Setelah selesai sarapan, kini Dewangga sudah sampai di kampus dimana ia menuntut ilmu sesuai jurusan yang ia pilih.
Sesampainya di kelas ia pun disambut oleh 2 temannya yang bernama : Dimas dan Anton.
" Wah ... kayaknya matahari baru terbit dari barat", ucap Anton saat melihat Dewa berjalan ke arahnya.
Plak.
" Hai ... sejak kapan matahari terbit dari barat yang benar matahari terbit dari timur", jelas Dimas.
" Dim, kamu gak heran lihat betapa pagi ini wajah Dewa sangat bersinar."
" Kalian memang berdua tiap pagi kayak tom and Jerry ya", sela Dewa.
Dimas pun memegang wajah Dewa sesaat duduk ke bangkunya.
" Benar nih, kayaknya kita sudah ketinggalan kabar terbaru."
" Maksudnya?" tanya Dewa heran.
" Mending kamu ngaku deh sama kami Wa, jarang banget kamu tersenyum bahkan cerah banget wajahnya habis dapat jatah ya?" cecar Anton sambil memangku dagunya dengan tangan dan duduk menghimpit Dewa.
" Menurut kalian ..."
" Aku tanya, eh ... kamu balas dengan pertanyaan balik? Kamu nggak mau ya memberitahu kepada kami ?"
" Kalian tunggu saja, ntar juga akan tau kok."
" Ton, kamu kayak nggak tau bagaimana Dewa. Jangan dipaksa, kalau dia sudah bilang seperti itu, tandanya ada suatu hal yang spesial sih."
Dewa pun memeluk bahu kedua temannya.
" Yang sabar ya, nanti akan ada waktunya kalian tau. Sekarang saatnya kita fokus ke mata kuliah pagi ini."
Dewa dan kedua temannya pun, mengikuti perkuliahan seperti biasanya. Dan ketika mereka bertiga pergi ke kantin. Disana banyak mahasiswi penggemarnya Dewa meneriaki dan memandang Dewa dengan tatapan penuh harap.
" Seperti biasa, apa mereka nggak ada kerjaan lain apa? Kamu nggak terganggu Wa sama pandangan dan teriakan mereka?" ujar Dimas yang berjalan disamping Dewa.
" Terganggu sih, tapi asalkan mereka tidak melewati batas. Lagipula aku nggak memberi mereka banyak harapan. Aku tau mereka cuma fans. Jadi ya cuek saja."
" Biar aku yang urus, kalian berdua cari meja saja disana, biar kita bertiga dapat duduk !" sela Anton entah apa yang akan dia lakukan kali ini.
" Selamat siang para junior dan senior fans nya Dewangga !"
Mendapatkan sapaan seperti itu, tentu saja para mahasiswi yang tadi duduk mendadak berdiri berbaris ke arah Anton untuk menitipkan banyak, hadiah , coklat bahkan surat cinta yang mereka tujukan pada Dewa.
" Tolong berbaris yang rapi ya, nanti akan aku bawa ke Dewa."
" Dasar Anton, kenapa nggak bilang langsung saja sih sama mereka bahwa kamu nggak mau Wa?" ucap Dimas yang sedang menyeruput es teh.
" Mungkin Anton kasian sama mereka Dim, seenggaknya kita masih menghargai pemberian mereka."
" Ya nanti pasti di mobil aku sama Anton juga yang jadi tempat penitipan ya."
" Hahaha ... Ya kan aku berbagi sama kalian."
Setelah selesai makan di kantin. Kini Dewa sedang berada di ruang BEM.
" Buset ... banyak banget Wa hari ini ?"
" Ya nih, kalau kamu mau ambil saja ! Aku emang mau ngasih kalian semua !"
" Makasih ya", jawab Ilham.
Dan rapat BEM pun dimulai, hingga 2 jam berlangsung akhirnya. Rentetan jadwal persiapan OSPEK pun sudah selesai dibahas dan ditentukan.
" Sekian rapat kali ini, dan saya harapkan nanti selama berlangsungnya OSPEK untuk mahasiswa baru. Tolong kalian bertugas sebaik mungkin, jangan ada yang namanya bullying kepada junior. Semoga OSPEK tahun ini sukses, selamat siang, silahkan kalian bubar!"
" Siap ketua", jawab anggota BEM serentak.
" Wa, habis dari kampus, kamu ada kesibukkan lain?"
" Iya Ilham."
" Ya sudah deh, nanti kita atur jadwal lagi agar bisa kumpul di basecamp."
" Ok."
Selama Dewa di kampus, sedangkan Freya di rumah.
Freya pun belajar menjadi menantu yang baik dari Bunda Naira.
Tak sulit bagi Bunda Naira untuk mengajari Freya, yang dimana menantunya itu sangat bisa belajar dengan cepat dan tanggap, bahkan kalau Freya tidak mengerti dengan gamblang Freya akan bertanya pada mertuanya.
" Bagus nak, sekali belajar saja kamu sudah paham."
" Ini berkat bunda, ternyata menyulam bukan hal yang begitu sulit jika kita mau."
" Kamu benar nak, asalkan mau belajar pasti akan bisa, makanya harus berusaha dan pantang menyerah."
" Makasih ya bunda."
" Kenapa berterima kasih sama bunda nak, justru bunda yang berterima kasih sama Freya. Dari dulu bunda ingin punya anak perempuan tapi ya gitu, cuma bunda bersyukur diberikan putra seperti Dewa yang akhirnya mempunyai istri seperti Freya yang sudah bunda anggap menjaga anak bunda sendiri."
Mendengarkan perkataan mertuanya. Freya pun bahagia dan memeluk mertuanya.
Hingga ada suara yang menginterupsi kebersamaan mereka.
" Bunda, Freya kalian ada dimana ?" teriak Dewa saat memasuki rumah.
" Kak, kami ada di taman belakang", jawab Freya dengan keras.
" Dasar anak itu, baru datang sudah nyariin."
" Memangnya dulu kak Dewa jarang begini ya Bun?"
" Ya jarang banget lah nak, suamimu itu. Bisa dihitung dengan jari kalau nyariin bunda. Entah dia yang terlalu mandiri dididik sama Daddynya atau dia sendiri yang tidak mau menyusahkan orang lain."
Dewa pun langsung menyalami bundanya dan memeluk istrinya.
" Tumben sampai sore Wa?"
" Iya Bun, tadi sehabis kuliah ada rapat sebentar."
" Ayo ikut kakak, kita keluar sebentar !" ajak Dewa sambil memegang tangan istrinya.
" Bun kami pergi dulu !"
" Mau kemana?"
" Biasa Bun kencan ."
Freya pun menurut saja dengan suaminya.
Ia pun digandeng menuju ke kamar.
"Mandilah dulu, aku akan cek email sebentar."
" Kak, kamu mau mengajak aku kencan kemana?"
" Ke pasar malam."
Setelah mandi dan berganti baju, kini Dewa dan Freya menuju garasi. Dimana Dewa sedang mengeluarkan motor sportnya.
" Ayo naik !"
Freya pun naik ke atas motor dan tak lupa kedua tangan Freya ditarik oleh Dewa untuk berpegangan pada pinggangnya.
" Sudah siap?"
" Iya kak."
Motor pun melaju meninggalkan kediaman Prayoga.
Sambil mengendarai motornya. Dewa pun mengarahkan spion motornya ke arah sang istri yang ada di belakang.
" Apa kamu suka, kita kencan sambil naik motor?"
" Iya kak, ini pertama kalinya bagiku."
" Pegang yang kuat ya, aku akan sedikit ngebut sedikit."
Salah satu tangan Dewa memegang tangan sang istri dengan erat, bahkan debaran jantung sang istri terasa di punggungnya.
Dewa pun sangat bahagia, ia bisa membawa istrinya menikmati kencan di malam hari.
Setelah melewati belokan dan lampu merah, kini motor sport yang di bawa Dewa memasuki parkiran sebuah pasar malam.
" Ayo turun kita sudah sampai !"
Dewa pun membantu istrinya turun dari motor dan melepaskan helm yang Freya gunakan.
Dewa pun sangat terpana oleh kecantikan Freya yang natural, apalagi rambut panjangnya diterpa angin. Sungguh ia tak akan rela jika ada pria lain yang memandang istrinya.
Sungguh, sifat posesif Dewa sudah mulai muncul.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments