Air mata mengalir hangat di pipinya yang bersih, matanya terbuka perlahan.
Gue di mana?
Geet mengerjap terasa berat. Dari arah jam tiga, ada sosok tinggi mengenakan jubah dokter membelakanginya.
Ada stetoskop menggantung di lehernya.
Kening Geet kontan berkerut melihatnya. Siapa itu?
Tiba-tiba sosok berjubah dokter itu berbalik membawa jarum suntik membuat Geet kaget.
Afran???
Afran sendiri terkejut melihatnya sampai menjatuhkan jarum suntik.
"Lho Geet, lo udah sadar?? Alhamdulillah..." Afran langsung mengenakan stetoskop dan memeriksanya.
Menyorotkan senter ke matanya.
Geet masih kebingungan, namun tubuhnya sulit digerakkan. Suaranya pun tak keluar saking lemahnya.
"Geet, lo kenal gue kan?"
Geet mengangguk pelan.
Afran menghela nafas lega. "Gue hampir putus asa. Lo koma selama tiga bulan."
Koma??
Tiga bulan???
"Lo istirahat aja dulu. Pelan-pelan lo bakal pulih." Afran mengusap keringat di dahi Geet.
Begitu Afran memeriksa infus, dan memperbaiki letak selang oksigen Geet.
Air mata Geet mengalir lagi membuat Afran kaget dan mengusap kepalanya.
"Lo pasti sembuh, Geet. Gue akan rawat lo."
Geet hanya menatapnya berkaca-kaca.
***
Hampir dua minggu, Geet baru bisa menggerakkan tubuhnya dan bisa duduk di kursi roda.
"Nah sekarang lo makan dulu. Gue suapin ya." Afran menyuapi bubur, Geet makan pelan-pelan, wajahnya masih pucat setelah terbaring lebih dari tiga bulan.
"Ini di mana?" Geet melihat sekeliling kebun yang luas. Suasana begitu sejuk dan tenang. Tak ada bising seperti di kota.
"Ini rumah eyang gue. Di Puncak. Gue nggak bisa bawa lo ke rumah sakit, jadi gue rawat lo di sini. Tiga bulan lo koma, bikin gue takut lo nggak bertahan." Afran menghapus sisa bubur di bibir Geet menggunakan tisu.
"Gue kenapa, Fran?" Tanyanya pelan.
Afran mengaduk-aduk bubur dan menyuapinya lagi. "Lo kecelakaan dan kritis."
Geet terdiam mengingat kejadian bersama Huza. Apa itu semua mimpi?
Tapi kalau memang mimpi, kenapa gue sedih kehilangan Huza? Air mata Geet menitik lagi.
Afran menghapus air mata di pipi Geet. "Ada apa? Cerita sama gue. Kadang gue denger lo manggil-manggil nama Huza. Siapa itu? Kok lo bisa mimpiin dia sampai nangis gini?"
Geet terisak makin keras, Afran beringsut memeluknya.
Untuk beberapa saat Geet menumpahkan tangisnya, Afran hanya mengusap-usap kepalanya membiarkan Geet meluapkan kesedihannya.
Sampai tidak melanjutkan makannya.
Setelah hampir dua puluh menit menangis, akhirnya Geet menghentikan tangisnya.
Afran mengambilkan segelas air. "Minum dulu."
Geet meneguk air hingga setengah gelas.
"Sekarang lo cerita, ada apa?"
Geet memilin-milin ujung bajunya, bingung ingin memulai. Ia khawatir Afran tidak mempercayainya.
Afran masih menunggunya bicara.
"Sebelumnya gue mau tanya sama lo, Fran." Geet agak ragu, tapi ia harus menanyakan itu. "Lo... Penerima donor jantung ya?" Tanyanya membuat Afran tersentak.
"Lo tau dari mana? Gue nggak pernah kasih tau siapapun. Cuma orangtua gue yang tau dan mereka udah meninggal. Gimana lo bisa tau?"
Berarti kebersamaannya dengan Huza bukan mimpi!
Benar yang Huza bilang, orang pertama yang ia lihat begitu sadar adalah orang penerima donor jantung Huza.
"Geet, bilang sama gue, kok lo bisa tau?" Afran menatapnya lekat.
"Kalau gue bilang, apa lo bakal ngatain gue nggak waras?" Tanyanya pelan.
Afran kontan menggeleng dan merapikan rambut yang menutupi dahi Geet.
"Lo bisa percaya sama gue. Cerita aja."
***
Hampir dua jam Geet menceritakan rangkaian peristiwa yang dialaminya membuat Afran terpaku melihat gadis itu terisak teringat Huza.
"Lo nggak bercanda kan Geet?" Afran memastikan.
"Buat apa gue bercanda? Gue liat lo malam-malam masuk gedung pake baju hitam, bawa pisau gagang biru, dan lo ngasah pisau dengan wajah seram. Gue sampe takut apa temen gue jadi dokter bedah gelap yang bedah orang-orang untuk diambil organ tubuhnya."
Afran tersentak dan berdiri, berusaha mencerna cerita Geet.
"Lo nggak salah. Gue emang datang ke gedung itu bawa pisau untuk berjaga kalau gue diserang. Tapi waktu kejadian itu lo masih koma di sini. Maksud lo, selama lo koma lo jadi arwah gentayangan di gedung itu dan lo liat gue nyusup ke gedung itu?"
Geet tak ada jawaban lain, hanya mengangguk. "Lo jawab gue dulu. Ngapain lo ke sana?"
Afran duduk di sampingnya, serius. "Gue nyari info tentang pendonor jantung gue." Afran menarik nafas berusaha tenang. "Lima tahun lalu gue kecelakaan dan jantung gue nggak bertahan lebih dari 24 jam. Jalan satu-satunya untuk gue selamat adalah donor jantung. Saat itu semua berjalan lancar. Gue bisa pulih dan beraktivitas seperti biasa. Tapi setahun belakangan, gue sering mimpi. Tentang gedung kosong terbengkalai, jauh di pinggir kota. Awalnya gue kira itu cuma mimpi biasa. Tapi mimpi itu berulang terus-menerus sampai gue sendiri takut untuk tidur, karena nggak tau makna mimpi itu apa. Sampai beberapa bulan lalu gue dapet info tentang pendonor jantung gue. Terakhir dia terlihat di sekitar gedung. Gue akhirnya nemuin gedung itu, sama persis dengan yang ada di mimpi gue. Tapi yang gue lihat bikin gue shock."
"Lihat apa?" Tanya Geet membuat Afran menatapnya.
"Gue liat lo digotong orang-orang berbaju hitam keluar dari gedung dan mereka mau kubur lo di belakang gedung itu." Jawab Afran membuat Geet tersentak.
"Gue dikubur sama mereka?"
Afran mengangguk. "Tapi gue berhasil gagalin mereka dan bawa lo kabur dari sana. Ternyata lo masih hidup, hanya luka-luka lo yang bikin lo nggak sadarkan diri. Gue nggak bisa bawa lo ke rumah sakit, karena takut lo nggak aman. Jadi gue bawa lo ke mari. Semenjak eyang gue meninggal setahun lalu, rumah ini kosong. Jadi lo aman di sini."
Geet terdiam. Ternyata Afran bukan kriminal seperti yang ia duga. Justru pria ini menolongnya. Jika Afran tidak datang saat itu, entah bagaimana nasib Geet dikubur hidup-hidup.
"Jadi bener lo dibunuh karena pergokin mereka bedah orang-orang dan diambil organ tubuhnya?"
"Gue emang liat itu. Tapi setelah dapat pukulan, gue nggak inget apa-apa lagi. Sadar-sadar gue udah gentayangan di gedung dan ketemu sama Huza Adrian. Dia pendonor jantung buat lo." Penjelasan Geet membuat Afran terpaku.
"Huza Adrian?" Afran memegang dada kirinya. "Ini jantung dia?"
"Dia cuma bilang sama gue, kalau gue sadar nanti, orang pertama yang gue lihat itu adalah penerima donor jantungnya." Geet menyentuh dada kiri Afran dan merasakan detak jantung itu begitu cepat.
Ya. Huza, gue bisa ngerasain, ini jantung lo. Lo nggak bener-bener ninggalin gue, batinnya.
Untuk beberapa saat mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Geet.." Afran menggenggam tangan Geet dan meletakkannya tepat di jantungnya. "Selama gue masih hidup, gue akan jagain lo. Gue akan bantu. Kita sama-sama berjuang supaya sindikat ini segera ditangkap. Gue nggak mau kematian Huza sia-sia. Dan gue nggak bisa tinggal diam kalau mereka mengambil nyawa manusia nggak bersalah."
Geet terisak memegang wajah Afran. "Gue kangen sama Huza."
Afran memegang tangannya dan memeluk gadis itu. "Gue di sini. Gue nggak akan tinggalin lo."
Geet menumpahkan tangisnya di pelukan Afran.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Muzaata Alenmiyu
huft.. kirain beneran jahat si arfan thor 😔 tapi aku seneng karna itu bukan kenyataannya 🤭🤗
2023-10-04
2