"Bos, meeting nya udah ready." Lapor sang asisten begitu ia masuk ke ruangan Sami. Wajah Ricky tampak serius saat meletakkan beberapa dokumen penting yang akan ditandatangani Sami.
"Kamu udah siapin semua?" tanya Sami tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptop. Tangannya sibuk menari-nari di atas keyboard.
"Beres bos. Saya tunggu di dalam ruang rapat ya bos."
"Tunggu, Ki." Sahut Sami tiba-tiba. Ia baru saja ingat sesuatu. Langkah Ricky sontak terhenti. Ia menoleh pada sang atasan.
"Ya bos?"
"Apartement yang di jalan M.thamrin kamu masih ingat?" Tanya Sami.
"Masih. Anda punya beberapa di sana. Kenapa bos?" Tanya Ricky agak sedikit heran. tidak biasanya sang atasan menyinggung masalah propertinya sepagi ini.
"Tolong kirim seseorang untuk bersih-bersih di sana. Tempat itu mau aku pakai." Jawab Sami dengan suara datar.
"Anda mau tinggal di sana bos?" Ricky bertanya kembali dengan wajah lugu.
"Untuk seseorang. Tolong urus segala sesuatunya, Ki. Pastikan nanti sore huniannya udah ready."
"Oke bos." Ricky mengangguk paham tanpa banyak bertanya lagi. Meskipun ada begitu banyak tanya yang hadir kini dalam benak sang asisten melihat gelagat si bos yang tidak biasanya namun itu tak jadi soal. Ricky sudah paham kisruh rumah tangga yang tengah dijalani oleh sang pimpinan. Kadang terbesit rasa iba melihat Bos Sami dengan segala kegalauannya tapi Ricky bisa apa selain hanya bisa melihat dan sesekali menjadi tempat keluh kesah Bos Sami saat pria itu sedang dalam puncak resah saat hubungannya dengan sang istri tak berjalan dengan semestinya.
"Masih ada yang lain bos?"
Sami berfikir sejenak. Beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis. "Kalau ada beberapa perabotan yang rasanya kurang bagus tolong diganti aja dengan yang baru, Ki."
Mendengar permintaan yang baru saja di lontarkan oleh Sami, Membuat Ricky heran. Tanpa sadar alisnya terangkat sebelah.
"Setahu saya perabotan di sana semuanya oke bos. Nggak ada yang cacat." Ralat Ricky.
Sami menghela nafas panjang. Sesaat ia baru tersadar jika ia terlalu bersemangat.
"Oke, fine." Sami menyandarkan punggungnya pada kursi. Dilihatnya sosok Ricky kemudian berlalu meninggalkannya di balik pintu. Sami tercenung beberapa saat. Perasaanya kini agak sedikit lebih lega. Mengingat pertemuan terakhirnya dengan Jihan tempo hari saat gadis itu menolaknya dengan keras. Sami tak habis pikir. Setelah semua yang telah terjadi diantara mereka berdua, Jihan jutsru memintanya untuk menjauh pergi. Meninggalkan gadis itu. Ia meminta dengan lugas agar Sami melupakan semua.
Apa yang ada dalam benak gadis itu sebenarnya? Apa ia tak pernah berfikir kalau ia bisa saja hamil setelah penyatuan tak sengaja yang telah mereka lakukan malam itu. Mungkin saja benih milik Sami telah bercokol dalam rahimnya.
Sami kemudian meraih gawai yang ada di atas meja. Ia mengetik beberapa kalimat singkat dalam sebuah aplikasi. Pesan itu kemudian ia kirim tanpa ragu. Sedetik kemudian Sami melesat keluar dari ruangan menuju ruang meeting.
**********
Sami mengurangi kecepatan laju mobil saat sudah berada di depan di pelataran parkir apartement di kawasan Tanah Melati. Lapangan parkir disana cukup luas. Sami mencari sudut yang agak strategis untuk memarkirkan kendaraan.
"Kita ngapain kesini mas?" Tanya Jihan begitu Sami mematikan mesin mobil. Ia menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya. Dari awal lelaki itu belum ada mengatakan apapun pada Jihan. Ia hanya meminta Jihan untuk mengikuti pria itu kemari. Tanpa banyak bertanya saat itu jihan hanya bisa mengekori Sami.
"Ayo turun. Nanti kamu juga tahu sendiri." Sami menjawab dengan tersenyum. Ia keluar lebih dulu dari dalam mobil lalu membukakan pintu untuk gadis itu. Jihan hanya bisa menurut patuh sambil menahan detak jantung yang kini sedikit berdebar. Apa yang akan mereka lakukan di dalam gedung apartement itu? Jihan tanpa sadar menggigit bibir karena gugup.
Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai lima belas. Selama beberapa saat kedua anak manusia itu hanya diam membisu tanpa kata. Sesekali Sami menatap wajah Jihan yang sedikit merona. Gadis itu jadi sedikit kikuk saat tersadar Sami memperhatikan wajah ayunya. Ia beringsut mundur tatkala Sami beranjak mendekatinya. Jihan seolah sengaja memberi jarak. Entah apa yang dipikirkan gadis itu tentang Sami kini. Setelah apa yang telah terjadi malam itu, tetap saja Jihan seperti merasa canggung saat berdekatan dengan Sami. Tak berapa lama pintu lift terbuka. Tanpa banyak kata, Sami langsung meraih tangan gadis itu dengan erat dan menyeretnya keluar dari dalam lift. Perlakuan yang tiba-tiba itu tak pelak membuat Jihan hanya bisa melongo. Ia mengekori Sami dengan wajah terperangah tanpa bisa berkutik. Genggaman erat tangan hangat itu tanpa ragu menuntun Jihan masuk ke dalam sebuah ruangan apartement.
"Mas.." Ujar Jihan begitu mereka sudah berada dalam ruangan. Pintu kamar apartement lalu terdengar menutup secara otomatis. Terdengar bunyi bip beberapa kali. Jihan menatap lelaki tegap yang ada dihadapannya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ngapain kita ada disini mas?" Pertanyaan inti langsung keluar dari mulut Jihan. Sami membalas dengan senyuman tipis. Ia masih menggenggam telapak tangan gadis manis itu.
"Mulai sekarang kamu tinggal aja disini. Apartement ini bisa kamu pakai mulai hari ini. Mas nggak mau lagi melihat kamu tinggal di kos-kosan kamu yang lama. Pindah dari sana secepatnya." Tukas Sami tanpa basa-basi. Mendengar penjelasan itu membuat mata Jihan membulat. Ia tak percaya.
"Ini nggak lucu mas."
"Kamu pikir aku becanda?" Ujar Sami dengan tatapan mata elangnya.
"Sudah aku bilang aku serius, Jihan. Mulai sekarang apartement untuk kamu. Aku nggak mau lagi kamu tinggal di tempat itu.Tinggallah disini mulai malam ini." Sami memegang bahu Jihan dengan kedua tangannya. Berusaha untuk kembali meyakinkan gadis itu jika ia memang tidak pernah main-main dengan ucapan. Ia sudah bertekad untuk membuat Jihan keluar dari kesulitan hidup.
Melihat segala kesederhanaan yang dimiliki oleh Jihan, membuat hati Sami tergetar. Meskipun dibalik itu semua, Sami tahu jika Jihan selalu berusaha menutupi keadaan ekonominya yang cukup memprihatinkan. Tanpa gadis itu tahu, Sami sudah menyelidiki semua seluk beluk tentang Jihan.
Tentang cerita hidupnya yang rumit. Tentang masa kecilnya yang menyedihkan. Tentang masa lalunya yang pilu dan tentang jalan hidupnya yang kini mulai penuh dengan dilema. Semua itu membuat rasa kasih di hati Sami kian tumbuh subur. Tanpa bisa menyangkal, Sami mulai menyayangi gadis itu. Ia sangat peduli. Ia tak bisa lagi tidak mengindahkan Jihan. Jujur, Sami kini mulai mencintai gadis itu. Setelah semua yang terjadi ia tak bisa lagi melepaskan Jihan.
"Ini terlalu berlebihan mas Sami. Ini nggak masuk akal. Aku nggak bisa menerimanya." Tolak Jihan. Ia berusaha menepis tangan Sami yang mencengkeram kedua pundak kecilnya. Kalimat yang baru saja dilontarkan pria itu terdengar cukup konyol di telinga. Hampir saja Jihan terbahak.
"Kamu pikir aku main-main? Aku nggak pernah becanda dengan ucapanku, Ji. Dengarkan aku baik-baik. Kamu keluar dari hidupmu yang sekarang. Datanglah padaku. Tinggallah bersamaku. Aku akan ada untukmu mulai detik ini."
"Mas pikir aku ini lelucon? Apa aku begitu gampangnya dimata kamu mas?" Jihan menatap manik mata Sami. Ia tak mau terlihat begitu murahan di mata lelaki itu. Tinggal bersama? Datang padanya? Ia pikir semudah itu untuk berhamburan masuk ke dalam pelukan lelaki itu? Bagaimana dengan keluarganya? Istri dan anaknya? Apa laki-laki ini sudah tak waras? Jihan menarik nafas yang mulai terasa berat. Entah kenapa hatinya kini terasa sesak. Dilema macam apa yang kini tengah melanda hidupnya?
"Siapa bilang aku menganggap kamu lelucon? Aku serius. Kamu jangan meragukan aku lagi."
"Tapi semua nggak segampang yang kamu bilang mas Sami. Hidupku sudah cukup rumit mas. Tolong jangan semakin membuatnya bertambah kacau."
"Justru itu aku membawa kamu kemari. Aku ingin kamu keluar dari rumitnya hidup kamu yang sekarang. Datanglah padaku. Jangan melarikan diri lagi. Kamu akan aman bersamaku. Setidaknya sampai kita pastikan kamu 'nggak sendirian'."
"Apa maksud kamu mas?" Jihan tercekat saat mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut Sami.
"Kamu tahu persis apa yang aku maksud."
Bagaimana kelanjutan rumitnya hubungan antara Sami dan Jihan???
*********TBC*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments