"Kamu dimana?"
Suara itu. Jihan termangu beberapa saat. Mencerna suara bariton milik siapa. Seperti mengenali tapi tidak ingat. Jihan berusaha untuk menerka-nerka tapi ia tidak mendapat bayangan.
"Anda siapa ya?" Tanya Jihan.
"Kamu Jihan kan?"
"Iya bener saya Jihan." Gadis itu membenarkan. Ia tidak berbohong. Sami tersenyum lega.
"Anda siapa?"
"Bisa kita ketemu? Aku mau minta maaf karena telah mencium kamu tempo hari." Tukas Sami tanpa ragu. Ia langsung menyatakan maksud hatinya pada gadis itu. Berharap Jihan bersedia untuk menemuinya kembali. Ia merasa bersalah karena telah melakukan hal konyol pada Jihan.
Astaga. Jihan tertegun. Itu suara dia. Pria dingin itu. Pelanggan yang tempo hari sempat ia layani di room service. Pria yang telah mencium paksa dirinya. Karena serangan mendadak dari pria itulah yang membuat Jihan merasa dilecehkan. Jihan terlalu shock. Ia tidak terima. Tanpa pikir panjang Jihan nekat meninggalkan lelaki itu tanpa permisi. Ia terlalu malu karena merasa tidak dihargai. Dicium paksa saat ia tengah bernyanyi.
"Anda...?" Suara Jihan terjeda. Ia tidak percaya. Pria dingin itu menghubunginya. Bagaimana bisa?
"Iya ini Aku. Sami. Pelanggan tempo hari. Kamu inget?"
"Anda tahu darimana nomor ponsel saya?" Tanya Jihan akhirnya. Ia tidak habis pikir darimana pria ini mendapatkan nomor handphonenya. Bagaimana ia bisa menghubungi Jihan? Gadis itu tidak merasa telah membagi nomor pribadinya pada orang lain selain untuk keperluan pekerjaan.
"Itu nggak penting Jihan. Yang penting bisa kita ketemu? Aku lagi di Star Kafe. Sengaja mau ketemu kamu tapi kamu nggak masuk. Udah tiga hari kamu libur. Apa itu karena aku?" Tanya Sami tanpa basa-basi. Ia nekat menanyakan langsung penyebab Jihan tidak masuk lagi untuk bekerja setelah hari itu. Sami yakin pasti ada hubungannya dengan insiden yang terjadi antara ia dan Jihan tempo hari. Pasti ada hubungannya dengan ciuman itu. Karena hal itu juga Sami jadi merasa bersalah. Terbayang kembali wajah pucat Jihan setelah ia menyerang gadis itu ketika tengah asik bernyanyi. Sami jadi tak enak hati.
"Bukan karena anda." Jawab Jihan dengan agak sedikit ketus. Rasa kesal itu kembali hadir saat ia mendengar pria itu mengakui apa yang telah ia lakukan. Bayangan bagaimana pria dingin itu menyerangnya dengan tiba-tiba berputar kembali di benak Jihan. Ia mendengus kesal. Sangat memalukan.
"Jangan terlalu formal, Jihan." Pinta Sami dengan nada tenang. Ciri khas pria itu. Ia tidak pernah menaikkan intonasinya saat bicara. Pun saat ia sedang kesal atau marah.
"Oke baiklah. Pak Sami."
"Panggil mas aja." Timpalnya lagi.
"Iya. Saya udah nggak inget lagi kejadian itu mas. Nggak usah dibahas. Jangan diperpanjang lagi." Ujar Jihan. Ia terpaksa berbohong. Demi apapun Jihan sungguh tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi tempo hari. Kejadian yang menurutnya sangat memalukan itu. Jihan bahkan tak sanggup lagi rasanya menghadapi pria itu. Apalagi untuk kembali ke sana. Jihan sudah tak sudi.
"Tapi saya mau minta maaf langsung sama kamu. Pengen ketemu kamu lagi, boleh??" Sami meminta dengan penuh harap. Ia tidak peduli meskipun terdengar sedikit memohon. Entah kenapa ia ingin sekali bertemu Jihan. Ia ingin kembali melihat wajah manis itu. Tak tahu apa yang terjadi dengan hatinya. Rasa rindu tiba-tiba saja datang menghampiri.
"Saya udah maafin kok mas. Udah saya lupain juga." Jihan langsung memberi jawaban. Ia berharap pria itu mengerti jika ia sudah menolak ajakan itu secara tak langsung. Meskipun sebenarnya ia belum bisa lupa.
"Tapi saya nggak bisa lupain yang terjadi tempo hari. Saya jadi merasa bersalah. Mau minta maaf langsung. Bisa kita ketemu lagi?" Sami seperti tidak mau menyerah begitu saja. Berharap Jihan mau menerima ajakannya. Meskipun hanya sebentar.
"Lupain aja mas, Sami."
"Please..."
Suara itu seperti memohon. Membuat Jihan mendadak menjadi merasa ragu. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menerima ajakan pria itu? Ataukah ia abaikan saja?
*******TBC*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments