Sami baru saja membuka beberapa email yang telah masuk pada ponselnya. Hari ini adalah hari penentuan kelanjutan biduk rumah tangganya bersama Naya. Meskipun rasa kasih sayang itu masih ada namun Sami tak menampik jika ia juga tak ingin ada pengkhianatan yang disengaja dengan alasan yang mengada-ada. Ia sudah cukup merasa bersalah karena telah melakukan hal konyol bersama Jihan namun jika prasangka yang ia miliki kini terbukti benar Sami tak akan sanggup melanjutkan kembali hubungannya dengan Naya.
Tok tok..
Ketukan beberapa kali di pintu masuk terdengar tiba-tiba. Membuyarkan lamunan Sami. Ia menghela nafas lega saat melihat sosok yang datang adalah sang asisten kepercayaan.
"Masuk Ki."
"Maaf bos, mengganggu."
"Nggak apa-apa. Masuk aja. Aku memang udah nungguin kamu dari tadi. Gimana kamu udah dapat infonya?" Tanya Sami dengan tatapan penuh harap. Rasanya ia sudah tak sabar mengetahui identitas pria yang menghubungi sang istri kemarin sore. Siapa pria itu? Semoga Riky berhasil mendapatkan apa yang ia minta.
"Udah bos...tapi.." Riky menjeda kalimatnya. Seperti meragu.
"Kenapa? Ada apa?" Sami menatap asistennya dengan kening berkerut. Menatap heran.
"Saya nggak tahu apakah ini pantas untuk saya katakan, bos.." Ujar Riky dengan penuh rasa sungkan. Mendadak ia merasa tidak enak harus berkata jujur.
"Bilang aja Ki nggak apa-apa." Pinta Sami dengan jantung sedikit berdebar. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
"Ini bos. Anda bisa lihat sendiri." Randy akhirnya menyodorkan sebuah dokumen yang terbungkus rapi dalam sebuah amplop kacang.
"Ini?" Sami menatap heran sang asisten.
"Iya. Saya udah menyelidiki lebih jauh bos dan saya udah mendapatkan hasil akhirnya. Semua jawaban dari rasa penasaran anda ada semua di dalam amplop ini." Jelas Riky dengan nada suara yang tiba-tiba terdengar sendu. Sami mengeluarkan amplop itu dalam hitungan detik. Seketika matanya menatap nanar isi dokumen itu. Sami terdiam memandangi semua foto-foto yang ada terpampang nyata di depan mata. Sungguh diluar nalar. Ia tidak percaya. Tangannya terkepal erat. Foto yang ada di genggaman tangannya langsung remuk tak berbentuk.
"Kamu yakin ini semua benar Ki?"
"Saya jamin bos. Seratus persen akurat." Jawab Riky yang menatap sang atasan dengan wajah yang sudah memerah menahan rasa amarah. Mata elangnya bahkan sudah beriak dengan air mata. Kekecewaan tergurat jelas dari wajah tampan itu. Riky menghela nafas berat. Sungguh ini juga berat untuknya harus mengatakan fakta yang telah ia temukan di lapangan dari informan yang ia percaya.
"Tolong pastikan semua jadi rahasia kita Ki. Jangan sampai bocor ke tangan yang lain." Ujar Sami sambil berusaha menahan gemuruh yang sudah bergejolak di dalam dada. Jika tidak ingat ia tengah berada di kantor saat ini mungkin seluruh ruangan akan menjadi sasaran amukan. Semua yang ada akan hancur lebur di tangan Sami untuk melampiaskan rasa kecewa yang ia rasakan.
"Maafkan saya harus mengatakan fakta yang ada bos. Saya juga nggak menyangka akan menemukan kebenaran yang seperti ini. Ternyata nyonya udah lama melakukan hal ini di belakang anda. Maafkan kalau saya harus jujur pada anda." Ucap Riky dengan perasaan yang turut prihatin atas kenyataan yang harus bos Sami terima. Fakta itu terlalu menyakitkan untuk ia telan. Badai itu sepertinya sudah mulai memporak-porandakan rumah tangga Sami yang sudah terjalin hampir sepuluh tahun. Ia bisa apa sekarang? Sami masih bergeming.
"Mau nggak mau fakta itu memang harus kita temukan, Ki. Kamu nggak perlu merasa bersalah." Sami berusaha bersikap arif. Semua sudah terkuak kini. Ia tak bisa mundur lagi. Dari awal Sami memang sudah harus mempersiapkan hati untuk menerima kemungkinan terburuk. Mau tidak mau ia harus siap batin untuk skenario paling pahit dari kisruh rumah tangganya kini namun ia tak menyangka inilah skenario terburuknya.
"Apa yang akan anda lakukan bos? Apa langkah anda selanjutnya?" Tanya Riky dengan rasa yang turut membuncah. Atasannya pasti kini tengah dilanda galau berat yang luar biasa. Riky bisa merasakan kekecewaan yang tengah membelit hati bos Sami.
"Aku akan ambil jalan tengah Ki. Aku nggak bisa mundur lagi. Aku nggak bisa kompromi lagi kalau faktanya sudah jelas seperti ini. Semua sudah sangat tidak masuk akal. Aku nggak bisa lagi mendiamkannya. Harus ada keputusan bijak untuk itu." Jawaban itu akhirnya keluar dari mulut Sami. Ia menarik nafas panjang. Sungguh berat keputusan yang akan ia ambil untuk menata kembali hidupnya bersama Naya dan putri kecilnya, Kiara.
"Baiklah semua keputusan ada di tangan anda bos. Itu informasi untuk sementara yang bisa saya berikan."
"Makasih Ki."
Riky kemudian berlalu meninggalkan bosnya dengan nelangsa yang ia rasakan bersamaan dengan foto-foto yang sudah terpampang nyata di atas meja kerja. Sebuah kertas yang berisi identitas seseorang juga telah terbaca oleh Sami. Hatinya kini terasa remuk redam. Pupus sudah harapannya untuk tetap bisa mempertahan rumah tangganya yang sudah terlanjur dingin membeku bersama Naya. Ia sudah cukup merasa bersalah dengan atas apa yang telah telanjur ia perbuat dengan Jihan namun ternyata ada kenyataan yang lebih pahit dari Naya yang tidak ia tahu selama ini. Kenyataan yang sekarang telah terkuak sepenuhnya. Sami tak menyangka ia telah dibohongi sekian lama. Naya begitu pintar menutupinya. Bagaimana bisa Sami tak menyadari semua dusta yang telah disimpan Naya selama bertahun-tahun? Ia berubah menjadi dingin ternyata itulah penyebabnya.
Sami kemudian meraih gawai yang telah sedari tadi teronggok di atas meja. Ia mengusap layar pipih itu dengan perasaan yang membuncah. Ia sudah tak bisa lagi berdiam diri membiarkan semua yang terjadi. Ia harus bertemu sang istri. Ia musti mendapatkan semua kejelasan langsung dari mulut Naya. Wanita yang pernah sangat ia cintai. Perempuan yang telah menjadi ibu dari putri kecilnya yang lucu. Sami segera menghubungi nomor ponsel sang istri. Menunggu dengan hati berdebar panggilan itu akan segera tersambung. Akankah Naya akan segera menjawab panggilan dari Sami?
Nada sambung telah terdengar beberapa kali namun tak ada jawaban. Sami mencoba sekali lagi mengulangi panggilan yang sama. Tak ada reaksi. Naya tidak menjawab panggilan itu. Tetap sama. Panggilan Sami berlalu begitu saja. Apa yang tengah dilakukan istrinya saat ini? Sekali lagi Sami mencoba mengubungi nomor wanita yang telah ia nikahi itu namun masih saja tak ada beda. Panggilan dari ponsel Sami tak mendapatkan jawaban dari sang istri. Ada apa dengan Naya? Apa yang tengah dilakukan wanita itu kini?
Jauh dari tempat Sami berpijak tanpa disangka sang istri kini tengah sibuk bersenang-senang menikmati indahnya surga dunia bersama pasangan ranjangnya. Ia tengah terlena dengan segala kenikmatan yang terpampang nyata. Melupakan sejenak anak dan suami yang tengah memikirkannya dengan rasa hati yang berkecamuk. Tanpa Naya sadari semua rahasianya kini hanya tinggal menunggu hitungan menit untuk segera terkuak. Sami sudah mengetahui apa yang telah ia perbuat dibelakang lelaki itu selama ini.
Apa yang akan terjadi pada rumah tangga Sami dan Naya???
******TBC******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments