"Bos, anda belum pulang?" Tanya Riky begitu melihat atasannya masih berkutat dengan beberapa dokumen dan berkas yang berserakan di atas meja.
"Hmm." Sami menjawab dengan menggumam tanpa menoleh. Ia sedang fokus mempelajari beberapa berkas. Semua harus selesai malam ini.
"Ini udah hampir gelap bos. Anda masih mau disini?" Ujar Riky dengan nada khawatir. Tidak biasanya jam segini atasannya belum mau beranjak dari kantor. Sepertinya ada yang tidak beres namun Riky berusaha untuk tidak terlalu ikut campur.
"Kalau kamu udah selesai ya duluan aja, Ki. Nggak apa-apa."
"Oke bos. Kalau ada apa-apa saya standby." Pamit Riky sebelum berlalu setelah menutup pintu. Meninggalkan sang pimpinan yang masih berkutat dengan beberapa berkas yang menumpuk di atas meja kerja. Entah sampai kapan akan selesai.
Setelah hampir satu jam berlalu, tiba-tiba saja Sami teringat Jihan. Ia melirik arloji yang ada di pergelangan tangan kiri. Sudah hampir jam delapan. Saatnya ia kembali ke apartement Thamrin untuk melihat kondisi gadis itu. Sudah lebih dari seminggu Sami tak bertemu Jihan setelah ia menyatakan setuju untuk tinggal di apartment milik Sami. Rasanya Sami sudah sangat merindukan wajah manis gadis itu.
Sami mematikan lampu yang ada di ruangan kantor. Meraih kunci mobil lalu melesat keluar dari sana. Membelah jalanan untuk menemui Jihan di apartement. Sami sudah tak sabar ingin bertemu dengan Jihan malam ini. Ia mengendarai kuda besinya menuju jalan Kebon Kacang Raya.
Tak butuh waktu lama bagi Sami untuk sampai di Apartment mereka. Saat sampai di koridor gedung berlantai lima belas itu Sami langsung masuk ke dalam lift. Kebetulan juga suasana apartement itu tidak terlalu ramai. Sami bisa masuk lebih cepat ke dalam kamar kecil yang mampu mengantarnya ke lantai paling atas itu hanya dalam hitungan detik.
Dengan sedikit berdebar Sami menempelkan sidik jari pada pintu otomatis yang terpasang di pintu masuk. Dalam hitungan detik pintu itu terbuka. Sami langsung melangkah masuk tanpa ragu. Melihat ke sekeliling ruangan. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
"Jihan." Panggil Sami. Ia celingukan mencari keberadaan gadis itu. Sepi. Seperti tak ada penghuni. Sami menyisir seluruh ruangan. Kosong. Bekas tanda-tanda aktivitas pun juga tak nampak. Kemana Jihan?
Sami lalu berbalik arah ke kamar utama. Pintu terkuak.
"Jihan?" Sami mencoba memanggil gadis itu namun tak ada sahutan. Kamar mandi setelah di periksa juga kosong. Kamar tamu tak ada bedanya. Sami tak menemukan Jihan dimana pun. Kemana gadis itu? Kemana dia selarut ini? Apa dia masih ada aktivitas di luar sana? Tak mungkin. Sudah jelas-jelas Sami melarangnya untu kembali bekerja. Ia sudah memberikan sebuah kartu sakti pada gadis itu tempo hari untuk mencukupi kebutuhan Jihan. Tak mungkin ia kembali lagi bekerja. Apa gadis itu masih di kampus? Itu juga mustahil. Mata kuliah apa yang ia ikuti pada jam selarut ini? Sami mengembuskan nafas kasar. Kemudian tanpa pikir panjang lagi ia melangkah keluar ruangan untuk mencari gadis itu. Namun saat akan berlalu dari pintu tanpa sengaja mata Sami menangkap sepucuk kertas yang tergeletak di atas meja kecil yang ada di dekat pintu masuk.
Langkah Sami terhenti. Ia lalu berbalik arah meraih kertas putih yang ditutupi oleh pena berwarna biru dan sebuah kartu. Itu kartu sakti yang sempat Sami berikan untuknya seminggu yang lalu. Kenapa ia mengembalikan lagi kartu itu pada Sami. Apa maksudnya?
Sami lalu meraih kertas itu dengan secepat kilat. Membaca tulisan yang ada disana. Seketika wajah tampan itu langsung berubah semakin dingin. Kertas itu remuk jadi tak berbentuk di genggaman Sami hanya dalam hitungan detik.
Sami tercenung sesaat. Mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Ia mencoba berfikir jernih. Menarik nafas panjang. Menelaah kembali apa yang telah terjadi antara ia dan Jihan. Kemana gadis itu pergi? Bagaimana bisa ia mengambil keputusan bodoh seperti ini?. Sami lantas meraih gawai yang ada di dalam saku. Memencet angka dua yang ada di layar ponsel. Tak lama nomor itu tersambung pada sang asisten andalan. Terdengar suara Riky dari seberang sana.
"Ya bos."
"Ki, Jihan menghilang. Tolong temukan gadis itu secepatnya."
"Oh oke bos." Riky seolah paham apa yang sedang terjadi. Tak butuh penjelasan lebih lanjut, Riky langsung bergerak cepat. Seolah paham apa yang harus ia lakukan.
Sami membuang nafas kasar. Ia tak habis pikir dengan Jihan. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran gadis itu? Apa ia berniat melarikan diri lagi? Bagaimana pikirannya bisa sekerdil itu? Gadis itu memang keras kepala. Ia sangat sulit di atur. Kenapa sulit sekali mengendalikannya? Sami mengusap kepalanya yang mulai terasa panas. Keningnya terasa berdenyut. Ia tersandar pada dinding apartement yang terasa dingin. Sedingin hati yang ia rasakan kini. Ingin rasanya ia mencari gadis itu tapi kemana ia akan mencari Jihan di malam gelap seperti ini? Sami tak mampu berfikir jernih. Pikirannya kacau. Kemelut yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini cukup menguras pikiran. Dinginnya Naya dan keras kepalanya Jihan sukses membuat Sami nyaris kehilangan kewarasan sebagai lelaki normal. Ia merasa hampir menjadi gila.
Lalu apa yang terjadi kini? Kenyataan apalagi yang tengah ia hadapi sekarang? Jihan tiba-tiba lenyap. Ia menghilang. Kabur. Gadis itu melarikan diri lagi darinya. Menghilang entah kemana. Sami tak tahu dimana rimbanya. Jihan memutuskan pergi dari hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat. Hanya dengan satu kalimat pendek yang ia tulis pada secarik kertas kosong sukses membuat Sami nyaris seperti layangan putus. Sami seperti kehilangan arah. Tak tahu harus berbuat apa. Ia bingung bagaimana menghadapi Jihan. Harus bagaimana lagi ia bersikap agar gadis itu mengerti jika Sami memang benar-benar membutuhkannya. Sami ingin gadis itu ada disisinya. Sami benar-benar telah jatuh hati dengan Jihan. Ia telah terpikat dengan segala kesederhanaan gadis itu. Dengan segala kepolosannya. Dengan cara hidupnya yang begitu simple. Dengan cara bagaimana ia memandang hidup. Dengan senyumnya yang manis dan binar matanya yang indah saat ia tersenyum senang. Dengan semua yang ada di diri gadis itu sukses membuat Sami jatuh terperosok ke dalam pesonanya. Seorang Sami yang banyak digilai wanita kini terjatuh dengan begitu mudah pada seorang gadis yang ia temui di tempat hiburan malam??
Apa yang sedang terjadi pada Sami saat ini? Apa ia memang sudah tak waras lagi? Apa ia sudah tak lagi normal? Bagaimana bisa ia menggilai seorang gadis penghibur? Bahkan saat ini Sami sudah seperti punuk merindukan bulan. Gadis itu berhasil kabur meninggalkannya. Hal itu berhasil membuat Sami hilang akal. Jihan telah membuat dunia Sami kini menjadi hampa. Gadis itu telah pergi dengan menjungkirbalikkan dunia Sami hanya dalam waktu semalam.
Kemana Jihan menghilang? Apakah Sami berhasil menemukannya?
********TBC********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments