lo mau terbang ke mana?"
Geet celingukan ke sekitar. "Gelap gini. Nggak ada yang menarik."
Dari kejauhan ada cahaya putih berkelap-kelip.
"Itu tempat apa?"
Huza mengikuti arah pandangan Geet. "Pasar malem dari kampung sebelah. Mau ke sana?"
"Emang bisa?"
"Bisa lah namanya juga hantu. Yuk terbang ke sana." Huza melepaskan pegangannya membuat Geet panik.
"Jangan dilepas dong, Za.. ntar gue jatoh."
"Ganjen amat ni hantu.. nggak bisa liat hantu ganteng maunya nempel melulu."
Geet mencibir. "Kepedean lo! Ya udah ayo... Kalo gue jatoh tolongin ya."
Huza terkekeh Geet begitu khawatir.
Berdua mereka terbang menembus langit malam.
"Waahhhh seru juga ya jadi hantu.. bisa terbang.." teriak Geet begitu semangat membiarkan angin menyibak rambutnya.
Huza tersenyum melihat tingkah Geet. Entah udah berapa lama gue nggak terhibur begini? Batinnya. Jadi arwah gentayangan, sendirian, kesepian. Kehadiran Geet menghibur dalam kegelapannya.
"Za, lo udah sering terbang begini?"
"Baru pertama kali malah gue keluar dari gedung."
"Kok gitu?"
"Gue males terbang sendiri."
Geet tersenyum saling pandang dengan Huza yang terbang di sampingnya.
Sejak lama Geet menyukai Huza yang begitu baik padanya, sudah menolongnya.
Tak menyangka mereka bertemu seperti ini.
Dan tidak ada yang lebih indah selain terbang berduaan tanpa ada yang mengganggu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments