Bab 16

Entah sudah berapa lama Geet bergentayangan, menjadi hantu sudah tak mengenal waktu lagi.

Dan ia mulai merasa bosan.

"Kenapa lo?" Tanya Huza sambil melipat kertas membentuk pesawat.

"Sampe kapan kita begini ya, Za?" Gumam Geet membuat Huza terdiam.

"Gue juga nggak tau."

"Gue heran, lo kuat amat bertahun-tahun kayak gini."

Huza menerbangkan pesawat kertas ke udara, dan terduduk di samping Geet.

"Lo bosen?"

"Emang lo enggak?" Geet malah balik tanya.

"Ya sering malah gue ngerasa bosen. Tapi gue udah biasa. Jadi gue cari hiburan aja."

"Apa hiburan seru jadi hantu?"

"Lo kangen masa-masa lo jadi manusia?" Tanya Huza akhirnya.

Geet angkat bahu. "Gue juga nggak tau, Za. Hidup gue nggak ada indah-indahnya. Di-bully, dihina, nggak dianggap, selalu direndahin. Tapi gue ngerasa sayang aja harus mati sia-sia gini."

Huza menggenggam tangan Geet membuatnya menoleh. "Jangan galau gitu."

"Gimana nggak galau sih? Kalau aja gue dikasih kesempatan hidup lagi, gue nggak bakal sia-siain. Gue bakal bongkar ni sindikat biar berhenti berbuat jahat."

Huza terdiam memikirkan hal lain.

"Kalo lo, andai lo dikasih kesempatan hidup lagi, apa yang mau lo lakuin?"

"Kalo gue..." Huza memandang langit hitam penuh bintang di atasnya. "Gue pengen kerja jadi intel. Bisa bongkar sindikat model begini yang menghilangkan nyawa orang. Gue bisa bantu orang-orang yang kesulitan dan membela yang lemah."

Geet menerawang. "Sayang ya itu cuma khayalan."

"Yaahh nggak ada lagi yang bisa kita lakuin selain berkhayal. Mending kita main aja sini kita bikin pesawat kertas yang banyak." Huza mengambil setumpuk kertas.

"Lo dapet kertas dari mana?"

"Dari ruangan dokumen. Ini tumpukan kertas yang udah nggak kepake. Ya gue ambil lumayan buat hiburan."

Geet menyipit mengambil selembar kertas dan membacanya.

"Za, ini kan data-data korban. Lo baca deh..."

Huza membaca yang tertulis. Ada nama-nama korban, usia, tinggi dan berat badan, golongan darah, dan bagian tubuh mana yang bisa didonor.

"Gila bener ni orang-orang udah banyak korbannya." Geet membaca kertas satu per satu dan terkejut.

"Ini kayaknya data yang lama makanya dibuang." Huza membereskan kertas begitu Geet menyenggolnya.

"Za, ada nama lo nih."

Huza menoleh bingung dan menerima kertas.

Atas nama Huza Adrian. Usia 19 tahun. Golongan darah O positif. Organ tubuh yang diambil : jantung.

Huza terdiam dan menghempaskan kertas ke lantai.

"Jadi gue dibunuh dan jantung gue diambil buat dijual."

Geet merinding membayangkan tubuh Huza tidak utuh lagi.

"Ya jelas cuma jantung yang bisa diambil. Gue pernah kena batu ginjal dan mata gue minus."

"Lo kok ngomong gitu sih? Ngeri, tau.." Geet merengut sambil membereskan kertas-kertas.

Huza berdiri memandang ke bawah, dimana Afran keluar dari gedung tergesa-gesa sambil memeriksa situasi seperti takut ketahuan.

Geet mengikuti arah pandangan Huza.

Apa Afran yang udah bunuh Huza? Batinnya.

"Sekarang gue tau penyebab gue mati. Dan gue bisa pergi dengan tenang." Kata Huza membuat Geet tersentak dan menarik lengan Huza menghadapnya.

"Maksud lo apa? Lo mau pergi?"

Huza menatapnya lekat.

"Lo mau pergi ninggalin gue? Apa yang harus gue lakuin gentayangan sendirian? Lo jangan pergi, Za! Gue nggak mau ditinggal sama lo!" Geet menitikkan air mata membuat Huza terkejut.

"Geet, lo nangis?"

Geet terisak memukul-mukul dada Huza. "Ya gue sedih makanya gue nangis. Lo jahat mau ninggalin gue. Lo nggak tau dari dulu gue udah suka sama lo. Tapi dulu gue masih kecil, gue..."

Huza menariknya dalam pelukannya, dan mengusap-usap kepalanya, membiarkan Geet menumpahkan tangisnya.

"Jangan pergi, Za.. jangan tinggalin gue..." Isaknya.

"Geet, ada yang perlu lo tau." Bisik Huza, Geet masih terisak pedih.

"Apaan?"

"Lo belum mati." Perkataan Huza membuat Geet tersentak dan melepaskan pelukannya, menatapnya bingung.

"Gue belum mati? Maksudnya?" Geet memandang tubuhnya sendiri, kebingungan.

Huza mengusap air mata di pipi Geet. "Karena hanya yang belum benar-benar mati yang bisa ngeluarin air mata begini."

Geet menghapus sisa air matanya. "Gue nggak peduli! Pokoknya gue mau pergi sama lo."

"Nggak bisa, Geet. Lo masih hidup. Lo punya kesempatan untuk menghentikan ini semua."

"Tapi gimana caranya? Kalau pun iya gue masih hidup, gue nggak punya keberanian untuk ngelawan mereka." Geet menggenggam tangan Huza tak ingin melepasnya. "Gue mau ikut lo aja, Huza. Nggak ada yang tersisa buat gue bisa bahagia di sini."

Huza menatapnya lekat, dan mengusap kepala Geet. Lalu ia menunduk mengecup kening Geet, lanjut mencium kedua mata gadis itu.

"Makasih udah hadir disaat-saat terakhir. Gue bahagia banget bisa kenal sama lo. Andai gue masih hidup, mungkin kita bisa bahagia jadi sepasang kekasih. Kita nge-date di pasar malem, naik kereta gantung, makan permen kapas, main lempar bola." Perkataan Huza membuat tangis Geet makin keras.

"Lo bener-bener mau ninggalin gue, Za?"

"Lo harus kuat, Geet. Lo harus bisa bales semua orang yang udah ngerendahin lo. Lo bukan lagi Geet yang lemah, terhina, tertindas. Lo Geet yang pemberani. Inget janji lo, kalo dikasih kesempatan hidup lagi, lo nggak bakal sia-siain."

Geet terisak makin kuat. "Tapi gue..."

"Gue suka sama lo, Geet.." kata Huza membuat Geet makin terluka.

"Kalo gitu lo jangan tinggalin gue, Za.. meski kita cuma bisa gentayangan sehari atau bahkan puluhan tahun, gue mau kita selalu bersama."

Huza mengecup kening Geet lagi. "Kita akan selalu bersama. Lo denger gue baik-baik. Setelah lo sadar nanti, orang pertama yang lo lihat, adalah orang yang mendapat donor jantung gue. Dia akan jadi pelindung lo, jagain lo, dan nggak akan pernah ninggalin lo selama jantung gue masih berdetak di tubuhnya."

Geet terdiam, begitu Huza melepas pelukannya dan berjalan mundur, tersenyum menatapnya. Begitu tampan dan bersinar.

"Jaga diri lo, Geet.."

"Huza..."

Muncul cahaya dari langit, perlahan Huza menghilang seperti asap.

Geet merasa tubuhnya lebih ringan dan terangkat ke udara.

***

Terpopuler

Comments

ira kasih

ira kasih

jantung huza apakah di afran...?

2024-10-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!