Selama perjalanan menuju ke panti asuhan. Freya merasa berat sekali berpisah dengan ibu panti dan para adik serta penghuni panti asuhan. Dari guratan kesedihan Freya, terlihat oleh Dewa saat ia sedang menyetir mobil tapi sesekali melihat ke arah istri kecilnya.
" Apa kau berat berpisah dari panti asuhan?"
" Iya kak, bagaimana pun juga dari aku masih bayi sampai sekarang mereka disana adalah keluarga terdekatku. Waktu begitu cepat berlalu, hingga akhirnya aku harus meninggalkan panti itu."
" Kakak mengerti bagaimana perasaanmu, tapi kau bisa kesana jika kau ada waktu luang. Sebagai suamimu aku bukan orang yang akan mengekang gerak gerik mu."
Mendengar ucapan sang suami, tentu saja Freya yang awalnya memandang jalan di dekat jendela mobil, kini berbalik menghadap Dewa.
" Terima kasih kak", ucap Freya sambil tersenyum menghadap suaminya.
Pembicaraan pun berlanjut ke hal lain, maklumlah mereka berdua menikah karena suatu sebab yang berakibat sekarang Freya mengandung. Tentu perlu saling terbiasa satu sama lain, agar hubungannya lebih dekat dan penuh cinta kasih.
Setibanya di panti asuhan.
Freya langsung berlari ke dalam panti, Hingga Dewa meneriaki sang istri bahwa ia sedang hamil.
" Freya ingat kamu sedang hamil, ya Tuhan !"
Seketika langkah Freya berhenti dan berbalik serasa mengatupkan kedua tangannya di dada.
" Hehehe ... maaf kak aku lupa."
Dewa pun hanya menggelengkan kepalanya sambil di kedua tangannya membawa sedikit buah tangan untuk penghuni panti.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam panti. Mereka pun disambut oleh Ibu panti.
" Kenapa kalian berdua langsung kemari nak? Bukankah kalian akan berbulan madu setelah menikah ?"
" Ibu, kalau itu bisa kami rencanakan tapi tidak sekarang."
" Jadi kapan nak Dewa?"
" Nunggu aku dan Freya dapat libur panjang Bu."
" Ya sudahlah kalau begitu, tapi kenapa kalian pagi-pagi repot kesini ?"
" Apa ibu lupa, aku kemarin belum sempat mengambil barang ku di kamar ?"
" Ibu kira sudah semua lo nak, ya sudah sekarang kalian berdua duduk dulu. Habis itu silahkan lanjutkan agendanya Freya disini."
" Ayo kak, kita ke atas ! Bu ini ada sedikit buah tangan untuk ibu dan penghuni panti yang lainnya !"
" Ya makasih."
Dewa pun mengikuti Freya sampai di kamar Freya yang lama.
Ia membantu Freya, memasukan beberapa barang ke dalam koper dan tas jinjing.
" Apa semuanya sudah siap?"
" Iya kak, 3 koper dan 2 tas semua barang sudah aku masukan, tinggal ada beberapa pakaian yang aku tinggalkan disini, jikalau nanti aku menginap disini."
" Baiklah, sini kakak bantu pegang !"
" Makasih."
Setelah menaruh barang-barang Freya ke dalam bagasi mobil. Kini Freya, Dewa beserta penghuni panti yang lain sedang makan siang bersama. Namun tentu saja akan ada drama kesedihan dibalut dengan kebahagian yang sulit dilepaskan oleh para penghuni panti yang lain. Tentu saja karena mulai hari ini, Freya tidak akan tinggal di panti.
" Kak Freya, nanti jangan lupakan kami ya kak ", ujar Fadil.
" Tentu saja kakak, tidak akan pernah meninggalkan kalian. Anggap saja sekarang kakak punya rumah baru yaitu rumah milik suami kakak, jadi nanti jika ada waktu senggang kakak pasti akan kesini kok", jelas Freya sambil menahan tangis.
Mereka semua pun memeluk Freya bergantian. Hingga tiba saat Freya berpamitan dengan ibu panti.
" Bu, aku pamit, jaga kesehatan ya ! Nanti kalau aku dan kak Dewa ada waktu, kami akan berkunjung kesini."
" Ya, Ibu harap pernikahan kalian langgeng sampai seumur hidup."
Dewa yang berusaha tetap tegar di hadapan istri dan ibu panti pun, ikut memeluk ibu panti.
" Ibu tenang saja, Freya kini adalah tanggung jawabku. Jadi aku akan berusaha menjaga Freya."
Dewa dan Freya pun masuk ke dalam mobil, dan akhirnya pergi meninggalkan panti asuhan.
" Kak, habis ini kita akan kemana?"
" Apa kamu punya ide mau kemana? Mumpung kita masih libur sampai hari ini, dan besok aku harus kembali ke jadwal kampus. Sedangkan kau 2 hari lagi akan ikut acara kelulusan."
" Kalau begitu, kakak temani aku membeli dress sederhana buat hari kelulusanku !"
" Baiklah, kau mau kemana dulu? Kita sekarang sudah berada di pusat kota yang sepanjang jalan ada butik."
" Kita masuk ke butik yang disana saja kak !"
" Oke, tapi kita cari tempat parkir dulu."
Saat memasuki butik, Freya dan Dewa sudah disambut oleh pelayan butik yang sudah siap memberikan pelayanan kepada para pelanggan mereka.
" Silahkan tuan dan nona melihat produk dari butik kami !"
Freya pun berkeliling melihat berbagai jenis dress dan jas yang ada disana, sedangkan Dewa hanya mengikuti kemana langkah istrinya.
" Wah ... Ini sungguh cantik, tapi harganya mahal sekali ", keluh Freya.
" Coba aku lihat." Saat melihat harganya Dewa pun hanya bisa tersenyum dan mengelus dada , bersabar menghadapi kepolosan sang istri.
" Beli saja, jika kau suka !"
" Tapi kak, harganya mahal. Rp.10.000.000 hanya untuk 1 dress doang. Uang sebanyak itu cukup untuk kebutuhan yang lain selama 5 bulan."
" Kau lupa, sekarang aku adalah suamimu. Hanya 10 juta, aku juga sanggup membayarnya."
" Tapi kak, ... Kita harus juga bertanya apakah Bunda dan Daddy juga akan suka dengan pilihanku ini ?"
" Apapun yang kau pilih, pasti mereka juga akan setuju kok, aku juga suka dengan pilihanmu. Terlihat kita seragam 1 keluarga."
" Ya sudah kalau kakak, juga setuju."
" Mbak, kami beli dress dan setelan jas ini ya !"
" Baik nona, silahkan anda ke kasir untuk pembayarannya !"
Seusai berbelanja di butik, ternyata Dewa juga sekalian mengajak Freya berjalan-jalan menikmati suasana perkotaan. Maklumlah Freya bersekolah di perbatasan desa dan kota. Jadi ia tidak setiap hari bisa pergi ke kota, seperti anak remaja SMA lainnya.
" Apa kau ingin melihat kampusku?"
" Tentu saja aku ingin lihat, lagian kan kata kak Dewa kedepannya aku akan kuliah disana."
Mobil pun berbelok setelah melewati 2 gedung pencakar langit, di bundaran pusat kota. Sungguh Freya yang hanya melihat dari depan gerbang pun takjub dengan kemegahan dan luasnya kampus yang menjadi tempat suaminya berkuliah.
" Kak, apa nanti disini ada OSPEK?"
" Tentu saja ada, sebagai mahasiswa baru tentu ada sistem seperti itu."
" Berarti mulai sekarang aku juga harus siap mental."
" Ya haruslah. Kan masih ada waktu lagi 7 hari jadi persiapkan saja dirimu dengan baik."
" Tentu saja, akan aku buktikan siapa aku yang sesungguhnya."
Dewa pun sangat gemas melihat tingkah sang istri. Hingga saat ia ingin membuka sefbelt sang istri. Dewa malah nyaman dengan aroma tubuh Freya.
Sampai-sampai sekarang dahi Freya dan Dewa bersentuhan.
" Apa kau takut?"
" Takut a apa ...?" tanya Freya dengan detak jantung yang berdebar-debar.
Dewa pun mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya dan berkata " cium."
" Apa?"
Dewa pun dengan cepat mencium, ******* bibir sang istri, memberi sedikit kecupan dan terkadang memperdalam hingga Freya merasa kehabisan nafas
" Ahh ..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments