Dinginnya angin malam, tidak menyurutkan niat Freya menikmati suasana pasar malam. Lagipula kapan lagi coba , ia bisa pergi. Dulu saat masih sekolah, ia sangat jarang keluar saat malam hari apalagi ia sebagai salah satu anak panti asuhan yang paling tertua, harus menjadi sosok panutan bagi adik panti lainnya.
Freya tau arti hidup susah, hal itu sudah biasa ia jalani saat ia tumbuh sejak kecil hingga dewasa di panti asuhan. Biarpun hidup pas-pasan, tapi ia sangat bersyukur karena disekelilingnya masih ada orang yang menyayanginya.
" Kamu mau kemana dulu, disini ada banyak wahana permainan, pedagang kaki lima pun banyak ada."
" Aku ingin naik bianglala itu kak?"
" Ayo kalau begitu !" Dewa pun mengajak Freya sambil mengantre untuk membeli karcis masuk ke wahana tersebut.
" Lumayan ya kak, peminatnya."
" Ya jelaslah, apalagi pasar malam ini tidak setiap hari buka. Setahuku hanya buka 3 bulan sekali atau saat ada even tertentu."
" Berarti kita termasuk orang beruntung, dapat kesini", seru Freya sambil berbicara dengan Dewa.
Dewa pun mencubit hidung sang istri, karena gemas dan lucu melihat tingkahnya. " Ya beruntunglah, makanya mumpung kita disini, aku ijinkan kamu main sepuasnya."
" Serius kak?"
" 1000 bahkan tak terhingga malahan, aku serius."
Saat mereka berdua lagi mengantre giliran naik ke wahana bianglala. Ada beberapa anak remaja mungkin seusia Freya dan seusia Dewa sedang mengantre juga, mungkin hari ini adalah hari malam Minggu jadi banyak orang berkencan, bahkan tak ayal anak-anak beserta orang tua mereka juga ikut antre.
Saat tiba giliran Dewa dan Freya naik ke wahana Bianglala. Wahana tersebutpun mulai bergerak perlahan dan memutar. Freya yang duduk disebelah Dewa sangat terpana melihat pemandangan malam di atas dari bianglala, saking fokusnya melihat. Freya tidak tau bahwa Dewa merasa tidak di perhatikan.
" Apa pemandangan diluar sana lebih penting dibandingkan dengan ku?"
Seketika Freya mengalihkan matanya menghadap ke arah suaminya.
" Maaf kak, aku tidak bermaksud seperti itu."
Dewa pun mulai mendekati istrinya, mengikis tiap jarak hingga Freya merasa terpojok.
" Apa mereka juga senang malam ini?" pertanyaan Dewa teralihkan saat tangannya menyentuh perut sang istri.
Dengan gelagapan dan gugup. Freya pun menjawab pertanyaan suaminya.
" Ten ... tentu saja kak, mommy ya saja senang apalagi mereka yang masih di dalam."
" Mommy? Apa kelak jika mereka lahir kau suka dipanggil dengan sebutan itu ?"
" Tentu saja, dan kakak akan menjadi Daddy. Apa kakak juga senang?"
Dewa pun terdiam sambil menampilkan ekspresi seakan marah. Padahal ia sedang menggoda Freya. Dengan jahilnya Dewa pun meringsek masuk , bersandar di bahu dekat leher dan berucap " terima kasih, karena kau sudah memikirkan panggilan yang cocok denganku, makasih telah menjaga mereka sampai sekarang."
Freya yang gugup sampai menutup kedua matanya. Mendadak merinding karena Dewa masih berada di titik sensitifnya.
Hingga saat Freya ingin membalas ucapan Dewa, Dewa pun mengambil kesempatan mencium sang istri.
Cup.
Freya yang mendapatkan serangan mendadak menjadi terdiam sesaat, sampai ia merasakan sapuan lembut yang menyentuh tiap inci bibirnya, sangat dalam bahkan ia pun mengikuti gerakan Dewa.
" Rileks lah, aku akan melakukannya dengan lembut."
Ciuman lembut penuh gairah tersebut menjadi saksi bisu di dalam bianglala yang berputar.
Hingga sebuah pengingat berbunyi menandakan wahana bianglala itu akan berhenti, dan membuka pintu.
Dewa pun melepaskan pagutannya sesaat, dan mulai merapikan kondisi sang istri sebelum mereka akan keluar.
" Kenapa aku bisa menurut seperti itu, ya Tuhan ?" gumam Freya yang masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.
Setelah keluar dari wahana tersebut. Kini Dewa menggandeng sang istri ke tempat lapak pedagang yang menjual jagung bakar.
" Kau duduk disini !" titah Dewa sambil ia membuka jaketnya dan memakainya di tubuh istrinya. " Udara semakin dingin, pakailah ! Aku akan memesan dulu !"
" Iya."
Sambil menunggu Dewa membawa pesanan mereka. Freya pun meraba dadanya yang masih berdebar kencang.
" Ingat Freya, kamu pasti bisa, biasakan kau ini istrinya dan dia suamimu. Wajar jika kalian melakukan hal tersebut sebagai sepasang suami istri bahkan jika lebih." ada sekelumit suara yang berseru di dalam kepalanya.
Dewa pun secara intens menatap istrinya, bahkan dari gerobak penjual jagung bakar.
Sebegitu ya seorang Dewangga yang mengawasi istri kecilnya. Maklumlah baru kali ini Dewa merasa nyaman dan aman bersama seorang wanita. Bahkan tanpa disadari cinta telah hadir diantara mereka berdua.
" Den, ini jagung bakarnya?"
" Berapa pak?"
" Rp. 10.000 den 2 jagung bakar."
" Ini pak uangnya, kembaliannya bapak ambil saja !"
" Makasih banyak ya den."
" Sama-sama pak, saya kesana dulu !"
" Wah ... pantesan aden dari tadi was-was melihat ke arah sana terus, oh ... ada pacarnya toh ?"
" Bukan pacar pak, tapi istri saya."
" Menurut bapak sih, Aden sama non itu serasi banget tampan dan cantik, dijaga ya den."
" Ya pak, pasti. Saya kesana dulu pak ! Semoga jualan bapak hari ini habis ."
Dewa pun membawa pesanan jagung bakarnya, sambil pergi menuju ke arah Freya yang sedang duduk.
" Ini pesananmu ."
" Makasih kak ", jawab Freya sambil mengambil jagung yang disodori oleh Dewa.
" Pelan-pelan makannya, karena masih panas usai dibakar."
Freya pun mengangguk dan mulai memakan jagung bakarnya.
Cara Freya makan jagung bakar dengan lahap pun, membuat Dewa sudah kenyang. Bahkan jagungnya sendiri belum habis.
Tanpa merasa malu dilihat orang sekitar. Dewa pun mengelap sisa jagung bakar yang menempel di pipi sang istri.
" Kak aku ..."
" Makanlah, biar aku yang akan membantumu membersihkan ini."
Saking protektifnya Dewa, kepada Freya. Bahkan pasangan remaja lain yang melihatnya menjadi iri dan cemburu akan keromantisan yang dilihat mereka.
Banyak sekali bisik-bisik yang Freya dengar. Tapi dasar Dewa, ia masa bodoh dengan omongan orang lain yang penting istrinya senang.
Merasa kesabarannya sudah habis. Freya pun menghentikan tangan Dewa yang sedang mengambil kelopak bunga yang terjatuh di atas kepala Freya.
"Kak ..." panggil Freya dengan suara kecil yang hanya di dengar oleh mereka berdua.
" Hem ..."
" Kita pindah tempat yuk, lama-lama disini aku tidak nyaman."
" Baiklah", jawab Dewa sambil membantu Freya berdiri.
" Sekarang mau kemana lagi?"
" Sepertinya melihat sungai disebelah sana seru."
" Ayo kita kesana !"
Benar saja tempat pilihan sang istri tepat, disana tidak seramai tempat sebelumnya. Jadi mereka bisa menikmati pemandangan sungai yang mengalir di pinggiran pasar malam, terdapat lampu dan lampion kecil yang dipasang di ranting pohon menambah kesan romantis di sekeliling sungai.
" Lihatlah ke atas langit, ada bulan yang bersinar dengan terang, bahkan disekelilingnya banyak ada bintang bertaburan menghiasi langit !"
" Indah sekali ya kak."
" Indah tapi bagiku kamulah yang terindah, sayang."
Deg.
Seketika Freya menatap suaminya.
Pandangan mereka berdua bertemu dan Dewa pun memeluk Freya, dan menyandarkan kepala Freya di dadanya sambil memandang sungai di depan mereka.
Tangan Freya pun tak lepas dari rengkuhan suaminya.
Detak jantung Freya bahkan tidak mampu menghentikan waktu sejenak.
Dengan rakusnya Dewa kembali merengkuh sang istri dan melabuhkan berkali-kali ciuman lembut menuntaskan candunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments