Sami menarik nafas panjang. Mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Ia merasa jenuh. Dokumen yang menumpuk ini seperti tidak ada habisnya. Pikirannya sudah mulai puyeng memikirkan banyaknya berkas-berkas yang harus ia tanda tangani sebagai pemilik perusahaan. Bisnis tekstil yang ia jalani membuatnya harus fokus untuk memperhatikan seluruh seluk beluk yang berkaitan dengan produk dan bahan tekstil beserta kualitasnya. Belum lagi kesejahteraan para pegawai dan beberapa pabrik yang ia miliki di beberapa kota besar. Ditambah lagi dengan masalah rumah tangganya dengan Nayla dan menghilangnya Jihan, membuat kepala Sami makin berdenyut. Apa yang harus ia lakukan? Kemana lagi ia harus mencari gadis itu? Ini sudah hampir lebih dari seminggu namun Jihan belum juga ia temukan. Sami membuang nafas kasar. Ia melepas kacamata yang bertengger manis di hidungnya yang bangir.
"GImana, Ki? Ada kabar terbaru?" Tanya Sami begitu teleponnya tersambung pada sang sekretaris. Sudah lebih dari tiga kali Sami menghubungi Riky untuk menanyakan kabar Jihan.
"Belum bos. Mereka masih mencari. Apa anda masih berada di kantor?" Riky balik bertanya. Harusnya ia sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu namun tetap saja tanya itu terlontar dari mulutnya. Rasa khawatir pada sang atasan membuat hatinya tidak tenang. Sudah beberapa hari ini ia perhatikan bos Sami selalu menenggelamkan diri pada pekerjaan. Hatinya pasti sangat galau karena memikirkan perempuan muda yang ditemuinya di tempat hiburan malam itu. Gadis LC yang telah berhasil mencuri separuh hatinya. Entah dimana gadis itu kini. Kenapa ia melarikan diri dari seorang laki-laki seperti bosnya yang banyak diincar oleh kaum hawa. Kalau bukan tidak waras pasti gadis itu sangat bodoh karena tak bisa melihat pesona seorang Sami Mahendra.
"Aku masih di kantor. Kalau ada kabar terbaru langsung aja kamu kabari." Tukas Sami sebelum mematikan sambungan telepon dari seluler.
"Oke bos." Jawaban terakhir Riky sebelum percakapan itu berakhir. Sami menghela nafas berat. Kepalanya makin pusing. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Sampai berapa lama ia harus bersabar menunggu kepastian untuk mendapatkan informasi tentang gadis itu. Jihan seperti hilang awan. Seolah lenyap di telan bumi. Kemana kira-kira ia bersembunyi? Sami yakin gadis itu tak akan bisa pergi jauh mengingat kesulitan hidup yang ia jalani.
Tanpa pikir panjang Sami melesat keluar kantor. Meninggalkan beberapa dokumen yang belum tuntas ia periksa. Otaknya sudah telanjur buntu karena telah dikuasai oleh Jihan. Detik itu juga Sami memutuskan untuk mencari sendiri keberadaan gadis itu. Ia tidak bisa tinggal diam dengan hanya menunggu seperti orang bodoh. Tempat pertama yang terbesit di kepalanya adalah gedung kosan Jihan yang lama. Ya. Sami akan mencari Jihan kesana. Ingin memeriksa sendiri keberadaan Jihan di kamar itu.
Dalam hitungan menit Sami sudah berhasil menapakkan kaki disana namun hasilnya nihil. Kamar itu sudah kosong. Tak ada lagi barang-barang Jihan satupun yang tersisa. Sami baru ingat kalau gadis itu sudah ia paksa pindah ke apartement dua minggu yang lalu. Tentu saja tak ada lagi jejak Jihan disana. Bodohnya Sami tak ingat hal itu.
Sami menghela nafas berat. Mencoba meraih ponsel untuk kembali menghubungi Jihan. Sedetik kemudian Sami mendengar kalimat operator yang menyatakan nomor yang dituju sedang berada diluar jangkauan. Ponsel gadis itu tak bisa dihubungi. Sudah pasti sengaja ia matikan agar Sami tak bisa menghubunginya. Dasar gadis bodoh. Sami merutuki Jihan dalam hati. Ia memukul stir mobil dengan tangannya karena tak mampu menahan kesal.
Pusing berputar-putar mengitari kawasan Menteng, Sami meluncur ke sebelah utara. Tak tahu ia harus kemana lagi mencari keberadaan Jihan. Mobilnya terus menelusuri kecamatan Gambir. Mengitari lapangan Merdeka. Melewati museum nasional dan museum Taman Prasasti. Sami terus menyusuri jalan Pecenongan yang ramai menyediakan berbagai hidangan klasik. Ia lalu berhenti pada satu sisi badan jalan tepat di sebuah kafe yang menyediakan menu ayam goreng. Entah kenapa ia jadi berselera saat melihat menu ayam yang tertera pada baliho kafe. Sami lantas turun dari kendaraannya lantaran mendadak merasa lapar.
"Terima kasih mbak." Ujar Sami setelah menerima bungkusan pesanan yang telah ia minta sebelumya. Ia lantas berbalik arah untuk segera pulang membawa ayam goreng penyet sambal ijo yang membuat selera makannya tiba-tiba naik drastis. Tak tahu kenapa mendadak saja ia ingin mencicipi menu sambal cabai ijo. Padahal biasanya ia tak suka. Saat akan keluar dari pintu masuk kafe, Sami tak sengaja menubruk seseorang. Hampir saja kantong plastik yang ia bawa jatuh terlempar.
"Oh maaf mas." Ujar gadis itu saat tersadar tak sengaja telah menyenggol seseorang. Ia langsung menunduk meminta maaf tanpa melihat siapa yang telah ia tabrak. Badan tegap itu terlalu jangkung sehingga ia tak berniat untuk mencari tahu wajah pria itu. Sami menoleh seketika saat mendengar suara lembut seorang gadis. Seperti tak asing di telinganya. Gadis yang memakai hoodie itu langsung berlalu begitu saja setelah mengatakan kalimat pendek itu namun sebelum sempat menjauh, Sami telah lebih dulu mencegat lengannya.
"Jihan??!!!"
"Mas Sam.." Jihan langsung tergagap. Matanya membulat. Ia langsung memberontak dari cengkraman tangan Sami. Berniat untuk kembali kabur. Tak menyangka pria itu menemukannya di tempat ini.
"Tunggu Jihan. Kamu jangan pergi lagi." Ujar Sami mencoba menahan tubuh ringkih itu.
"Lepasin mas. Tolong lepaskan aku." Ujar Jihan dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan genggaman tangan pria itu dari lengannya. Beberapa pasang mata kini memperhatikan adegan tarik-menarik duo sejoli itu. Beberapa diantaranya ada yang menatap mereka dengan tatapan aneh. Sami sudah tak peduli. Ia sudah cukup lega akhirnya tanpa sengaja bisa menemukan JIhan disini. Sepertinya alam semesta telah memberi restunya pada Sami untuk menemukan gadis itu setelah hampir gila seminggu lebih tak mampu melacak keberadaan Jihan. Hari ini apapun yang terjadi Sami tak akan melepaskannya.
Nggak bakalan. Mas nggak akan lepasin kamu. Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu melarikan diri dari mas? Apa kamu masih nggak mengerti juga kalau mas serius sama kamu. Kenapa kamu keras kepala seperti ini?" Sami menggenggam erat kedua pundak Jihan. Gadis itu menatap Sami dengan mata yang sudah merebak. Dadanya sudah terasa sesak. Ia sudah berusaha untuk lari dari Sami namun tetap saja pria itu bisa menemukannya.
"Kita nggak mungkin bersama mas. Aku nggak pantas buat kamu. Kamu juga nggak mungkin bisa bersama aku. Ingat mas, kamu nggak sendiri lagi. Kondisi kita sama-sama mustahil untuk menyatu." Ujar Jihan dengan suara yang mulai tergetar. Perih sekali rasanya menahan rasa sakit hati itu. Ia memang sengaja melarikan diri dari Sami karena yakin mereka tak akan mungkin bisa bersama. Ia berusaha membunuh rasa cinta yang juga sudah terlanjur bersemi setelah mereka tak sengaja berniat untuk melakukan hubungan terlarang itu. Namun Jihan kembali tersadar jika ia telah melakukan hal bodoh. Ia harus kembali menyadarkan diri menatap kenyataan jika hubungannya dengan pria beristri ini adalah suatu hal yang mustahil. Terlebih ia juga sudah terlanjur bekerja di tempat hiburan malam. Kenyataan pahit itu harus ia terima. Ia tak bisa memicingkan mata.
"Apanya yang nggak mungkin? Apa kamu lupa apa yang udah kita lakuin hah? Apa kamu lupa?" Sami menatap tajam pada manik mata gadis itu. Ia berusaha kembali untuk meronta.
"Lupakan aja mas. Lupain semuanya. Aku..." Belum sempat Jihan menyelesaikan kalimat bantahan tanpa diduga semuanya mendadak menjadi gelap.
"Jihan...Jihan" Sami panik seketika. Jihan limbung tak sadarkan diri dalam rengkuhan pria itu.
Apa yang terjadi dengan JIhan? Kenapa ia mendadak pingsan tak sadarkan diri??
********TBC*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments