"Mas.."
"Kamu darimana?" Itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Sami begitu Naya menutup pintu kamar. Hening beberapa saat. Naya menatap Sami dengan tatapan heran.
"Ada apa sih mas? Sepertinya serius banget. Mas kenapa?" Naya masih mencoba bersikap biasa. Seolah mengabaikan suasana dingin yang mulai mencekam menyelimuti ruangan kamar. Sami menatap wanita itu dengan mata elangnya yang tajam.
"Aku nanya kamu darimana? Jangan berbelit-belit Nay."
"Mas ini kenapa sih? Tiba-tiba dateng menanyakan aku habis darimana. Nggak biasanya mas kayak gini. Apa mas pulang cuman untuk nanyain hal itu sepele seperti ini mas? Mas lucu sekali." Elak Naya sembari membuka resleting dress yang ada di bagian punggung. Gaun panjang itu kini terbuka setengah menampakkan bahunya yang mulus. Rambut panjangnya tergerai indah menutupi setengah pundak Naya.
"Lucu kamu bilang?" Sami mengulang kalimat sang istri.
"Jawab aku Naya. Kamu habis dari mana?"
Naya menghela nafas pelan. "Aku habis keluar mas bareng temen-temen aku. Kemana lagi emang?"
"Seharian? Kamu pergi dari pagi seharian bareng temen-temen kamu? Ngapain aja sih Nay kamu pergi selama itu ninggalin rumah? Ninggalin Kiara?" Tanya Sami mulai tak sabar namun ia masih mencoba untuk bersikap tenang. Ia memang tidak biasa berbicara dengan suara lantang. Apapun kondisinya ia tak pernah meninggikan suara pada orang lain.
"Biasalah mas aku have fun sesekali diluar sama mereka. Mas pikir nggak jenuh apa aku terkurung di rumah seharian setiap hari tanpa ada hiburan yang bisa aku nikmati diluar bareng temen-temen aku." Jawab Naya acuh sembari melangkah masuk ke dalam walk in closet. Beberapa menit kemudian ia kembali lagi dengan menenteng gaun tidur.
"Have fun kamu bilang?? Have fun yang seperti apa yang kamu nikmati itu Nay?" Sami melempar tanya pada sang istri. Rasa sabarnya sudah mulai menipis. Ia akan mengikuti alur permainan kata sang istri. Ingin rasanya ia melempar semua bukti-bukti aktivitas panas yang telah dilakukan wanita itu sekarang juga namun Sami masih berusaha menyabarkan diri. Tangannya terkepal menahan rasa gemuruh yang mulai hadir di dalam hati. Sang istri sungguh pintar menyembunyikan semua kebusukannya.
"Ya have fun seperti wanita pada umumnya dong mas. Kenapa sih mas Sami jadi curigaan seperti ini? Mas nggak salah minum obat kan? Apa mas mulai nggak ada kerjaan menyelidiki apa yang aku lakuin diluar? Apa mas udah mulai bosan dengan pekerjaan mas di kantor? Jangan ngurusin hal-hal yang nggak penting mas. Aku hanya berusaha menikmati hidupku yang sekarang karena kamu juga jarang ada di rumah." Tukas Naya dengan nada santai tanpa memperhatikan raut muka sang suami yang sudah berubah menjadi merah padam menahan emosi. Sami meraih amplop kacang yang ada di balik vest biru muda yang ia pakai. Kemudian melemparnya ke atas ranjang.
"Apa have fun yang seperti ini yang kamu maksud?" Tanya Sami dengan nada dingin. Amplop itu terlempar dengan posisi beberapa foto yang menyembul dari balik sampul kacang. Menampakkan beberapa gambar yang membuat mata Naya membulat. Foto-foto itu...
"Ini apa mas?" Naya memekik tertahan begitu ia meraih beberapa lembaran foto yang tergelatak pasrah di atas kasur. Matanya menatap nanar penampakan yang ada dalam helaian kertas berwarna itu. Terpampang nyata itu adalah gambaran dirinya dengan pose yang sangat sensual. Tengah menikmati pergulatan ranjang bersama lawan mainnya. Naya tercekat. Ia tremor seketika.
"Mas ini nggak seperti yang kamu lihat. Ini..." Kalimat Naya terjeda. Nada suaranya terdengar bergetar menahan rasa keterkejutan yang luar biasa. Ia tak menyangka sang suami akan mendapatkan fakta itu. Darimana Mas Sami tahu semua yang telah ia lakukan di belakang pria itu? Ini rasanya tidak mungkin. Mustahil Sami bisa mengetahui hal itu.
"Sejak kapan? Hmmm sejak kapan kamu mulai melakukannya Nay?" Ujar Sami dengan nada datar. Tak ada sama sekali emosi yang tercurah disana. Hanya saja cairan bening sudah mulai merebak di pelupuk mata. Sami sampai tak bisa lagi menaikkan nada suaranya karena sudah merasa terlanjur kecewa dengan semua perbuatan sang istri dibelakangnya. Habis sudah rasa itu kini untuk seorang Naya. Rasa cinta yang selalu ia pupuk agar selalu ada ditengah badai yang datang menguji biduk rumah tangga mereka.
"Mas..ini nggak bener mas. Mas salah paham. Ini bukan aku. Aku nggak pernah melakukan apa-apa dibelakang kamu mas. Sungguh.." Naya mencoba untuk mengelak. Ia tetap tidak mau mengakui apa yang sudah terjadi. Rasanya terlalu malu untuk ia akui tertangkap basah dengan fakta yang tak lagi bisa dibantah. Naya tahu ia sudah ketahuan sekarang. Semua kebusukan yang telah lama ia simpan kini telah terbongkar. Sami telah menemukannya dengan membawa fakta nyata. Haruskah Naya mengakui saja?
"Jangan mengelak lagi Naya. Sejak kapan kamu melakukan ini di belakangku? Kamu tinggal mengakuinya saja." Ujar Sami sembari mengalihkan tatapannya dari foto-foto yang berserakan itu pada wajah sang istri yang kini menatapnya dengan wajah yang memucat. Wajah cantik Naya telah memutih seperti kapas. Ia tertunduk dalam.
"Mas...aku.."
"Baiklah. Kamu nggak perlu menjawabnya. Aku akan mencoba memahami posisi kamu sebagai istri yang sering aku tinggalkan. Memang aku yang salah. Kamu jadi begini memang karena salahku tapi...aku nggak pernah menyangka kamu akan melakukan hal segila ini Nay. Aku benar-benar nggak habis pikir kamu akan melakukan hal yang..." Sami terbata. Suaranya tercekat menahan sebah di dada. Air mata lelaki itu tumpah membasahi pipi. Ia terdiam beberapa saat berusaha menetralkan perasaan kecewa yang begitu dalam. Rasa sakit hati yang ia rasakan kini sungguh tidak main-main. Membayangkan tubuh sang istri dinikmati oleh banyak pria diluar sana membuat degup jantung Sami berpacu tak menentu. Darahnya berdesir tatkala membayangkan Naya menjadi wanita yang digilir oleh banyak lelaki. Ironisnya, Naya justru menikmati hal itu bahkan selama bertahun-tahun. Sami membuang nafas yang terasa berat. Kerongkongannya kini bahkan terasa sangat sakit saat menelan ludah.
"Mas.." Naya memanggil lirih sang suami. Ia tak tahu harus berkata apa. Dilihatnya Sami sudah berlinang dengan air mata. Mata elang yang biasa menatap tajam dan dingin itu kini telah memerah karena menahan emosi.
"Aku pikir disini aku yang menjadi bajingan karena telah melakukan hal menjijikan tanpa sengaja. Aku pikir aku yang telah menodai pernikahan kita. Aku sempat merasa bersalah karena telah mengkhianati janji suci yang pernah kita buat Nay. Aku.." Sami melanjutkan ucapannya dengan suara tergetar.
"Apa maksud kamu mas?" Naya mendongakkan kepalanya menatap Sami sembari menghapus air mata.
"Karena semua sudah terpampang nyata seperti ini, karena semua fakta sudah terkuak, dosa-dosa yang kamu lakuin sudah aku ketahui dengan sangat jelas, kini saatnya aku yang akan mengakui dosaku sama kamu. Aku nggak tahu apa ini pantas untuk kita berdua tapi aku harus katakan sekarang dengan tanpa bermaksud untuk menghakimi kamu. Aku juga bukan laki-laki suci seperti yang kamu kira. Hanya saja aku tak akan membela diri. Aku harus jujur sekarang kalau aku sudah menghamili wanita lain."
"Apa?"
Sami menundukkan kepalanya. Menyembunyikan air mata yang kini telah tumpah tanpa permisi. Terasa sangat perih saat ia harus mengakui semua yang telah terjadi antara dirinya dengan Jihan. Dengan tangan terkepal dan mata terpejam Sami berkata..
"Ada wanita lain yang kini tengah mengandung benihku, Naya."
Bagaimana reaksi sang istri mendengar pernyataan Sami??
*******TBC********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments