Bab 2

Pagi-pagi sekali Geet sudah bangun dan bergegas mandi.

Tampaknya Tina belum bangun. Pasti semalam tantenya itu pulang larut malam sehabis berkencan.

Semalam juga ada enam misscalled dari Boni, pasti pria tua itu menunggu di depan kamarnya semalaman namun tidak bisa masuk.

Percuma juga mengadu pada Tina. Tantenya pasti sangat membela pacarnya yang sangat 'baik'.

Padahal baik apanya kalau sudah kawin cerai sampai empat kali??

Malah patut dipertanyakan kesetiaannya.

Namun tak ada gunanya berdebat dengan tantenya yang seperti terkena pelet super dari pria tua itu. Jadi Geet hanya bisa diam menahan mangkel setiap Boni kegatelan padanya.

Ia mengenakan seragam kerjanya dan mengikat rambutnya. Memoles bedak dan liptin tipis saja, lalu menyemprot sedikit cologne ke lehernya.

Ia memakai sepatunya, mengenakan jaket dan membawa tas bergegas keluar rumah. Baru jam 06.15, sengaja berangkat pagi agar tidak kena macet.

Ternyata Afran sudah menunggu di depan rumah dengan motor sport nya

"Kok pagi amat udah di sini?" Tanya Geet.

"Di sosial media ada kabar jalan utama ditutup ada pohon tumbang. Jadi kita harus muter jalan agak jauh. Makanya harus berangkat lebih pagi." Afran menyerahkan helm.

Geet langsung mengenakan helm dan naik di boncengan.

Tak lama motor melaju dengan kecepatan sedang.

Geet agak canggung hanya memegang jaket Afran.

"Peluk juga nggak pa-pa, Geet. Biar lebih aman."

Geet berdecak malas. Tidak mau menuruti perintah Afran.

"Lo udah sarapan belom?" Tanya Afran.

"Belom."

"Gue juga belom. Kita sarapan bubur ayam dulu."

"Nggak usah."

"Nggak ada nolak pokoknya."

Geet mendengus. Dia sebenarnya mencoba menjaga jarak dari Afran karena tak mau cari masalah dengan geng centil di kampus yang dicuekin Afran.

Tapi laki-laki ini kerap perhatian padanya.

Afran memarkir motor di taman.

"Yuk?"

Geet menurut akhirnya turun dari motor.

"Pak, dua mangkok ya." Afran menarik Geet yang diam saja untuk duduk.

"Gue nggak biasa sarapan, Fran." Geet menyimpan tas di meja.

"Biasain lah. Lo kerja dari pagi sampai sore, asam lambung lo naik yang ada kalo jarang makan. Sayang lah sama badan sendiri."

Geet tak menjawab, sibuk melihat berita di HP nya. Ia membaca berita-berita tentang ayahnya, terasa sesak di dadanya. Terutama membaca berita istri ayahnya yang bernama Pamela sudah lama menceraikannya, ketika ditangkap. Dan kini Pamela begitu makmur setelah menikahi pemilik hotel bintang lima, tak peduli dengan mantan suaminya di penjara.

Afran melirik artikel yang dibaca Geet.

"Lo ngapain sih sering banget lihat berita tentang koruptor? Kenal lo emang sama dia?"

Geet berdecak dan menyimpan kembali HP di sakunya. "Bukan urusan lo."

"Cerita aja kali sama gue."

"Nggak ada yang perlu diceritain."

Afran tak bertanya lagi begitu bubur ayam pesanan mereka datang.

Mereka makan dalam diam.

Sesekali Afran melirik Geet yang wajahnya selalu ditekuk. Tak pernah sekalipun selama tiga tahun ia kenal gadis itu, tersenyum bahkan hanya sedikit. Mereka berkenalan ketika Afran pertama pindah ke rumah pamannya setelah ayahnya Afran meninggal dunia.

Walau begitu Afran kerap perhatian pada Geet. Padahal respon gadis itu selalu dingin dan ketus padanya.

Geet tak pernah berbicara tentang hal pribadi. Bahkan Geet terkesan menjaga jarak. Namun Afran kerap mendekat.

Selesai makan, Afran membayar makanan, dan naik motornya.

"Gue jalan kaki aja deh. Udah deket ini." Kata Geet.

"Nanggung. Barengan sama gue."

"Tapi..."

Afran sudah memakaikan helm pada Geet. "Buruan."

Geet mendengus kesal dan akhirnya naik motornya.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!