Bab 7

Setelah negosiasi cukup alot dengan Pino, pria itu mau bertukar tugas dengannya.

Jadilah sekarang Geet berkeliling lantai dua untuk mengumpulkan sampah dan membersihkan toilet.

Melewati ruang dekan, ada yang memperhatikannya dari dalam ruangan.

Geet masih fokus bekerja mengosongkan tempat sampah yang bertebaran di koridor.

"Hey kamu."

Geet menoleh bingung tumben Pak Dewo sang dekan menegurnya.

"Ada yang bisa dibantu Pak?" Tanyanya.

"Bersihkan ruangan saya."

Tanpa buang waktu, Geet masuk ruangan membawa sapu dan pengki.

Tak diduga begitu Geet masuk, Pak Dewo langsung mengunci ruangan membuat Geet terkejut.

Melihat tatapan Pak Dewo jelas bukan tatapan biasa. Tatapan predator menemukan mangsa. Jelas Geet hafal karena sering melihat Boni menatapnya seperti itu.

"Pak, kalau hanya bersih-bersih apa perlu pintunya dikunci?" Tanya Geet waspada.

"Oh jelas perlu. Kalau tiba-tiba ada yang datang dan mengotori ruangan, bagaimana? Tidak bagus ada yang mengganggu kamu bekerja."

Pak Dewo mulai mendekati Geet yang langsung menghindar.

"Ada apa ya Pak?"

"Kamu cantik sekali. Kenapa mau kerja begini?"

Geet waspada begitu Pak Dewo mengikis jarak antara mereka dengan merengkuh tubuhnya.

Kontan Geet mendorong pria tua itu.

"Bapak jangan macam-macam."

"Oh saya nggak macam-macam. Hanya ingin satu macam. Ya kamu."

"Tolonglah Pak, jangan mempersulit hidup saya. Saya kerja hanya untuk menyambung hidup."

"Justru saya ingin mempermudah hidup kamu. Usia kamu berapa?"

Masih dengan posisi siaga, Geet menjawab jutek. "Sembilan belas tahun."

"Wah masih muda sekali gadis cantik ini. Sayang sekali gadis secantik kamu harus kerja kasar begini. Bagaimana kalau kamu kerja dengan saya saja?"

Geet menatapnya bingung. "Kerja apa?"

"Sugar baby."

Mata Geet melotot lebar mendengar tawaran menjijikan itu.

"Pasti mau kan. Saya jadi Daddy kamu. Hidup kamu akan terjamin. Biaya kuliah, tempat tinggal, biaya hidup, apapun yang kamu inginkan pasti akan saya kasih. Asal siap setiap saat kalau saya ingin tubuh kamu."

"Pak, ini namanya pelecehan! Saya menolak!" Geet hendak pergi namun Pak Dewo mencekal lengannya.

"Nggak usah sok jual mahal!"

"Lepas Pak, saya nggak mau! Saya mungkin hanya cleaning service tapi saya nggak serendah itu!"

"Apalah arti harga diri? Kalau bisa hasilkan uang banyak dengan tubuh kamu? Kamu cantik dan pasti masih perawan. Ayolah, saya bisa berikan kamu lima kali lipat gaji kamu di sini setiap bulannya."

Pak Dewo mulai kurang ajar meraba bokong Geet.

Geet mencari celah dan...

Jleebbb..

"Aakkkhhh...." Teriak Pak Dewo begitu kakinya diinjak keras.

Geet langsung melarikan diri tidak membiarkan tertangkap.

Membawa peralatan kebersihan, ia bergegas naik ke lantai tiga.

Tiba-tiba saja matanya menangkap geng nya Eros sedang nongkrong di ujung koridor. Heran kenapa mereka di sini karena bukan fakultasnya.

Kontan ia balik badan hendak turun, sialnya ada geng Purple di tangga.

Duuhh sial banget sih gue hari ini! Umpatnya.

"Ehh ada babu nih!" Bella menarik rambutnya membuat Geet meringis.

"Eh Lesta, bener nggak ni babu keponakannya pacar Om lo?" Tanya Geeta.

"Iya bener. Heh lo kemana semalem? Gue dateng harusnya lo layanin gue jangan main kabur aja..." Lesta menoyor kepala Geet yang diam saja.

Geet paham betul posisinya jika melawan akan menjadi boomerang untuknya. Jadi lebih baik diam daripada menambah masalah.

"Kenapa diem? Oohh lo cuma bisa bersuara buat godain cowok doang?" Sherry menepuk-nepuk pipi Geet.

Geet langsung mengambil alat kebersihan dan hendak pergi.

"Ehhhh gue belum selesai ngomong, babu!" Bentak Lesta.

"Lo udah keganjenan deketin Afran, dan sekarang lo berani godain Eros? Lo cari masalah sama kita."

"Eh nggak punya mulut ya lo nggak bisa jawab? Girls, bawa aja ni babu!"

Geet ingin teriak namun mulutnya dibekap Sherry dan diseret ke rooftop.

***

Tak lama geng centil itu turun tangga sambil tertawa puas.

"Mampus deh tu cewek! Sok kecakepan sih!"

"Biarin! Dia pasti kapok berurusan sama kita."

"Dia bakal gosong kepanasan, dan basah kuyup kalau kehujanan..."

Melewati ruang dekan, pintu terbuka. Muncul Pak Dewo dengan langkah pincang.

"Lho Pak, kenapa?" Tanya Lesta.

"Kalian lihat cleaning service yang barusan bersih-bersih di area sini?"

Mereka saling pandang. Maksud Pak Dewo jelas Geet.

"Nggak liat, Pak. Ada apa?"

"Kalau ketemu, suruh ke ruangan saya."

"Kok tumben Pak, manggil cleaning service? Mau dipake ya?"

Pak Dewo mendengus dan masuk ruangan lagi.

"Kayaknya tu babu cari masalah sama Pak Dewo."

"Ahh udah deh nggak usah dipikirin. Biarin aja tu cewek nginep semaleman di rooftop. Besok kita cek lagi kali aja udah mati..."

Semua tertawa-tawa sambil menuruni tangga.

Berpapasan dengan geng nya Eros, membuat Lesta gondok mengingat kejadian kemarin.

"Eh girls, liat cleaning service cantik nggak?" Pertanyaan Eros membuat semua mendengus menahan tawa.

"Yang kayak gitu lo bilang cantik? Lo buta ya?"

"Iya gue udah buta. Di mata gue cuma dia yang cantik, nggak sebanding dengan lo semua."

"Heh!" Geeta mendorong tubuh Eros keras. "Berani lo ya bandingin tu babu sama kita-kita? Najis dibandingin sama dia!"

"Ehhh santai dong lo." Anto menghalau Geeta.

Geng Eros menertawakan geng Purple yang begitu kesal meninggalkan mereka.

"Mau cari ke mana lagi? Kata cleaning service yang bersih-bersih di area kantin, dia bersihin lantai dua dan tiga gedung ini." Kata Rezi sambil lihat kanan kiri.

"Mending kita cari sekitar toilet." Usul Gery.

"Boleh tu. Kalau sampai dia ada di toilet, lo semua jaga ntar gue mau garap dia.." kata Eros geram. "Sialan banget kan tu cewek! Cuma cleaning service aja sok jual mahal! Pokoknya gue harus bisa pake dia!"

***

Terpopuler

Comments

Ririn Santi

Ririn Santi

kerja di sarang penyamun, ngeriiii....

2023-10-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!