Selesai melakukan fitting baju pengantin di butik langganan Bunda Naira.
Kini Freya dan Dewa sedang jalan santai di taman kota. Menikmati senja dan matahari terbenam.
" Seharian kamu bersamaku, apa kau terganggu?"
" Tidak kak, kenapa kamu berpikir seperti itu?"
" Ya siapa tau kau merasa begitu terhadapku kan, kita baru beberapa hari kenal tapi sebentar lagi akan menikah."
" Sama dengan mu kak, awalnya aku merasa canggung, baru kali ini dekat dengan seorang pria."
" Benarkah?"
" Aku kira disekolah mu kau juga dekat dengan pria lain, sebelum bertemu denganku."
" Kalau teman pria ada tapi teman pria yang dekat yang menganggap aku adalah seorang wanita itu tidak ada."
" Berarti aku pria pertama dalam hidupmu?"
" Iya, tentu saja setelah ayah kandungku. Yang aku tidak tau sekarang mereka masih hidup atau sudah meninggal."
" Sudahlah, jangan memikirkan hal yang membuatmu bersedih. Apa kau mau kesana? Lihat didekat danau ada tempat duduk yang bagus buat kita berdua !"
Freya pun mengikuti Dewa. Hingga mereka tiba di pinggiran danau dengan kursi taman yang menghadap pemandangan matahari terbenam.
" Kak."
" Iya Freya, ada apa?"
" Aku mau itu kak, melihat es krim yang dibeli anak kecil itu, rasanya pasti enak!"
" Apa ini bisa dibilang, sekarang kau lagi mengidam?"
" Anggaplah seperti itu."
" Baiklah, aku akan membelikan es krim kesana. Kau tunggu disini !"
Sambil menunggu Dewa membelikannya es krim. Kini Freya sedang memandangi kano yang banyak dipakai oleh para pengunjung taman. Terlihat mereka asyik mengayuh kano dengan sampan di tengah danau.
" Ini es krim pesananmu !"
" Makasih kak, apa kakak tidak beli?"
" Tidak, ini buatmu saja."
Tapi dasar Freya yang mengidam, ia ingin saling suap makan es krim dengan Dewa.
Tentu saja Dewa kaget mendengar permintaan Freya, apalagi mereka sekarang berada di tempat umum.
" Apa harus sekarang? Tidak bisakah pas kita pulang?"
" Kenapa, apa kakak malu?"
" Bu ... Bukan begitu maksud kakak, tapi ... ?"
" Jadi kakak tidak mau menuruti ngidam ku? Jika nanti anak kita lahir ileran. Itu gara-gara kakak."
" Sabar Wa, sabar. Ingat pesan bunda ... Turuti saja permintaan Freya apalagi dia sedang mengidam", ucap Dewa dalam hati.
" Siapa bilang aku tak mau, sini suapi aku aaa ..."
Dengan senang hati Freya pun menyuapi Dewa dengan es krim. Begitu pun Dewa yang menyuapi Freya.
Setelah cukup menikmati suasana taman. Akhirnya mereka berdua pulang ke kediaman Prayoga.
Untuk berpamitan sebelum mengantarkan Freya pulang kembali ke panti asuhan.
Keesokan harinya.
Freya pergi ke sekolah seperti biasa. Karena pagi ini dia dan teman sekelasnya, menunggu pengumuman tentang hasil ujian akhir sekolah.
" Freya, aku deg-degan sekali ", keluh Ima.
" Aku juga sama Ma, 3 tahun menuntut ilmu di SMA ini lah akhir dari kerja keras kita. Semoga kita semua lulus."
" Semoga kita lulus."
Tet ... Tet ... Tet.
Bel sekolah pun berbunyi. Kini semua kelas XII sedang berkumpul di lapangan sekolah untuk menunggu info kelulusan.
" Selamat pagi anak-anak, hari ini pasti merupakan hari yang krusial dan penting bagi kalian para murid kelas XIl. Untuk itu, saya akan membuka dokumen ini dihadapan kalian semua ", ucap Bapak Kepala Sekolah.
Setelah dokumen tersebut dibuka oleh bapak kepala sekolah, beliau langsung saja menginformasikan bahwa kelas XII semuanya lulus.
Tangis haru, senang, suka cita murid-murid mendengar kabar baik tersebut . Bahkan tepuk tangan menggema dari tiap murid kelas XII yang telah menerima hasil kelulusannya.
" Freya, kau dengar kan kita lulus, hore ."
" Iya Ima, kita semua dinyatakan lulus."
Mereka pun saling berpelukan antar sesama teman sekelas, bahkan saling menyalami teman beda jurusan di kelas lain.
Sepulang dari sekolah. Tentu saja Freya tidak pernah absen membalas chat dari Dewa. Bahkan ia sudah memberitahu Dewa bahwa ia sudah lulus.
Dewa yang sedang berada di kantin kampus sambil membuka laptop nya. Alhasil tersenyum manis melihat chatan yang di balas oleh Freya.
" Dor ... Dor."
Plak.
" Lo ngagetin gue aja Ilham."
" Hahaha ... makanya jangan suka melamun sendiri, senyum sendiri udah kayak orang gila tau !"
" Dasar resek ..."
" Ya Iyalah Wa, gitu aja lo marah ? Kemarin saja gue lihat lo sama seorang wanita, perasaan tampang lo cerah bangat!"
Seketika Dewa menatap tajam Ilham.
" Bersama wanita, gue? Kapan?"
" Lo jangan mengelak deh, mata gue nggak rabun melihat lo bersama seorang wanita memasuki toko buah."
" Terus, ngapain lo nggak menghampiri gue saat itu ?"
" Itu karena nyokap gue mau pulang, habis belanja."
" Ck ... Apa lo nggak ingin kasih tau gue, siapa wanita itu?"
" Kalau sekarang belum saatnya lo tau, tapi nanti lo juga akan tau kok."
" Wa ... Dewa apakah dia penting? Sehingga lo merahasiakannya dari gue ?"
" Ya, dan gue harap lo kali ini nggak ikut campur urusan gue."
" Oke, gue sadar diri dan don't worry gue bisa jaga rahasia lo Wa."
" Pokoknya nanti lo akan tau, jadi yang sabar."
" Loh ... Lo mau pergi kemana sekarang ! Nggak nungguin gue habis makan ?"
" Sorry, setelah ini gue ada kelas tambahan jadi, gue pergi dulu ya !"
Dewa pun meninggalkan Ilham di kantin. Dan ia pun menuju kelas , dimana mata kuliah lainnya akan segera dimulai.
Hari demi hari berlalu. Dan kini dimulailah acara pingitan bagi kedua mempelai pengantin.
Bahkan handphone Dewa sampai disita oleh bundanya.
" Apa harus seperti ini ya Bun?"
" Ya haruslah, namanya juga melestarikan sebuah adat yang wajib kita jalankan, benar kan daddy sayang?"
" Iya itu benar sekali, lagian Wa kamu kan hanya 4 hari nggak bertemu dengan Freya. Masa segitu saja nggak sanggup. Lagian ya nanti setelah ketemu pasti akan lengket kayak perangko !"
" Ya sudah deh, terserah kalian berdua."
Sementara itu di panti asuhan.
Freya mendapatkan banyak wejangan dari Ibu panti tentang bagaimana menjadi istri yang baik bagi suami.
Bahkan selama ia dipingit, Freya baru pertama kalinya didatangi oleh pegawai spa yang dikirim oleh mertuanya.
Sungguh Freya mendapatkan perawatan yang sangat jarang ia lakukan.
Selama masa pingitan, Freya hanya berada di lingkup panti asuhan, dia juga menghindari ajakan Ima teman sekelasnya untuk berlibur.
Freya bertekad karena ia masih anak SMA, jika ketahuan sudah menikah bisa mengancam masa depannya kelak. Makanya ia menutupi kebenaran tentang acara pernikahannya sebelum acara resmi kelulusan.
Sedangkan Dewa, yang menjalani masa pingitan. Ingin bertemu bahkan berkirim pesan pun tidak bisa. Alhasil ia diajari oleh Daddynya bagaimana memimpin perusahaan dan perintilan yang lain. Bahkan ia juga mendapatkan wejangan pernikahan dari kedua orang tuanya. Bahkan kakek neneknya yang jauh datang dari Jerman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments