"Sudah beberapa hari ini kamu libur, Ji. Aku pikir kamu nggak akan masuk lagi." Tukas Chika saat melihat sahabatnya berganti pakaian di ruang ganti. Jihan menoleh sekilas pada Chika. Gadis itu menatapnya dengan tatapan yang agak berbeda.
"Kamu kemana aja? Tumben liburnya lama?"
Jihan tersenyum tipis sambil menarik nafas pelan. "Aku lagi nggak enak badan, Chika. Lagi capek aja."
"Kamu sakit?" Chika memperhatikan Jihan lebih dekat. Wajah Jihan memang agak sedikit pucat. Kantung matanya terlihat agak membengkak. Bukan karena sakit. Jihan memang tidak enak badan tapi bukan karena sakit tapi karena stress memikirkan apa yang terjadi antara ia dan Sami. Lelaki dingin dengan sejuta pesona. Sosok yang telah membuat ia terbuai dalam pelukan lelaki yang telah beristri itu.
Jihan tersenyum kecut. Apa yang ia harapkan kini? Berharap pria itu benar dengar ucapannya tempo hari untuk bertanggung jawab? Berharap Sami akan menyelamatkannya dari masalah hidup yang tengah menghimpitnya kini?? Konyol sekali. Harusnya Jihan tidak semudah itu percaya. Harusnya ia memang tidak perlu percaya. Buktinya kini ia harus kembali pada pekerjaan terkutuk ini. Mau tidak mau ia kembali lagi ke tempat hiburan malam untuk melayani para tamu yang menatapnya dengan penuh nafsu. Penuh dengan tatapan gairah. Jihan menarik nafas panjang. Sepertinya Ia harus realistis menatap kehidupan. Buktinya kini ia berdiri disini untuk melanjutkan hidup. Ia harus bertahan dalam kenyataan pahit ini. Hidupnya sungguh tidak mudah. Desakan ekonomi yang setia menguntitnya seperti masih betah bertahan untuk terus mendesaknya ke dalam jurang nestapa.
"Beneran kok aku apa-apa, Chika?" Jihan meyakinkan sahabatnya sekali lagi. Berharap gadis itu mempercayai ucapannya.
"Kamu masih lama nggak?" Chika mendekati Jihan yang masih belum selesai mengganti pakaian.
"Iya masih agak lama." Jawab Jihan tanpa gairah.
Chika tampak mendesah pelan sembari merapikan kembali lipstick di bibirnya yang terasa sedikit agak berantakan. "Kalau gitu aku duluan masuk ya. Aku tinggal nggak apa-apa kan?"
"Ya udah sana gih duluan aja."
"Oh ya, Ji." Tukas Chika sesaat sebelum melangkah keluar dari pintu.
"Aku di VIP dua. Kamu di room mana?"
"Aku di room satu." Jawab Jihan setelah berfikir beberapa detik. Dilihatnya Chika kemudian melambaikan tangan sebelum berlalu.
Jihan kini menatap kembali wajahnya di depan cermin. Wajah ayunya memang tampak sedikit pucat. Kantung mata yang agak membengkak itu kemudian ia poles kembali dengan liquid concealer agar terlihat lebih normal. Bibirnya yang agak memucat ia bubuhkan sedikit pelembab dan lip tint untuk membuat wajahnya lebih segar. Setelah merasa lebih rapi dan segar, Jihan kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam room VIP satu sesuai jadwal shift yang ia dapatkan hari ini. Jihan sudah bersiap untuk bertugas melayani tamu karaokenya malam ini.
Jihan melangkah gontai memasuki ruangan VIP. Disana sudah menunggu klien paruh bawa yang sudah tampak tidak sabaran untuk ditemani. Jihan memberikan senyum manis sebagai sapaan hangat untuk sang tamu. Pria itu lalu meminta Jihan untuk menuangkan minuman. Jihan menuruti dengan cukup santai. Kemudian memilihkan beberapa lagu yang dirasa sesuai dengan selera klien. Setelah beberapa saat semua berjalan normal adanya tanpa ada gangguan namun tidak lama mendadak keadaan menjadi kacau.
Saat Jihan sedang asik bernyanyi, sebuah tangan mencengkram lengannya dengan erat. Lalu dalam hitungan detik menarik tubuh rampingnya keluar dari ruangan remang-remang itu. Jihan yang tak menyangka hanya bisa pasrah mengekori tanpa bisa melawan.
"Lepasin." Tukas Jihan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan pria itu saat mereka sudah berada jauh dari keramaian.
"Apa yang kamu lakuin di dalam sana hah?" Suara bariton serak milik Sami terdengar dingin di telinga Jihan. Ternyata pria itu yang telah menyeretnya keluar tiba-tiba saat tengah bertugas melayani klien. Jihan menarik nafas panjang berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang karena terkejut. Kenapa mendadak Sami datang mencarinya kemari?? Apa yang pria itu inginkan lagi darinya?
"Apa urusannya sama kamu? Kita nggak ada urusan lagi mas Sami. Kenapa kamu terus menggangguku? Kenapa kamu mengacaukan pekerjaanku?" Ujar Jihan dengan berusaha menahan rasa kesal. Ia sungguh tidak menyangka pria dingin ini kembali mencarinya. Genggaman tangan Sami akhirnya terlepas. Meninggalkan rasa sedikit kebas pada lengan gadis itu. Jihan meringis menahan nyeri. Ia mengusap-usap lengannya sembari menatap Sami dengan tatapan kesal.
"Aku udah bilang sama kamu untuk berhenti dari pekerjaan ini. Kenapa kamu nggak juga mengerti. Apa kamu nggak dengar apa yang aku bilang kemarin??Apa masih kurang jelas, Ji?" Tanya Sami dengan menatap tajam pada Jihan. Kilatan emosi dari mata elang itu membuat nyali Jihan sedikit menciut. Ia tertunduk sesaat lalu kembali menantang tatapan pria itu setelah rasa kesal kembali menguasai hati.
"Jangan konyol mas. Aku juga udah bilang sama kamu kita nggak ada urusan lagi. Tolong lupain aja apa yang udah terjadi. Biarkan aku tenang menjalani hidup aku. Jangan terus menguntit ku seperti ini, mas. Tolong." Ujar Jihan dengan setengah memohon. Rasanya kesabaran yang ia miliki sudah semakin menipis. Sami terus saja mengujinya dengan semua desakan itu.
"Nggak ada urusan kamu bilang?? Lupakan semuanya??" Tanya Sami dengan nada tanpa ekspresi. Ia lalu mendengus kasar saat mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan gadis itu. Apa gadis ini sudah tidak waras? Begitu mudahnya ia katakan untuk melupakan semua yang telah terjadi. Semua yang telah mereka lakukan beberapa hari yang lalu. Setelah Sami menidurinya. Mengambil sesuatu yang berharga dari gadis itu.
"Iya mas. Apa itu masih kurang jelas?" Jihan membalas kembali apa yang Sami katakan pada gadis itu sebelumnya. Kini semua terasa impas. Jihan menantang tatapan tajam mata elang itu. Ia tidak ingin takluk dengan begitu mudah pada lelaki yang nyaris tak cocok untuknya ini. Jihan cukup tahu diri. Sami terlalu sempurna. Tak mungkin rasanya untuk ia miliki. Apalagi ia hanya seorang gadis penghibur yang tanpa sengaja telah terlanjur berlumur dalam kubangan dunia malam.
"Bagaimana kalau kamu hamil? Bagaimana kalau benih aku udah ada dalam tubuh kamu? Apa kamu nggak memikirkan kemungkinan itu? Kenapa kamu nggak berfikir sampai kesana, hah?" Sami mencengkram pundak Jihan dengan kedua tangan kekarnya.
"Nggak mungkin mas. Kita hanya melakukannya sekali." Bantah Jihan cepat. Ia menolak menerima kemungkinan itu. Rasanya tak mungkin juga ia langsung hamil jika hanya melakukan itu sekali saja. Terasa sangat mustahil bagi Jihan.
"Kamu yakin nggak bakal hamil? Meskipun kemungkinannya kecil tapi tetap saja kemungkinan untuk itu ada. Kamu bisa saja hamil karena benihku sudah tertanam di tubuh kamu." Sami mencoba meyakinkan Jihan. Ia mengendurkan cengkraman tangannya dari pundak gadis manis itu.
"Nggak mungkin mas." Jihan seperti menggumam. Sejenak ia merasa ragu. Rasa takut akan kenyataan itu mulai merasukinya.
"Gimana kalau ternyata kamu hamil anakku? Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu masih akan menolak ku?" Tanya Sami dengan tatapan serius. Ia menatap wajah Jihan yang tampak mulai memucat.
"Mustahil mas." Jihan terus membantah. Ia menggeleng tidak percaya.
"Jangan terus menolak ku Jihan. Apa kamu ingin membuatku menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab? Kamu ingin membuatku menjadi pria pengecut? Itu mau kamu?" Sami mulai naik pitam.
"Tapi mas udah menikah. Bagaimana dengan keluarga mas? Istri mas?" Jihan akhirnya melempar pertanyaan itu. Hal itu yang menjadi pertimbangannya untuk terus menolak kehadiran Sami. Ia tahu pria itu bukan pria lajang. Sami sudah berkeluarga. Ia punya anak dan istri. Bagaimana dengan mereka? Jihan tidak mungkin mengabaikan fakta itu. Ia tidak mungkin menutup mata. Itu kenyataan pahit yang akan menjadi batu sandungan dalam hubungannya dengan Sami. Semua tidak akan mudah untuknya.
"Aku tetap akan bertanggung jawab. Kamu nggak usah pikirkan itu. Mari kita lihat kedepannya Jihan. Jika memang ternyata kamu hamil, kamu jangan menolak ku lagi. Kamu harus tetap bersamaku. Kamu nggak boleh melarikan diri lagi." Begitu tegas ucapan Sami. Wajah tampannya terlihat sangat dingin. Tak ada sama sekali keramahan tampak disana. Ia seolah tak mau adanya kompromi lagi. Jihan termangu. Badannya terasa lemas tanpa tenaga.
"Kamu dengar aku kan?"
"Mas..."
"Jangan membantah lagi."
Jihan dilema.
Bagaimana kelanjutan hubungan rumit yang terjalin diantara mereka???
*********TBC***********
"
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments