Bersama Afran, Geet mengatur rencana untuk membalas dendam orang-orang yang sudah menindas dan merendahkannya.
"Lo yakin mau bantuin gue, Fran? Emang lo nggak ada kerjaan?" Tanya Geet begitu Afran menjejerkan beberapa foto di meja.
"Pekerjaan gue paling berat. Pokoknya gue nggak bisa terima semua perlakuan nggak adil buat lo. Kita harus bales mereka semua." Afran memakai kacamatanya, dan duduk di samping Geet.
"Tapi gimana dengan kuliah lo?"
"Gue udah lulus. Sekarang gue resmi jadi dokter. Tadinya gue berpikir untuk nyamar jadi dokter bedah gelap ke gedung itu, tapi gue nggak boleh gegabah karena orang-orang itu punya senjata. Salah-salah gue bisa mati konyol."
"Iya sih. Gue aja diserang karena ketauan nyusup dan intai mereka."
Afran mengusap kepala Geet. "Mulai sekarang, jangan bertindak sendiri. Jangan cuekin gue lagi. Sharing sama gue apapun yang mengganggu lo."
Geet mengangguk, ia merasa kuat Huza ada bersamanya.
"Geng Purple, Pak Dewo, Eros, Om Boni, Emon sama Don pacarnya. That's it? Anything else?" Tanya Afran.
Mengingat itu, Geet menggeram dan menatap foto-foto orang-orang yang sudah menindasnya, merendahkannya.
"Geng centil itu udah bully gue, robek baju gue, sampai iket gue di atap. Setelah itu mereka yang buang gue di gedung kosong itu. Eros.. dia nggak ada kapoknya gangguin gue, bahkan berusaha perkosa gue. Yang bikin Lesta menjadi-jadi fitnah gue di depan Tante Tina, bodohnya Tante Tina malah percaya sama Lesta." Nafas Geet memburu, tekanan darahnya meninggi mengingat rentetan perlakuan tak adil padanya.
"Pak Dewo? Tua bangka itu nawarin gue jadi sugar baby. Dia ngerendahin gue karena gue cuma cleaning service. Om Boni, sama aja, tua bangka yang sering cari kesempatan ingin garap gue dan sering ngajak gue ketemu di hotel. Emon, gue paling nggak nyangka Emon setega itu sama gue, dia bahkan tega jual gue untuk jadi partner ranjang bertiga dengan pacar gay nya."
Afran menggeram mendengar cerita Geet.
"Nggak bisa dibiarin, Geet. Kita harus balas mereka. Kita kasih mereka pelajaran!"
"Gimana caranya?" Tanya Geet.
"Kita bikin rencana matang. Yang jelas, kita nggak akan ngotorin tangan kita sendiri."
Geet masih bingung. "Maksud lo, kita bayar orang ngerjain mereka? Tapi kan gue nggak punya uang. Bayar orang pasti butuh uang banyak."
Afran tersenyum dan menggamit tangan Geet menuju pojok ruangan. Menghadap peti ukiran kayu yang cukup besar.
"Ini apa, Fran?" Geet memegang peti itu.
Afran mengeluarkan kunci dan membuka gembok peti itu. Dan membukanya.
Mata Geet melebar melihat peti itu penuh dengan emas batangan.
"Fran, ini... Emas asli??"
"Menurut lo?" Afran memegang sebatang emas.
"Eh Fran, lo dapet dari mana? Banyak gini. Lo ngerampok ya?" Tuduh Geet dapat hadiah sentilan keras di dahinya.
"Sembarangan lo!"
Geet mengusap dahinya cemberut. "Terus ini emas siapa? Banyak amat."
"Ini warisan dari Nenek gue. Selama ini Nenek cuma berpesan karena gue satu-satunya cucu, gue yang dapat semua warisan rumah dan emas-emas ini. Semula waktu Nenek sakit, Nenek cuma kasih gue kunci. Gue nggak ngerti apa maksudnya karena Nenek udah sakit stroke dan nggak bisa bicara. Sampai begitu Nenek meninggal, gue berpikir keras cari kunci apa ini. Begitu gue nemuin peti ini di bawah tempat tidur Nenek, gue akhirnya tau ini yang Nenek berikan." Penjelasan Afran membuat Geet terharu.
"Baik banget ya Nenek lo, masih kasih warisan segini banyak, dijamin hidup lo tujuh turunan nggak bakalan jatuh miskin."
Afran terkekeh dan mengetuk pelan dahinya. "Sekarang, kita jual emas ini. Satu batangan emas bisa laku dua ratus juta rupiah."
"Dua ratus juta????" Geet melihat peti penuh dengan emas. "Kalo gitu ini bisa berapa puluh milyar kalo dijual, Fran?"
"Ijo deh langsung matanya nggak bisa liat emas mentereng dikit," ledek Afran membuat Geet cemberut.
"Gue kan belum pernah ngebayangin punya duit sampe dua ratus juta, apalagi liat emas segini banyak. Eh tapi kalo lo banyak duit, ntar beliin gue baju kek, masa' gue pake baju lo terus udah kayak daster." Geet mengambil sebatang emas dan mengamatinya.
Afran terkekeh dan merangkul bahunya. "Siap.. kalo perlu satu toko baju gue beliin."
"Ya nggak satu toko juga, kali.. emang gue mau jualan."
"Kalo lo udah ngerasa sehat, kita balik ke Jakarta. Kita beli rumah di sana dan kita atur strategi untuk bales ni orang-orang sombong, kita kasih mereka pelajaran udah berani nginjek-nginjek harga diri lo. Bikin mereka terima ganjaran setimpal."
Geet mengangguk semangat. "Make over gue ya, mereka kan ngira gue udah mati. Gue bakal bales berkali-kali lipat dari yang mereka lakuin ke gue."
"Gitu dong!" Afran mengecup kening Geet sekilas. "Itu baru Geetazia. Harus berani dan percaya diri."
Pipi Geet kontan merona. "Apaan sih lo cium-cium gue?"
"Emang nggak boleh? Belom pernah emang dicium sama Huza?" Goda Afran membuat Geet cemberut.
"Ya beda lah. Dicium Huza dalam kondisi jadi arwah."
Afran terkekeh. "Sekarang kerasa kan angetnya gue cium."
"Diiiihh kok lo jadi genit sih sama gue??" Geet cemberut balik badan, sungguh malu.
Afran tertawa geli melihat gadis itu salah tingkah.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments