"Bukan cuma kita aja. Ternyata banyak yang mati sia-sia dan gentayangan nggak jelas, Za." Geet kasihan mendengar yang terjadi pada Wina, Deni, dan Nenek Tini.
Huza duduk menyandar di tiang. "Ya begitulah. Banyak manusia kejam yang berani menghilangkan nyawa manusia demi kepentingan sendiri."
"Sayang kita nggak bisa bantu mereka." Geet menyesal sudah mati sia-sia.
"Ada batasan dan kita nggak bisa lewatin batasan itu, Geet. Nggak ada yang bisa kita lakuin. Pasrah aja jangan banyak nyesel. Ini udah takdir kita." Huza melihat langit malam penuh bintang. Entah sudah berapa lama ia melewati malam melamun sendirian memandangi langit seperti ini.
"Oh ya seru juga ya semalem kita main petak umpet sama mereka."
Geet sungguh terhibur. Wina bisa menembus pohon dan bersembunyi di sana, Deni bisa terbang dan nongkrong di atas pohon, Nenek Tini bisa berpindah tempat dalam sekejap mata.
"Jadi hantu ternyata banyak talenta ya? Lebih bertalenta dari pada manusia." Geet cekikikan. "Ajarin gue lah talenta yang lain selain terbang. Gue kan pengen jadi hantu yang berpendidikan." mendengar permintaan konyol Geet membuat Huza mendengus geli.
"Ogah ngajarinnya gue. Ntar lo histeris lagi." Sahut Huza.
"Iiihh ngeselin lo, nggak mau bantu temen sesama hantu." Geet buang muka membuat Huza tersenyum geli.
"Kalau ada sekolah hantu ntar gue daftarin lo."
"Boleh tu. Tapi bayar nggak? Dunia hantu ada mata uang yang bisa dipake transaksi?"
"Mana ada Geetaziaaa... Yang ada juga sesajen."
Geet terkekeh. "Bercanda kok. Serius amat."
Terdengar jeritan suara bersahutan dari ruangan sandera, membuat Geet miris membayangkan kesakitan mereka.
"Coba aja kita bisa lakuin sesuatu buat bantu mereka."
Huza angkat bahu. "Terima nasib aja, Geet. Kita nggak bisa campur tangan urusan manusia." Ia melihat Geet murung saja.
"Mending kita ke atap. Biar lo nggak liat yang bikin lo sedih." Huza berdiri mengulurkan tangan.
Geet menggapai tangan Huza dan berdiri, saat itu ia melihat sosok yang dikenalnya memasuki gedung, berbaju hitam, dan berkacamata.
"Lho? Afran?"
Huza mengikuti pandangan Geet, melihat seorang pria berwajah dingin membawa pisau bergagang biru.
"Itu temen lo?"
Geet mengangguk cemas melihat Afran terlihat dingin dan mengerikan. Beda dengan yang biasanya. Lagipula bagaimana bisa Afran ada di tempat ini??
"Za, kita ke sana yuk?"
"Jangan Geet, daerah sana bikin lo ngeri. Ntar lo histeris."
"Tapi gue mau tau buat apa dia ke mari."
"Lo liat kan dia bawa pisau?" Huza mengajak Geet mengintai Afran. "Yakin lo mau cari tau? Gue rasa udah ketebak jawabannya."
Afran terduduk di lantai dan membuka tas berisi berbagai macam pisau bedah.
Geet menutup mulut begitu shock. "Apa jangan-jangan, Afran jadi dokter bedah gelap yang bertugas untuk bedah orang-orang di sini??"
Huza menilik raut wajah Afran. "Bisa jadi. Kadang dokter yang datang nggak berlisensi dan ilegal. Mereka datang sekali bekerja dan nggak datang lagi. Malah seringnya dicari dokter dari luar kota demi ngilangin jejak."
Geet sungguh tidak mengira orang-orang yang dekat dengannya begitu mengerikan. Ia kira Afran hanya laki-laki biasa. Tapi nampaknya ia memang belum mengenal dekat Afran.
Raut wajah Afran pun dingin tak seperti biasanya selalu hangat bersahabat dengannya.
Afran memutar-mutar pisau dengan lihai dan menancapkan pada tembok penuh tenaga.
Geet merinding membayangkan pria itu dengan aura predator tanpa hati membedah manusia yang tidak berdaya.
Membayangkannya saja ingin sekali mencekik laki-laki itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments