Bab 6

Tiba di kost an Emon, kost khusus pria, Geet langsung masuk kamar dan rebahan di kasur.

Emon masuk kamar dan menutup pintu.

"Kenapa lagi sekarang? Kamu kabur dari siapa?" Tanya Emon sambil melepas jaket dan rebahan di sampingnya.

"Biasa, tua bangka itu ngeselin! Tiap dateng pasti deh curi-curi kesempatan pengen garap gue. Dia dateng lagi malam ini jelas nggak aman gue di rumah." Jawab Geet mangkel. "Dia tuh paling pinter curi-curi kesempatan. Ijin ke toilet, nyasar ke kamar gue. Alasannya mau minjem charger lah, terus mau nawarin pekerjaan ke gue. Modus banget!"

"Lagian kamu diem aja. Kenapa nggak aduin sama Tante Tina? Kan dia yang kegatelan sama kamu."

"Mana lah percaya orang lagi bucin gitu. Yang ada gue kena marah, dibilang terlalu negative thinking sama calon Om. Buat Tante gue, jelas Om Boni si tua bangka itu paling baik, paling sempurna. Sampai kawin cerai empat kali. Koleksi buku nikah apa koleksi mantan istri tuh? Gedek banget gue sama dia." Geet meluapkan unek-uneknya.

Seperti biasa, Emon jadi pendengar yang baik membiarkan sahabatnya meluapkan semua curhatnya.

"Gue nginep sini ya. Gue udah bawa seragam kerja buat besok."

"Iya. Kamu tidur aja. Aku mau jalan sama Mas Don, malem ini juga aku tidur di apartemennya."

Geet memejamkan mata dan mengacungkan jempol.

Emon bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap kencan.

Emon satu-satunya sahabat Geet yang dipercaya tidak akan macam-macam pada Geet karena Emon itu gay. Sudah setahun ini Emon berpacaran dengan pria pemilik toko emas bernama Don. Pria beristri yang istrinya juga memiliki penyimpangan s*ksual dengan menyukai sesama jenis.

Geet sendiri tak paham bagaimana ceritanya dua orang yang sama-sama memiliki kelainan dengan menyukai sesama jenis, bisa menikah.

Yang pasti, hidup Emon terjamin. Bisa kost di tempat se elite ini. Dengan pekerjaan Emon sebagai penata rias, yang hanya menunggu panggilan, jelas tidak akan sanggup menyewa kamar seharga dua juta rupiah per bulan dengan fasilitas lengkap, AC, kamar mandi di dalam, bahkan dapur mini.

"Nih Geet, aku barusan bikin donat. Kalau kamu mau ngemil, ambil di kulkas aja panasin di microwave. Buat sarapan ada telur, sama roti. Bikin roti panggang sama omelet aja. Kamu harus sarapan jangan sampai sakit." Kata Emon sambil merapikan penampilannya dan memakai parfum.

Mengenakan kemeja lengan pendek berwarna pink (karena Emon dapat julukan pinky boy), dan syal warna pink fanta.

Sebenarnya Geet sendiri pusing setiap datang ke kamar Emon yang serba pink, agak gimana gitu secara di kost an khusus pria.

Yang mungkin, perempuan tulen pecinta pink tidak se fanatik itu dengan warna pink.

Geet terduduk di kasur, sambil melihat poster pria tampan yang ditempel di dinding.

"Lo masih nyimpen aja poster ini?" Tanya Geet.

"Ya mau gimana lagi? Itu idolaku. Bukannya kamu juga penggemar dia."

"Ya dulu. Sampe gue bela-belain bobol tabungan demi beli tiket konser, eh dia malah nggak tampil. Nggak ada pemberitahuan juga kenapa dia nggak tampil."

"Sampai sekarang lho belum ada kabar. Lagi mau konser grand final malah ngilang dia. Eh aku jalan dulu ya, itu kayaknya Mas Don udah nyampe." Emon cium pipi kanan kiri Geet dan melambaikan tangan begitu kemayu.

"Hati-hati lo.." Geet mengunci pintu kamar dan rebahan lagi.

Geet jelas tidak lupa idolanya. Huza Adrian. Salah satu peserta kontes menyanyi di TV yang saat itu begitu booming.

Lima tahun lalu, ketika konser grand final, Huza tidak muncul. Semua tidak ada yang tahu keberadaannya. Huza menghilang ketika konser padahal ia dikuatkan menjadi juara.

Kala itu Geet kecewa pengorbanannya sia-sia. Sudah bela-bela mengantri tiket panas-panasan, sampai membobol tabungannya, sampai bela-bela berdesakan bersama para penggemar lain.

Sebenarnya Geet sudah berkenalan langsung dengan Huza, ketika dia masih sekolah menengah pertama.

Kala itu ia pulang terjebak tawuran di kolong flyover. Huza datang menolongnya yang kala itu baru berusia tiga belas tahun. Huza mengantarnya pulang. Cowok itu berusia lima tahun lebih tua darinya.

Maka ketika Huza muncul di acara kontes menyanyi, Geet menjadi fans fanatik yang terus mengejar semua acara yang Huza hadiri. Tak jarang ia berusaha mendekati Huza ingin mengingatkan laki-laki itu mereka sudah pernah bertemu. Tapi kepopuleran Huza kala itu menghambat usaha Geet.

Kecewa yang ia dapat begitu menabung untuk membeli hadiah, pria itu menghilang dan tak muncul di konser.

Geet memandangi foto Huza. Kulit putih, rambut lebat, bola mata hitam, tubuh tinggi atletis, hidung mancung, senyuman yang menawan.

"Kalau aja lo muncul sekarang, gue bisa ngejar lo buat jadi cowok gue. Secara gue udah bukan anak kecil lagi. Umur gue udah sembilan belas tahun. Tapi sayang, lo ngilang nggak ada kabar. Lo ke mana sih sebenarnya Huza?" gumamnya memandangi foto tampan Huza.

HP Geet berbunyi, ada chat masuk dari Boni.

#ketemu di hotel mau?#

"Iiihhh dasar tua bangka!" Umpatnya sambil memblokir nomornya.

"Udah gue blokir berkali-kali tetep aja dia hubungi gue. Bodo ah!" Geet menghempaskan HP nya kesal.

Tiba-tiba HP nya berbunyi ada telepon. Dari Afran.

"Halo?"

"Halo Geet, besok mau bareng nggak?"

"Nggak usah Fran. Gue lagi nggak di rumah."

"Lho? Lo di mana emang?"

"Di kost an temen. Gue berangkat dari sini besok pagi."

"Gue jemput aja ya lo kirim alamatnya."

"Nggak usah, Fran. Gue males ribut sama geng centil itu. Mereka nggak suka kita deket. Mending lo jauh-jauh dari gue."

"Lo kan temen gue, Geet."

"Iya gue tau. Tapi ngertiin lah posisi gue di tempat lo cuma cleaning service. Udah ya, gue ngantuk."

Geet langsung memutus telepon.

Sebenarnya Afran pria yang baik padanya. Berwajah tampan, populer, juga cerdas dengan nilai tertinggi di fakultas kedokteran.

Karena itu pula Geet sadar diri kalau dekat-dekat Afran akan datang banyak masalah untuknya.

Padahal Geet tak pernah sengaja mendekati Afran. Selalu cowok itu yang nempel-nempel dan perhatian.

Ia capek jadi bulan-bulanan geng fans nya Afran.

Belum lagi geng motor songong yang sering mengganggunya.

Teringat tadi di kampus ia hampir dibawa paksa oleh Eros, membuatnya waspada.

"Besok gue bakal nego tukeran aja sama Pino. Biar dia yang nyapu area dua. Gue mending bersihin ruang dekan dan ngepel di lantai atas. Toh beda fakultas si Eros nggak bakal dateng."

Tak lama Geet tertidur.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!